Kamis, 05 Desember 2013

Cerpenku Organisasi



This is my story about my organitation..

WIRA STEMSA PRADANA


WE GET NEWS SPIRIT
ON TODAY
Karya : Iffah Linda Yuliana


Pagi ini pemandangan langit begitu mengagumkan. Bukan hanya langit biru yang terhampar luas diatas, ada sebuah awan putih yang mengalihkan perhatianku. Aku menghentikan langkahku menuju lapangan besar. Sedikit mendongak ke atas, menatap langit pagi ini.
Awan indah merangkai huruf yang terbaca BISA. Entah hanya imaginasiku atau memang benar adanya. Aku terpaku diam. Langkahku terus melaju menuju lapangan besar dengan kecepatan seperti semut berlari. Disamping kanan kiriku ramai dengan banyak siswa bergerombol menunggu waktu upacara dimulai. Mereka saling melempar senyum lalu berbincang dengan asyiknya. Aku hanya bisa melihat keramaian itu.
“Bisa ?” aku terus bertanya dalam hati.
Tiba di lapangan besar, diamku hilang. Aku dengan santainya menyapa beberapa temanku yang betugas bersamaku di upacara pagi hari ini. Disekolahku petugas upacara selalu anggota TONTI sepertiku. Mulai dari upacaraa biasa hingga upacara besar. Karena waktu dimulainya upacara masih cukup lama sekitar 30 menit, aku berbincang dengan teman-temanku yang juga menjadi teman-temanku diorganisasi yang aku ikuti. Seperti biasa aku membicarakan tentang kemjauan atau progress di organisasiku bersama mereka.
“Selamat ya..” aku mengulurkan tangan kananku kepada Yoga, salah satu temanku yang menjadi Komandan Pasukan Pleton putra di lomba Baris-berbaris kemarin.
Aku tahu kabar gembira di organisasiku.
Organisasiku adalah TONTI. Organisasi yang menjadi ekstrakulikuler juga di sekolahku. Organisasi TONTI yang ku ikuti sudah berdiri selama 20 tahun. Dan organisasi TONTI ini bukan hanya tempat untuk mencari teman dan menyalurkan bakat. Melainkan untuk menanamkan rasa kekeluargaan, kedisiplinan, dan hal positif lainnya. Banyak manfaat yang aku dapatkan di Organisasi ini. Banyak suka duka yang telah aku dan teman-teman lewati selama 2 tahun ini.
*Come Back*…
Kabar gembira itu adalah hasil lomba yang diikuti Organisasiku. Yaitu lomba Baris-berbaris se-DIY, tepatnya di Balaikota Timoho Yogyakarta. Lomba yang diikuti kemarin Minggu, 03 November 2013. Pleton Putra dengan komandan Suprayoga Erdin Wicaksono atau Yoga dari kelas XI TITL 1 yang mendapat nomor urut 3 dengan nomor dada 203. Dan pleton putri dengan komandan Novera Windiarti Agastia atau Novera dari kelas XI TITL 3 yang mendapat nomor urut 15 dengan nomor dada 232. TITIL (TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK) adalh salah satu kejuruan di sekolahku.
Salah satu kabar gembira meluncur pesat di angakatan ku. Bukan junior dan senior. Berita itu berkaitan dengan Yoga yang berhasil mendapatkan juara 3 Komandan Pasukan dari 32 pesaing. Bukan hanya Yoga yang patut berbangga. Melainkan Pleton putra-putri juga.
Setelah tahun lalu pleton putra hanya bisa meraih peringkat 14, sekarang mereka berhasil menyabet peringkat 6 dari 32 Pleton inti di berbagai sekolah  SMA/sederajat DIY. Sementara aku dan teman-temanku di pleton putrid pada tahun lalu mendapat peringkat 20, sekarang berhasil masuk 15 besar. Yaitu peringkat 14 dari 41 Pleton dari berbagai sekolah SMA/sederajat di DIY. Alhamdulillah.. Tuhan memberikan jawaban baik kepadaku dan teman-teman organisasiku. Untuk Komandan Pasukan putri tak mau kalah. Namanya Novera, dia merupakan DanPas dadakan. Karena temanku yang awalnya menjadi DanPas di kelas X, sekarang menghilang begitu saja. Mungkin belum punya rasa tanggung jawab. Dia hanya mengandalkan omongannya, tapi tak mau bertindak untuk memberikan bukti.
 Eh.. kembali ke Novera, Alhamdulillah dia berhasil meraih posisi ke-18 dari 41 DanPas yang ada. Begitu amazing…
“Terima kasih”
Yoga membalas ucapanku dengan sigap. Tangannya tidak menjabat tanganku yang sudah terulur didepannya. Dia menjaga jarak dengan wanita dan dia salah satu sosok siswa alim di Organisasiku.
***
Seperti biasanya, aku bertugas membaca doa. Suaraku yang sedikit cempreng lumayan bisa memikat hati para pendengar… biasanya. Aku berdiri disamping teman-temanku dan para siswa yang bertugas menyanyi. Ke 2 temanku yang berada disamping kananku bertugas membaca UUD 1945 dan Ikrar/janji siswa. Sementara pasukan paduan suara disamping kiriku berasal dari beberapa siswa kelas X Multimedia.
Yoga menjadi pemimpin upacara pagi ini. Sementara yang lain bertugas seperti biasanya.
***
Selesai upacara. Alhamdulillah upacara berjalan lancar. Pembina TONTI bersama teman-teman dan kakak senior sedang berbincang dengan Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan. Mereka terlihat serius dan sedikit senyuman terpapang dari raut kakak senior dan teman-temanku.
Aku bahagia. Organisasiku diberikan hadiah dari sekolah berupa seragam, sepatu, dan topi. Hadiah itu diberikan kepada TONTI setelah keberhasilan di PPI. Pak Nuri selaku Pembina organisasiku meminta hadiah kepada sekolah melalui bapak Wakasek (Wakil Kepala Sekolah). Aku dan lainnya sangat senang mendengar kabar baik ini. Sekolah memberikan hadiah ? baru kali ini aku tahu.
Organisasiku banyak diperbincangkan oleh para guru termasuk saat ada pertemuan antara Kepala Sekolah dengan para guru. Banyak keluhan yang terdengar hingga ke telinga ku dan teman-teman. Seperti :
1.      Tonti itu selalu pulang sore tidak sesuai dengan peraturan sekolah.
2.      Tonti itu banyak habisin tenaga dan waktu
3.      Tonti itu belum pernah memberikan yang terbaik untuk sekolah
4.      Dan lainnya…

Sejujurnya aku merasa sedih mendengar keluhan mereka. Mereka begitu antusias membahas organisasiku. Padahal mereka tidak mengetahui ada apa saja di organisasiku. Mereka seperti colonial belanda. Yang mau merasakan hasil baik, tetapi untuk proses menuju hasil baiknya mereka enggan untuk turun tangan.
Sekolahku tidak terlalu mendukung TONTI. Mereka seolah-olah gelap mata. Saat keberhasilan itu datang, mereka baru membuka mata melihat aku dan teman-teman. Tetapi saat lelah kami melanda dan keburukan datang mereka memjamkan mata. Menolak permintaan tolong kami. Sungguh memprihatinkan.
Aku mendapat banyak pelajaran baru dari TONTI. Disini aku tidak hanya berbaris berpanas-panasan, tapi juga merasakan rasa kekeluargaan dan kedisiplinan. Salah satu bukti adalah saat berisitirahat diacara pelatihan. Istirahat sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah shalat ashar, aku bersama teman-teman duduk dan meluruskan kaki masing-masing. Sebelum minum, salah seorang memimpin doa didepan. Untuk berdiri atau duduk, kami harus meminta izin dulu atau menuruti perintah senior untuk duduk. Jika melanggar maka kakak senior tak segan untuk memberikan hukuman seperti push-up.
Push-up bukan hal melelahkan untukku dan teman-teman. Aku dan mereka sudah terbiasa melakukan itu. Memberikan kekuatan untuk fisik kami, walaupun melelahkan. Selain itu hukuman itu bukan hanya sekedar emosi kakak senior. Melainkan untuk kedisiplinan. Supaya jera melanggar peraturan yang ada.
Saat istirahat, aku dan teman-teman hanya minum tidak makan. Biasanya 1 botol aqua berukuran 1.5 liter diberikan untuk 1 shaf bahkan untuk semuanya. Hal itu tidak membuat ku dan teman-teman kecewa, melainkan memberikan nilai keikhlasan. Saat meminum air itu, kami tidak semena-mena. Kami masih memikirkan teman kami disamping yang juga kehausan. Dari sini, nilai kehidupan juga didapati. Aku merasakan saat para gelandangan menahan haus hingga berhari-hari. Saat mendapat setetes saja air, membuat kerongkongan kering ini terbasahi dan kembali segar. Walau hanya setetes.
Tidak hanya nilai ikhlas, ada juga nilai berbagi kepada yang lain. Berbagi minuman 1 botol yang sebenarnya ingin dihabiskan sendiri. Berbagi dengan ikhlas. Dari keikhlasan dan rasa berbagi ini, rasa kekeluargaan dan kebersamaan ditanamkan.
***
Upacara selesai. Para siswa dan guru dibubarkan lalu ruangan masing-masing. Aku dan teman-temanku tetap berada di lapangan besar. Mengadakan evaluasi setelah upacara. Saat evaluasi banyak kesalahan petugas diutarakan. Sepertiku yang menjadi pembaca. Mulai dari intonasi, jeda dan sikap.
Akhirnya aku dan teman-teman memutuskan hukuman untuk kesalahan yang telah kami perbuat saat bertugas. Push-up 3 seri atau 30 kali. Hal yang tidak terlalu melelahkan. Melainkan memberikan semangat.
Setelah hukuman dijalani, aku dan teman-teman bergegas pergi. Tetapi sebelumnya kakak senior meminta tolong kepadaku dan teman-teman. Mereka menugaskan kami membuat rekapan data palsu untuk hasil perlombaan kemarin.
Pleton putra yang mendapat peringkat 6 dari atas, diubah menjadi peringkat 6 dari bawah. Pleton putri juga. Walaupun aku sedikit ragu tetapi aku tetap menjalankan tugas dari senior. Sebenarnya aku dan teman-temanku adalah senior, karena kami sudah duduk di kelas XI.. Tetapi masih ada kakak diatas kami. Dan nantinya rekapan palsu itu digunakan untuk memberikan sedikit uji mental kepada junior.
***
Jam pulang. Pukul 13.00 WIB
19 junior sudah berbaris di lapangan basket. Sementara aku bersama temanku Yudha masih membuat rekapan palsu di basecamp TONTI. Pukul 13.45 aku bersama Yudha selesai mengerjakan rekapan palsu. Rekapan palsu itu aku serahkan kepada salah satu kakak senior.
Kemudian aku dan Yudha masuk ke barisan senior (teman-temanku satu angkatan).
Aku melihat wajah para junior yang terlihat sedih karena gertakan para senior. Aku mamasang wajah sedihku (Pura-Pura sedih karena skenario). Kakak senior memperlihatkan rekapan palsu kepada salah satu junior putri lalu dibacakannya.
“Pleton putri peringkat 27 dan pleton puta peringkat 25”
 Salah seorang junior membaca rekapan palsuku. Dia terlihat kecewa dengan hasil itu. Walaupun sebenarnya itu palsu (Kan mereka belum tahu… hehehe). Matanya merah karena usai menangis.
Aku tersenyum tipis kepada kakak senior. Aku dan teman-teman begitu pandai akting sedih didepan junior. Kakak senior terus menerus memberikan uji mental berupa gertakan bertubi-tubi. Aku dan teman-teman tertunduk. Berpura-pura menahan tangis.
“Maafkan kami kak”       
Novera berpura-pura meminta maaf kepada kakak senior
“Terlambat dek !!! “
Kakak senior menjawab sadis permintaan maaf temanku (Akting)
Aku mealnjutkan skearionya. Aku berpura-pura menangis, padahal air mataku tidak keluar. Aku tersedu-sedu.
***
Pukul 14.05 WIB
Skenario berakhir membahagiakan. Kakak senior menunjukkan Rekapan Hasil Lomba yang asli kepada junior. Sedikit membuatku lega atas kebohongan tadi. Selanjutnya, aku dan teman-teman menyalami junior dan memberikan semangat kepada mereka.
Mayoritas dari teman-temanku memberikan ucapan selamat dan semangat kepada junior. Sedangkan aku berusaha memberikan mereka keberanian untuk terus maju ke depan membawa TONTI lebih baik.
Sebelum pulang. Aku, teman-teman, kakak senior dan para junior berkumpul menjadi satu. Berdempetan dan mengulurkan salah satu tangan masing-masing ke 1 titik. Dan berteriak keras bersemangat.
“W-S-P Jayaaaaa”
Kami bersorak gembira. Merayakan kebahagiaan yang menjadi keberhasilan kami setelah usaha keras kami. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing dengan semangat baru.
Terimakasih Tuhan. Hari ini hari yang membahagiakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar