This is my story about my organitation..
WIRA
STEMSA PRADANA
WE GET NEWS
SPIRIT
ON TODAY
Karya : Iffah Linda Yuliana
Pagi ini
pemandangan langit begitu mengagumkan. Bukan hanya langit biru yang terhampar
luas diatas, ada sebuah awan putih yang mengalihkan perhatianku. Aku
menghentikan langkahku menuju lapangan besar. Sedikit mendongak ke atas,
menatap langit pagi ini.
Awan indah
merangkai huruf yang terbaca BISA. Entah hanya imaginasiku atau memang benar
adanya. Aku terpaku diam. Langkahku terus melaju menuju lapangan besar dengan
kecepatan seperti semut berlari. Disamping kanan kiriku ramai dengan banyak
siswa bergerombol menunggu waktu upacara dimulai. Mereka saling melempar senyum
lalu berbincang dengan asyiknya. Aku hanya bisa melihat keramaian itu.
“Bisa ?” aku
terus bertanya dalam hati.
Tiba di lapangan
besar, diamku hilang. Aku dengan santainya menyapa beberapa temanku yang
betugas bersamaku di upacara pagi hari ini. Disekolahku petugas upacara selalu
anggota TONTI sepertiku. Mulai dari upacaraa biasa hingga upacara besar. Karena
waktu dimulainya upacara masih cukup lama sekitar 30 menit, aku berbincang
dengan teman-temanku yang juga menjadi teman-temanku diorganisasi yang aku
ikuti. Seperti biasa aku membicarakan tentang kemjauan atau progress di
organisasiku bersama mereka.
“Selamat ya..”
aku mengulurkan tangan kananku kepada Yoga, salah satu temanku yang menjadi
Komandan Pasukan Pleton putra di lomba Baris-berbaris kemarin.
Aku
tahu kabar gembira di organisasiku.
Organisasiku
adalah TONTI. Organisasi yang menjadi ekstrakulikuler juga di sekolahku. Organisasi
TONTI yang ku ikuti sudah berdiri selama 20 tahun. Dan organisasi TONTI ini
bukan hanya tempat untuk mencari teman dan menyalurkan bakat. Melainkan untuk menanamkan
rasa kekeluargaan, kedisiplinan, dan hal positif lainnya. Banyak manfaat yang
aku dapatkan di Organisasi ini. Banyak suka duka yang telah aku dan teman-teman
lewati selama 2 tahun ini.
*Come
Back*…
Kabar gembira itu
adalah hasil lomba yang diikuti Organisasiku. Yaitu lomba Baris-berbaris
se-DIY, tepatnya di Balaikota Timoho Yogyakarta. Lomba yang diikuti kemarin
Minggu, 03 November 2013. Pleton Putra dengan komandan Suprayoga Erdin
Wicaksono atau Yoga dari kelas XI TITL 1 yang mendapat nomor urut 3 dengan
nomor dada 203. Dan pleton putri dengan komandan Novera Windiarti Agastia atau
Novera dari kelas XI TITL 3 yang mendapat nomor urut 15 dengan nomor dada 232.
TITIL (TEKNIK INSTALASI TENAGA LISTRIK) adalh salah satu kejuruan di sekolahku.
Salah satu kabar
gembira meluncur pesat di angakatan ku. Bukan junior dan senior. Berita itu
berkaitan dengan Yoga yang berhasil mendapatkan juara 3 Komandan Pasukan dari
32 pesaing. Bukan hanya Yoga yang patut berbangga. Melainkan Pleton putra-putri
juga.
Setelah tahun
lalu pleton putra hanya bisa meraih peringkat 14, sekarang mereka berhasil
menyabet peringkat 6 dari 32 Pleton inti di berbagai sekolah SMA/sederajat DIY. Sementara aku dan
teman-temanku di pleton putrid pada tahun lalu mendapat peringkat 20, sekarang
berhasil masuk 15 besar. Yaitu peringkat 14 dari 41 Pleton dari berbagai
sekolah SMA/sederajat di DIY. Alhamdulillah.. Tuhan memberikan jawaban baik
kepadaku dan teman-teman organisasiku. Untuk Komandan Pasukan putri tak mau
kalah. Namanya Novera, dia merupakan DanPas dadakan. Karena temanku yang
awalnya menjadi DanPas di kelas X, sekarang menghilang begitu saja. Mungkin
belum punya rasa tanggung jawab. Dia hanya mengandalkan omongannya, tapi tak
mau bertindak untuk memberikan bukti.
Eh.. kembali ke Novera, Alhamdulillah dia
berhasil meraih posisi ke-18 dari 41 DanPas yang ada. Begitu amazing…
“Terima kasih”
Yoga membalas
ucapanku dengan sigap. Tangannya tidak menjabat tanganku yang sudah terulur
didepannya. Dia menjaga jarak dengan wanita dan dia salah satu sosok siswa alim
di Organisasiku.
***
Seperti biasanya,
aku bertugas membaca doa. Suaraku yang sedikit cempreng lumayan bisa memikat
hati para pendengar… biasanya. Aku berdiri disamping teman-temanku dan para
siswa yang bertugas menyanyi. Ke 2 temanku yang berada disamping kananku
bertugas membaca UUD 1945 dan Ikrar/janji siswa. Sementara pasukan paduan suara
disamping kiriku berasal dari beberapa siswa kelas X Multimedia.
Yoga menjadi
pemimpin upacara pagi ini. Sementara yang lain bertugas seperti biasanya.
***
Selesai upacara.
Alhamdulillah upacara berjalan lancar. Pembina TONTI bersama teman-teman dan
kakak senior sedang berbincang dengan Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan.
Mereka terlihat serius dan sedikit senyuman terpapang dari raut kakak senior
dan teman-temanku.
Aku bahagia.
Organisasiku diberikan hadiah dari sekolah berupa seragam, sepatu, dan topi.
Hadiah itu diberikan kepada TONTI setelah keberhasilan di PPI. Pak Nuri selaku
Pembina organisasiku meminta hadiah kepada sekolah melalui bapak Wakasek (Wakil
Kepala Sekolah). Aku dan lainnya sangat senang mendengar kabar baik ini. Sekolah
memberikan hadiah ? baru kali ini aku tahu.
Organisasiku
banyak diperbincangkan oleh para guru termasuk saat ada pertemuan antara Kepala
Sekolah dengan para guru. Banyak keluhan yang terdengar hingga ke telinga ku
dan teman-teman. Seperti :
1.
Tonti itu selalu pulang sore tidak sesuai
dengan peraturan sekolah.
2.
Tonti itu banyak habisin tenaga dan waktu
3.
Tonti itu belum pernah memberikan yang
terbaik untuk sekolah
4.
Dan lainnya…
Sejujurnya aku
merasa sedih mendengar keluhan mereka. Mereka begitu antusias membahas
organisasiku. Padahal mereka tidak mengetahui ada apa saja di organisasiku.
Mereka seperti colonial belanda. Yang mau merasakan hasil baik, tetapi untuk
proses menuju hasil baiknya mereka enggan untuk turun tangan.
Sekolahku tidak
terlalu mendukung TONTI. Mereka seolah-olah gelap mata. Saat keberhasilan itu
datang, mereka baru membuka mata melihat aku dan teman-teman. Tetapi saat lelah
kami melanda dan keburukan datang mereka memjamkan mata. Menolak permintaan
tolong kami. Sungguh memprihatinkan.
Aku mendapat
banyak pelajaran baru dari TONTI. Disini aku tidak hanya berbaris
berpanas-panasan, tapi juga merasakan rasa kekeluargaan dan kedisiplinan. Salah
satu bukti adalah saat berisitirahat diacara pelatihan. Istirahat sekitar pukul
16.00 WIB. Setelah shalat ashar, aku bersama teman-teman duduk dan meluruskan
kaki masing-masing. Sebelum minum, salah seorang memimpin doa didepan. Untuk
berdiri atau duduk, kami harus meminta izin dulu atau menuruti perintah senior
untuk duduk. Jika melanggar maka kakak senior tak segan untuk memberikan
hukuman seperti push-up.
Push-up bukan hal
melelahkan untukku dan teman-teman. Aku dan mereka sudah terbiasa melakukan
itu. Memberikan kekuatan untuk fisik kami, walaupun melelahkan. Selain itu hukuman
itu bukan hanya sekedar emosi kakak senior. Melainkan untuk kedisiplinan.
Supaya jera melanggar peraturan yang ada.
Saat istirahat,
aku dan teman-teman hanya minum tidak makan. Biasanya 1 botol aqua berukuran
1.5 liter diberikan untuk 1 shaf bahkan untuk semuanya. Hal itu tidak membuat ku
dan teman-teman kecewa, melainkan memberikan nilai keikhlasan. Saat meminum air
itu, kami tidak semena-mena. Kami masih memikirkan teman kami disamping yang
juga kehausan. Dari sini, nilai kehidupan juga didapati. Aku merasakan saat
para gelandangan menahan haus hingga berhari-hari. Saat mendapat setetes saja
air, membuat kerongkongan kering ini terbasahi dan kembali segar. Walau hanya
setetes.
Tidak hanya nilai
ikhlas, ada juga nilai berbagi kepada yang lain. Berbagi minuman 1 botol yang
sebenarnya ingin dihabiskan sendiri. Berbagi dengan ikhlas. Dari keikhlasan dan
rasa berbagi ini, rasa kekeluargaan dan kebersamaan ditanamkan.
***
Upacara selesai.
Para siswa dan guru dibubarkan lalu ruangan masing-masing. Aku dan teman-temanku
tetap berada di lapangan besar. Mengadakan evaluasi setelah upacara. Saat
evaluasi banyak kesalahan petugas diutarakan. Sepertiku yang menjadi pembaca. Mulai
dari intonasi, jeda dan sikap.
Akhirnya aku dan
teman-teman memutuskan hukuman untuk kesalahan yang telah kami perbuat saat
bertugas. Push-up 3 seri atau 30 kali. Hal yang tidak terlalu melelahkan. Melainkan
memberikan semangat.
Setelah hukuman
dijalani, aku dan teman-teman bergegas pergi. Tetapi sebelumnya kakak senior
meminta tolong kepadaku dan teman-teman. Mereka menugaskan kami membuat rekapan
data palsu untuk hasil perlombaan kemarin.
Pleton putra yang
mendapat peringkat 6 dari atas, diubah menjadi peringkat 6 dari bawah. Pleton
putri juga. Walaupun aku sedikit ragu tetapi aku tetap menjalankan tugas dari
senior. Sebenarnya aku dan teman-temanku adalah senior, karena kami sudah duduk
di kelas XI.. Tetapi masih ada kakak diatas kami. Dan nantinya rekapan palsu itu
digunakan untuk memberikan sedikit uji mental kepada junior.
***
Jam pulang. Pukul
13.00 WIB
19 junior sudah
berbaris di lapangan basket. Sementara aku bersama temanku Yudha masih membuat
rekapan palsu di basecamp TONTI. Pukul 13.45 aku bersama Yudha selesai
mengerjakan rekapan palsu. Rekapan palsu itu aku serahkan kepada salah satu
kakak senior.
Kemudian aku dan
Yudha masuk ke barisan senior (teman-temanku satu angkatan).
Aku melihat wajah
para junior yang terlihat sedih karena gertakan para senior. Aku mamasang wajah
sedihku (Pura-Pura sedih karena skenario). Kakak senior memperlihatkan rekapan
palsu kepada salah satu junior putri lalu dibacakannya.
“Pleton putri
peringkat 27 dan pleton puta peringkat 25”
Salah seorang junior membaca rekapan palsuku.
Dia terlihat kecewa dengan hasil itu. Walaupun sebenarnya itu palsu (Kan mereka
belum tahu… hehehe). Matanya merah karena usai menangis.
Aku tersenyum
tipis kepada kakak senior. Aku dan teman-teman begitu pandai akting sedih
didepan junior. Kakak senior terus menerus memberikan uji mental berupa
gertakan bertubi-tubi. Aku dan teman-teman tertunduk. Berpura-pura menahan
tangis.
“Maafkan
kami kak”
Novera
berpura-pura meminta maaf kepada kakak senior
“Terlambat dek
!!! “
Kakak senior
menjawab sadis permintaan maaf temanku (Akting)
Aku mealnjutkan
skearionya. Aku berpura-pura menangis, padahal air mataku tidak keluar. Aku
tersedu-sedu.
***
Pukul 14.05 WIB
Skenario berakhir
membahagiakan. Kakak senior menunjukkan Rekapan Hasil Lomba yang asli kepada
junior. Sedikit membuatku lega atas kebohongan tadi. Selanjutnya, aku dan
teman-teman menyalami junior dan memberikan semangat kepada mereka.
Mayoritas dari
teman-temanku memberikan ucapan selamat dan semangat kepada junior. Sedangkan
aku berusaha memberikan mereka keberanian untuk terus maju ke depan membawa
TONTI lebih baik.
Sebelum pulang.
Aku, teman-teman, kakak senior dan para junior berkumpul menjadi satu.
Berdempetan dan mengulurkan salah satu tangan masing-masing ke 1 titik. Dan
berteriak keras bersemangat.
“W-S-P Jayaaaaa”
Kami bersorak
gembira. Merayakan kebahagiaan yang menjadi keberhasilan kami setelah usaha
keras kami. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing dengan semangat
baru.
Terimakasih Tuhan. Hari ini hari yang
membahagiakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar