Selasa, 01 April 2014

Cerpen Kisah Nyata : Akhir Dari Kebohongan




Sebuah kisah nyata yang dituangkan salam bentuk karya satra berupa Cerpen.

Karya : Iffah Linda Yuliana
Judul : Akhir Dari Kebohongan




@Home pukul 16.00 WIB
“Bund... aku minta uang 10.000 ya, buat beli Modul LKS !” teriak Aini dari dalam kamarnya. Bunda bersantai diruang tamu dengan posisi tidurnya yang cukup nyaman. Mendengar teriakan putri sulungnya, Bunda hanya terdiam. Sudah biasa Aini meminta sesuatu dadakan yang membuat keuangan keluarga menjadi bertambah berat.
“Bund.. !!” tidak mendapat respon dari bundanya, Aini bergegas keluar kamar dengan wajah kesal. Membanting pintu kamar sekeras-kerasnya. “Bunda... !! Boleh kan ?” ketusnya.
“Uang jajan kemarin masih kan ?” sahut Bunda ramah lantas duduk menatap Aini.
“50.000 itu ? Kan itu buat urusan pribadi Aini ? Jangan dicampur sama keperluan sekolah dong bund !” keluh Aini lagi mendengar Bundanya mengungkit jatah uang jajannya 50.000 / minggu itu. Maklumlah, Aini terlalu dimanjakan oleh Ayah dan Bunda.
Esok harinya
“Mana uangnya bund ?” sebelum berpamitan, tidak lupa Aini menagih uang ke Bunda.
“Digunain baik-baik ! Bunda gak mau kamu boros nak. Minimun bisa seperti adikmu, uang tabungannya selama tiga tahun ini hampir lima juta. Kamu harus lebih ya ?” semangat Aini pagi ini memudar setelah mendengar teguran Bunda. Tepatnya karena bunda lagi-lagi membandingkannya dengan si adik, Arin.
“Aini berangkat ke sekolah dulu. Assalamualaikum.. salam untuk Ayah ya Bund !”
“Waalaikumussalam. Ada barang yang tertinggal tidak ?” || “Enggak..” || “Hati-hati dijalan Aini !” Bunda melambaikan tangannya melepas keberangkatan putri sulung yang sangat diharapkannya. Untuk masa depan dan untuk tauladan putri bungsunya, Arin.
Selang beberapa menit kemudian, Arin berangkat ke sekolah. Kali ini Ayah sudah berada di rumah usai memberi makan sapi.
“Arin mau berangkat ke sekolah, Bund” Arin berdiri tepat dihadapan Bunda menuntun sepeda. “Ada barang yang tertinggal ?” tanya Ayah. “Em..sepertinya tidak”.
Menyadari bahwasanya Arin hari ini akan melaksanakan Ujian Sekolah tingkat SMP, Ayah berkeinginan memberikan uang lebih untuk Arin membeli makanan disekolah. “Ini uang untuk membeli makan disekolah, sayang ! Kamu beberapa hari ini sering puasa kan ? Jadi hari ini harus kenyang !” . Arin menanggapi Ayah dengan senyuman “Tidak perlu, Ayah. Uang jajan Arin sudah cukup. Assalamualaikum” .
“waalaikumussalam” || Ayah kembali memasukkan uang dengan nominal 50.000 ke dalam sakunya. Sedangkan Bunda masih berfokus melepas keberangkatan Arin.
@School pukul 14.00 WIB
“Jadi makan bareng kan ??” seorang teman Aini bernama Gina mengagetkan Aini yang sibuk mencari sesuatu didalam tasnya. “Bentar..” sahut Aini gugup sembari mendengus kesal dalam hatinya uangku kemana ini ? 10.000 tambahan dari bunda kok gak ada ?
“Udah ah. Aku duluan ke Funny Resto ya sama Adi dan Deny. Kalau kamu mau ikut, nyusul aja. Sampai nanti” menunggu Aini mencari sesuatu selama lima menit membuat Gani bosan dan akhirnya meninggalkan Aini sendirian didalam kelas masih dengan wajah kesal.
“Kemana ini uangku ?” || “Uangmu haram dek ! Itu uang untuk membeli modul kan ?”
Suara seorang siswa membuat Aini semakin kesal. Ucapan siswa bernama Rano memprovokatori kemarahan besar Aini. “Loe diem aja !!” bentak Aini, emosinya memuncak.
“Aku baru inget ! uang seratus ribu minggu kemarin dari Ayah kemana lagi ? Masa’ 110.000 tenggelam begitu aja ?” teringat dengan uang pemberian Ayah untuknya, Aini semakin menjadi-jadi berkelabut amarah. Uang seratus ribu yang rencananya digunakannya membeli jaket kelas namun karena berbohong dengan alasan untuk menabung kini uangnya lenyap dengan mudahnya.
“Sepandai-pandainya kamu membodohi Ayah dan Bunda-mu, semakin besar pula balasan Tuhan untukmu Ni ! ini buktinya.. Tuhan tidak meridhai” Rano lanjut berceramah. Mendengar ceramah Rano, Aini semakin jengkel dan akhirnya mengusir Rano “Pergi loe ! Cepet enyah dari sini !” || “Baiklah... selamat mencari ! Semoga Tuhan meridhai”.
@Home  “Maaf Bund. Uang Aini 110.000 hilang dengan gitu aja ditas. Apa karena Aini bohong ?” diruang tamu akhirnya Aini mengungkapkan kebohongannya. Menyesali perbuatannya.
“Yang terpenting kamu sudah sadar, sayang. Uang bisa dicari namun kejujuran tidak mudah diungkapkan. Bunda sangat menghargai kejujuranmu.” Detik itulah Aini mulai memahami arti “Kejujuran”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar