Sebuah kisah nyata yang dituangkan salam bentuk karya satra berupa Cerpen.
Karya : Iffah Linda Yuliana
Judul : Akhir Dari Kebohongan
@Home pukul 16.00 WIB
“Bund...
aku minta uang 10.000 ya, buat beli Modul LKS !” teriak Aini dari dalam kamarnya. Bunda bersantai
diruang tamu dengan posisi tidurnya yang cukup nyaman. Mendengar teriakan putri
sulungnya, Bunda hanya terdiam. Sudah biasa Aini meminta sesuatu dadakan yang
membuat keuangan keluarga menjadi bertambah berat.
“Bund..
!!” tidak mendapat respon
dari bundanya, Aini bergegas keluar kamar dengan wajah kesal. Membanting pintu
kamar sekeras-kerasnya. “Bunda... !!
Boleh kan ?” ketusnya.
“Uang
jajan kemarin masih kan ?” sahut
Bunda ramah lantas duduk menatap Aini.
“50.000
itu ? Kan itu buat urusan pribadi Aini ? Jangan dicampur sama keperluan sekolah
dong bund !” keluh Aini lagi
mendengar Bundanya mengungkit jatah uang jajannya 50.000 / minggu itu.
Maklumlah, Aini terlalu dimanjakan oleh Ayah dan Bunda.
Esok
harinya
“Mana
uangnya bund ?” sebelum
berpamitan, tidak lupa Aini menagih uang ke Bunda.
“Digunain
baik-baik ! Bunda gak mau kamu boros nak. Minimun bisa seperti adikmu, uang
tabungannya selama tiga tahun ini hampir lima juta. Kamu harus lebih ya ?” semangat Aini pagi ini memudar setelah
mendengar teguran Bunda. Tepatnya karena bunda lagi-lagi membandingkannya
dengan si adik, Arin.
“Aini
berangkat ke sekolah dulu. Assalamualaikum.. salam untuk Ayah ya Bund !”
“Waalaikumussalam.
Ada barang yang tertinggal tidak ?” ||
“Enggak..” || “Hati-hati dijalan Aini !” Bunda
melambaikan tangannya melepas keberangkatan putri sulung yang sangat
diharapkannya. Untuk masa depan dan untuk tauladan putri bungsunya, Arin.
Selang beberapa menit
kemudian, Arin berangkat ke sekolah. Kali ini Ayah sudah berada di rumah usai
memberi makan sapi.
“Arin
mau berangkat ke sekolah, Bund” Arin
berdiri tepat dihadapan Bunda menuntun sepeda. “Ada barang yang tertinggal ?” tanya Ayah. “Em..sepertinya tidak”.
Menyadari bahwasanya
Arin hari ini akan melaksanakan Ujian Sekolah tingkat SMP, Ayah berkeinginan
memberikan uang lebih untuk Arin membeli makanan disekolah. “Ini uang untuk membeli makan disekolah,
sayang ! Kamu beberapa hari ini sering puasa kan ? Jadi hari ini harus kenyang
!” . Arin menanggapi Ayah dengan senyuman “Tidak perlu, Ayah. Uang jajan Arin sudah cukup. Assalamualaikum” .
“waalaikumussalam”
|| Ayah kembali
memasukkan uang dengan nominal 50.000 ke dalam sakunya. Sedangkan Bunda masih
berfokus melepas keberangkatan Arin.
@School pukul 14.00 WIB
“Jadi
makan bareng kan ??” seorang
teman Aini bernama Gina mengagetkan Aini yang sibuk mencari sesuatu didalam
tasnya. “Bentar..” sahut Aini gugup
sembari mendengus kesal dalam hatinya uangku
kemana ini ? 10.000 tambahan dari bunda kok gak ada ?
“Udah
ah. Aku duluan ke Funny Resto ya sama Adi dan Deny. Kalau kamu mau ikut, nyusul
aja. Sampai nanti” menunggu Aini
mencari sesuatu selama lima menit membuat Gani bosan dan akhirnya meninggalkan
Aini sendirian didalam kelas masih dengan wajah kesal.
“Kemana
ini uangku ?” || “Uangmu haram dek ! Itu uang untuk membeli
modul kan ?”
Suara seorang siswa
membuat Aini semakin kesal. Ucapan siswa bernama Rano memprovokatori kemarahan
besar Aini. “Loe diem aja !!” bentak
Aini, emosinya memuncak.
“Aku
baru inget ! uang seratus ribu minggu kemarin dari Ayah kemana lagi ? Masa’
110.000 tenggelam begitu aja ?” teringat
dengan uang pemberian Ayah untuknya, Aini semakin menjadi-jadi berkelabut
amarah. Uang seratus ribu yang rencananya digunakannya membeli jaket kelas
namun karena berbohong dengan alasan untuk menabung kini uangnya lenyap dengan
mudahnya.
“Sepandai-pandainya
kamu membodohi Ayah dan Bunda-mu, semakin besar pula balasan Tuhan untukmu Ni !
ini buktinya.. Tuhan tidak meridhai” Rano
lanjut berceramah. Mendengar ceramah Rano, Aini semakin jengkel dan akhirnya
mengusir Rano “Pergi loe ! Cepet enyah
dari sini !” || “Baiklah... selamat
mencari ! Semoga Tuhan meridhai”.
@Home “Maaf Bund. Uang Aini 110.000 hilang dengan
gitu aja ditas. Apa karena Aini bohong ?” diruang tamu akhirnya Aini
mengungkapkan kebohongannya. Menyesali perbuatannya.
“Yang
terpenting kamu sudah sadar, sayang. Uang bisa dicari namun kejujuran tidak
mudah diungkapkan. Bunda sangat menghargai kejujuranmu.” Detik itulah Aini mulai memahami arti “Kejujuran”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar