Rabu, 01 Oktober 2014

Hapuskan Godaan Ini Ya Allah



Hapuskan Godaan Ini Ya Allah


“Hadapi dia seperti kamu menghadapi kawanmu. Jangan bawa perasaanmu.”
“Biarkan cinta tumbuh dalam diam, daripada layu dan pudar setelah diumbar”


                 

Suatu ketika.
Sendiri ditepi sekolah bersenandung sepi. Aku menengadahkan kepala. Memandang hamparan langit sejauh aku memandang. Udara yang berhembus begitu tenang. Kepala ini kembali dingin. 

“Drreeettt... Dreeeeettt...”
Handphoneku bergetar.
“Biarlah, mungkin Cuma mau pada tanya tugas” gumamku dengan terus menengadah.
“Dreeettt... Dreeeetttt...” handphoneku kembali bergetar.
“Siapa sih ?” ketusku.
Dengan rasa kesal aku menarik pandanganku dari langit. Kakiku melangkah menuju bangku dibawah pohon beringin itu. Tidak lama kemudian saku rok- OSIS-ku aku raih sebuah handphone didalamnya. Ya.. memastikan sms yang masuk memang penting adanya.
“Dmna say ?” (Dimana say ??) bacaku.
Segera aku balas sms dari seorang temanku yang memang sering bersamaku usai pulang sekolah.
“Lapangan besar, sayang !kirim.
Beberapa menit kemudian dia membalas smsku.
“Ak ksana” (aku kesana) balasnya.
Handphone-ku tidak bergetar lagi. Aku lantas memasukkannya ke dalam tasku yang tergeletak disamping bangku. Mungkin memang kotor karena terkena pasir lapangan, tapi apa boleh buat ? Kejadian tadi membuatku naik darah sampai membiarkan tasku berdebu.
Aku mulai bosan duduk sendiri dibangku ini. Malas pula rasanya mengingat kejadian tadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ? (galau mulai melanda).
“Syahduuu !!” dari kejauhan terlihat Mayang berlari sambil memanggilku.

“seneng dehh, baru aja ngeluh.
 ehh,, temen yang dibutuhin dateng” desisku saat menoleh melihat Mayang.

“Gak usah lari-lari Yam. Capek kan kamunya ?!” godaku didepan Mayang.
“Kamu tuh aku cariin. Dari tadi aku keliling sekolah nyariin kamu” sahutnya sambil menyeka keringat dengan tisu.
“Lah lebay deh. Sekolah seluas ini ngapain kamu nyari aku ? Tinggal sms atau telfon aja langsung ketahuan. GPS pun ada. Berlebihan dirimu Yam” candaku mencoba menghapus kelelahan Mayang yang memang mencariku sejak keluar kelas tadi.
Yam ? aku memanggilnya dengan nama kesayangan. Mayang yang aku gabungkan dengan nama lengkapnya. Mayang melisa putri, aku ambil huruf terakhir dari kata pertama yakni Ya dan huruf depan kata kedua yakni M. Disambung jadi Yam.
“GPS- apaan ? Kamu aja gembel Wi-fi sekolah buat ngirit kuota gimana ketahuan lewat GPS. Wahh..” Mayang mulai masuk ke candaanku.
“Aib itu.. aib jangan diumbar Yam. Kamu mah gitu.. ngambek ini ! Ngambek aku” lantas aku diam dengan kedua tangan yang menutup wajah.
“Nah kalau kamu ngambek aku kan seneng. Bisa liat muka merahmu. Hahahaha” Mayang membuka kedua tanganku yang menempel diwajah lantas tertawa lepas melihat raut wajah marahku, tepatnya pura-pura marah.
“Udah ah. Kamu tadi ngapain kok langsung pergi gitu aja ninggalin aku ?” lanjut Mayang.
Aku sejenak diam. Menghela nafas perlahan.
“Kamu jalannya kaya siput sih. Slowly..” jawabku menutupi masalah yang baru saja terjadi.
“Seriously !! aku tadi liat dia digerbang situ. Aku tahu kamu ada problem sama dia” gawatlah, gimana bisa Mayang papasan dengannya digerbang. Bingung. Aku harus jawab apa kalau Mayang udah introgasi gini ?
“Dia ? Siapa ?” tanyaku mencoba tenang.
“Disto” tutur Mayang tegas menyebut nama orang itu.
“Lah emang kalau kamu ketemu dia mesti dia ketemu aku ? Yaa enggak lah Yam. Aneh.. mungkin dia tadi habis praktek kejuruan atau ketemu temennya. Huznudzon lahh” ujarku dengan nada bergurau.
“iya yaa ?” Mayang bertanya polos.
“heemmb” gumamku, sedikit lega.
“Eitss. Boong lah kamu. Disto kan masa PKL ngapain praktek kejuruan, lagian dia tadi gak pake wearpacknya. Terus ketemu temen ? Siapa ? Temennya kan juga PKL, kalau-pun temennya lain kelas kan, sekarang yang udah pulang Cuma kelas 12 itupun pada masih diarea sekolah dalem bukan luar gini. Hahaha.. hayoo ?? Alesan apa lagi”
Aku mencoba mencari alasan lain.
“Yaa mungkin ada acara sama siapa.. i don’t know and i won’t ask it” gayaku berceloteh bahasa inggris.
“Ahh.. Syahdu gak usah sembunyiin masalahmu dong. Aku mau bantuin cari solusi.” Mayang mulai merengek meminttaku bercerita.
“Berhubung kamunya udah tahu aku bakalan cerita.”
Mayang beralih duduk tegap menghadapku. Menatapku tajam dengan kelembutan. Mengepalkan tangannya dipangkuanku.
“Apa aku salah punya perasaan sama dia ?” aku bertanya terlebih dahulu kepada sahabatku ini. Tidak banyak aku bercerita kepadanya namun untuk masalah dengan perasaan aku selalu berbagi dengannya, begitupun sebaliknya dia bercerita pula denganku.
“Kenapa ? Itu hak kali. Setiap orang punya hati dan wajarlah seorang cewek punya rasa sama seorang cowok. Apalagi satu organisasi sekolah kaya kamu sama Disto.” Mayang mulai geram.
“Tapi dia punya rasa sama wanita lain bukan aku, Yam” kedua tanganku mengenggam kepalan tangan Mayang dipangkuanku.
“Siapaaa ??”
“Keni” desisku dengan kepala tertunduk lemah tak berdaya.
Tess... air mataku meluncur tetes demi tetes dari pelupuk mata.
“Keni temen kita ?”
Aku mengangguk pelan. Mengiyakan.
“Apa aku gak salah denger ?” Mayang masih syok mengetahui hal ini.
Kepalaku menggeleng tegas. Kedua mataku enggan menatap Mayang. Aku masih tertunduk lemah. Menangisi kejadian tadi.
“Tadi, Disto dateng Cuma buat tanya tentang Keni” kalimat itu begitu menusuk.
Mayang menarikku. Memelukku erat.
“cupp.. cupp.. sayang. Gak usah nangis !” Mayang menenangkanku.
---------------------------------
“tiingg tinnggg tooonggg tooonngg”
“Assalamualaikum Harun. Ada apa ?” terdengar Mayang memanggil nama kak Harun ditelfonnya.  Aku bangun dari pelukan. Menghapus air mataku.
“.....”
“Iya. Dilapangan sekarang”
“.....”
“Kok tahu kamu ? Kamu dimana Run ?”
“.....”
“Ya aku tunggu”
“....”
“Waalaikumussalam”
------------------------------------
“Kak Harun bukan itu Yam ?” tanyaku heran. Suaraku terdengar “bindeng” karena hidungku tersumbat ingus dari tangisan tadi.
“Iya Harun. Cuma tanya aku lagi sama kamu enggak” jawaban Mayang melegakan. Untung saja kak Harun tidak tahu aku galau.
“Syukurlah” gumamku lembut.
“Syukurlah kenapa ?”
“Gakpapa Yam” aku mulai tersenyum. Perlahan kejadian tadi membangunku untuk bisa bersikap tegar dan sabar.
“Kapan kamu mau jujur tentang perasaanmu ke Disto, ?” tatapan mata Mayang begitu tajam menusuk pandanganku. Tangannya mengepal kuat kedua tanganku.
Aku menggeleng pelan. Isyarat.
“Kenapa ? malu ?” tanyanya.
“Aku sadar Yam, rasa suka ini Cuma buat aku terus sedih-sedihan. Aku mau kaya dulu. Bisa ngrasain adanya Allah disetiap detik. Aku nangis didoaku sama Allah. Aku senyum ngeliat kebahagiaan disekitarku karena Allah. Dan aku banyak ngelakuin ibadah karena Allah. Tapi semenjak aku terus larut ke rasa-rasa suka ini, aku justru jauh dari Allah. Allah justru aku tinggalin. Padahal kita tahu, Allah kekal bersama kita. Aku bodoh banget karena godaan iblis.” Tegasku mterus mengenggam tangan kanan dengan mengetukkannya diatas bangku.
“Stop ! Jangan begitu” Mayang menghentikan pukulan tanganku dari bangku.
“Allah selalu ada buat hamba-Nya sayang. Alhamdulillah kamu udah sadar kaya gini, aku dukung 100% apa yang bakal kamu lakuin setelah ini. Aku bakal bantuin kamu sebisaku dan diluar bisaku bakal aku usahain. Untuk sahabatku ini...” Mayang memelukku erat denagn tangisannya yang tiba-tiba meluncur.
“Mayang is my truefriend” balasku memeluknya.
“Syahdu is my best friendship. Forever...” Mayang balik memuji.
Aku perlahan melepas pelukan Mayang.
Tatapanku beralih ke arah gerbang dua sekolah yang tidak jauh dari bangku-ku duduk sekarang. Mayang ikut menoleh.
“Itu kak Harun bukan, Yam ? Kok kesini ? tahu darimana kita disini ?” aku masih terheran.
“Tadi dia kan telfon aku Syahdu !” Mayang tersenyum lepas dihadapanku.
“Lohh kok ??”
“Udah, kak Harun Cuma mau nganterin sesuatu” Mayang memotong ucapanku.
Diam. Aku terus terdiam memantau kak Harun yang mulai mendekat ke arahku.
“Assalamualaikum” kak Harun mengucap salam.
“Waalaikumussalam” jawabku bersama Mayang serentak.
“Ada apa kak ?” tanyaku heran. Berdiri.
Suasana siang ini begitu mendukung. Terik mentari tersisa guratan oranye. Sinarnya mulai memudar. Udara mulai sayup. Layu. Hanya berhembus sejenak. Debu beterbangan ke sana ke mari. Mengikuti arah angin.
“ini, ada titipan dari mbak Uyung buat dek Syahdu sama dek Mayang” kak Harun meletakkan sebuah bingkisan bermotif batik merah parang rusak diatas bangku.
“Mbak Uyung ?” Mayang tersenyum getir menatapku.
“Iya mbak Uyung, kakakku. Dia baru saja pulang dari Kairo, bawa beberapa barang yang sengaja dibeli buat dek Syahdu sama dek Mayang” kak Harun mengungkap jelas.
“Kapan pulangnya kak ? Kok gak bilang ke kita. Kan kita bisa jemput di airport” Mayang mulai basa-basi.
“Udah ahad lalu. Em. Makasih niatannya baik.” Kak Harun balas dengan ramah.
“Syukron kak Harun. Sampaikan ke mbak Uyung juga” sahutku.
“Beres dek. Ya udah, aku pamit dulu. Assalamualaikum” kak Harun tergesa-gesa lantas berpamitan. Wajahnya begitu gugup berhadapan denganku dan juga Mayang. Nada bicaranya naik turun beriringan dengan gerak bola matanya.
“Apa ini ya ?” Mayang semangat membuka bingkisan disampingnya.
“Eitsss” tanganku menahan bingkisan.
“Jangan buka disini. Ditempat lain aja, gak enak kalau diliat orang kan” pintaku.
Lima menit perjalanan menuju mushola sekolah. Aku dan Mayang duduk berhadapan diserambi mushola. Kedua mata Mayang menatap serius bingkisan merah itu. Aku dengan santainya melantur kesana kesini. Basa basi belaka. Berusaha mengundur waktu untuk membuka bingkisan itu.
“Ini bukan waktunya UTS sayang. Jangan serius begitu” celotehku
“Eits... kok ringan ya bingkisannya” Mayang masih begitu serius dan antusias menatap bingkisan.
“Eh kak Didit” ujarku.
Mayang spontan menoleh ke belakang. Memandang setiap sudut tempat. Tanpa disadarinya aku mengambil bingkisan itu, aku sembunyikan dibelakang tasku.
“Mana mana ??” Mayang kegirangan.
“Aku Cuma ngetes aja. Tenyata kamu masih mengharap ya” aku tertawa girang.
“Ah Syahdu jahat. Aku ngambek !” seperti biasa, kebiasaanku dan keboasaan Mayang 11-12.
Aku yang biasanya memulai kata-kata “Aku ngambek ini !” sekarang hanya bisa menahan tawa melihat Mayang melakukannya dulu.
“Cup sayang. Ayo dibuka bingkisannya” ajakku.
“Mana bingkisannya. Ehh diambil semut oo ?” wajah Mayang begitu terkejut melihat bingkisan merah itu tidak ada ditempat.
“Bukan semut, mungkin debu” sambungku.
Aku dan Mayang tertawa lepas diserambi mushola. Suasana yang tadinya hening menjadi pecah karena ulah kami berdua.
“Ayo dibuka” aku menyodorkan bingkisan merah itu ke Mayang.
Tanpa ragu lagi, Mayang menyerobot bingkisan itu. Perlahan solasi yang menempel dibingkisan dijimpit. Selembar kertas berwarna kebiruan dengan gambar Barbie tergeletak didalam bingkisan.
“Aku bacain ya !” Mayang bersemangat.
.................
“untuk kedua adikku, Syahdu dan Mayang
Assalamualaikum adik-adikku terhebat dan tersayang.
Apa kabar kalian di Indonesia ? Tepatnya diJogja ?
Semoga kabar kalian baik sama seperti kakak disini.
Amin

Alhamdulillah, kakak sudah lulus S2 Fakultas Syariah Islamiyah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Sekarang kakak sudah kembali ke Jogjakarta. Sebelum balik ke Jogja kakak sempat mampir disalah satu perbelanjaan. Kakak liat ada banyak jilbab disana yang beda dari jilbab di Indonesia. Tepatnya jilbabnya syar’i.
Kakak sengaja membeli 10 jilbab ini untuk kalian adik kakak. Tidak terlupa, pakaiannya pun kakak tambahkan supaya lebih mantap. Tapi maaf, kakak membelikannya hanya 6 buah dibagi kalian berdua.
Ini saja pesan singkat kakak. Kakak tidak bisa memberikannya langsung dikarenakan jadwal kakak sekarang di Jogja cukup padat. Maka dari itu kakak titipkan dek Harun.
Semoga bermanfaat apa yang kakak belikan ya.
Kakak tunggu kedatangan kalian ke rumah.
Wassalamualaikum

Salam rindu dari kakak kalian,
Nurul

“Alhamdulillah” tuturku usai mendengar surat dari mbak Uyung yang dibacakan Mayang.
“Baiknya mbak Uyung ya” Mayang menyambung.
“Bagus bagus jilbab sama pakaiannya” balasku melihat isi bingkisan merah itu.
----------------------------------
Pagi harinya. Kebetulan hari ahad.
Aku dan Mayang bersiap pergi ke rumah mbak Uyung yang tidak begitu jauh dari rumahku. Sekitar 500 meter. Pakaian dan jilbab dari mbak Uyung tidak ketinggalan aku kenakan. Mayang-pun begitu. Kami berdua begitu nyaman mengenakannya.
“Cantik kamu” Mayang memuji.
“Iya cantik pakaiannya” sahutku.
Beberapa menit kemudian datang tanpa diduga Disto dan kak Didit datang ke rumahku.
“assalamualaikum” kak Didit mengucap salam.
“waalaikumussalam” Mayang menjawabnya dengan semangat membara. Aku lirih menjawab,
“kalian mau kemana kok udah rapi ?” Disto alih bertanya.
“Ke rumah mbak Uyung. Kalian sendiri ?” jawab Mayang.
“Sama. Kita ada jadwal mau ngaji bareng ditempatnya Harun. Ayo barengan” ajak Disto.
“Marrii,” Mayang menggandengku. Lantas berjalan santai didepan Disto dan kak Didit.

“assalamualaikum” kak Didit berdiri didepan pintu rumah kak Harun dan mbak Uyung.
“waalaikumussalam” mbak Uyung menjawab dari dalam rumah. Beberapa detik kemudian keluar dengan pakaian dan jilbab yang hampir sama denganku dan Mayang.
“Subhanallah, kembar semua ini ?” kak Didit baru sadar pakaian yang aku kenakan sama dengan Mayang dan mbak Uyung.
“He.emb” Mayang mengangguk mantap.
“Ayo masuk silahkan” mbk Uyung mempersilahkan degan sopan.
“Dek Harun ! Disto sama Didit udah sampai ini” mbak Uyung lembut memanggil Harun dari ruang tamu.
“Iya mbak, sebentar ya” balas Harun entah dimana keberadaannya.
“Mbak, boleh bicara sebentar. Didalam aja” pintku menyentuh jemari mbak Uyung.
“Boleh. Dek Mayang disini ya, ajak ngobrol Disto sama Didit” mbak Uyung menarikku ke dalam kamarnya.
“Dek Syahdu ada masalah apa. Dari tadi mbak perhatiin, kamu diem aja” akhirnya mbak Uyung tahu apa yang sekarang aku hadapi. Tanpa sungkan, aku langsung bercerita kejadian kemarin ke mbak Uyung.
“Mbak apa salah kalau aku suka sama Disto ?”
“Suka ? kamu yakin dek ?” mbak Uyung heran dengan kalimatku tadi.
“Iya. Semenjak Disto deket sama aku. Tapi deket karena dia suka sama temenku mbak. Aku malah suka sama dia. Aku gak tau harus gimana mbak” keluhku .
“Astaghfirullah. Adikku sekarang udah dewasa ini” mbak Uyung memelukku.
“Kemarin mbak, Disto cerita kalau dia udah deket banget sama Keni didepanku. Aku tahu kalau ini salahku mbak. Harusnya dulu aku gak ikut campur urusan Keni sama Disto biar gak kaya sekarang” aku terus menyalahkan diriku sendiri. Tangisannya perlahan pecah dipelukan mbak Uyung.
“Sabar. Ini godaan syaiton aja dek. Dek Syahdu harus kuat iman. Akhlak dek Syahdu gak boleh bobol karena nafsu. Dek Syahdu ingat cerita nabi Adam disurga sana kan ? Syaiton hebat sekali merujuk kita ke maksiat. Apa dek Syahdu masih mau kena bujukan syaiton ?” mbak Uyung mulai membuka pintu sadarku.
“Enggak mbak. Terus aku harus gimana ?”
“Mulai sekarang dan detik ini. Hapus rasa-rasa nafsu itu dek. Kamu ketemu Disto sama seperti kamu ketemu dek Harun, didit, juga teman kamu lainnya. Jangan sampai Disto tau tentang ini. Allah selalu membukakan pintu maaf untuk hamba-Nya. Dek Syahdu harus berdoa pada Allah, mohon ampunan Allah, mohon dijauhkan dari godaan syaiton dan mohon diberikan benteng iman. Dek Syahdu cukup diam dengan perasaan yang akan muncul setelah berdoa pada Allah. insyaAllah jalan terbaik dikaruniakan Allah untuk kamu”
“iya mbak. Bismillah...”

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar