Hapuskan Godaan Ini Ya Allah
“Hadapi dia
seperti kamu menghadapi kawanmu. Jangan bawa perasaanmu.”
“Biarkan
cinta tumbuh dalam diam, daripada layu dan pudar setelah diumbar”
Suatu ketika.
Sendiri ditepi sekolah bersenandung sepi. Aku menengadahkan kepala. Memandang hamparan langit sejauh aku memandang. Udara yang berhembus begitu tenang. Kepala ini kembali dingin.
“Drreeettt... Dreeeeettt...”
Handphoneku bergetar.
“Biarlah, mungkin Cuma mau pada
tanya tugas” gumamku dengan terus menengadah.
“Dreeettt... Dreeeetttt...”
handphoneku kembali bergetar.
“Siapa sih ?” ketusku.
Dengan rasa kesal aku menarik
pandanganku dari langit. Kakiku melangkah menuju bangku dibawah pohon beringin
itu. Tidak lama kemudian saku rok- OSIS-ku aku raih sebuah handphone
didalamnya. Ya.. memastikan sms yang masuk memang penting adanya.
“Dmna
say ?” (Dimana say ??) bacaku.
Segera aku balas sms dari seorang
temanku yang memang sering bersamaku usai pulang sekolah.
Beberapa menit kemudian dia membalas
smsku.
“Ak
ksana” (aku kesana)
balasnya.
Handphone-ku tidak bergetar lagi.
Aku lantas memasukkannya ke dalam tasku yang tergeletak disamping bangku.
Mungkin memang kotor karena terkena pasir lapangan, tapi apa boleh buat ?
Kejadian tadi membuatku naik darah sampai membiarkan tasku berdebu.
Aku mulai bosan duduk sendiri
dibangku ini. Malas pula rasanya mengingat kejadian tadi. Apa yang harus aku
lakukan sekarang ? (galau mulai melanda).
“Syahduuu
!!” dari kejauhan
terlihat Mayang berlari sambil memanggilku.
“seneng
dehh, baru aja ngeluh.
ehh,, temen yang dibutuhin dateng” desisku saat menoleh melihat Mayang.
“Gak usah lari-lari Yam. Capek kan
kamunya ?!” godaku didepan Mayang.
“Kamu tuh aku cariin. Dari tadi aku
keliling sekolah nyariin kamu” sahutnya sambil menyeka keringat dengan tisu.
“Lah lebay deh. Sekolah seluas ini
ngapain kamu nyari aku ? Tinggal sms atau telfon aja langsung ketahuan. GPS pun
ada. Berlebihan dirimu Yam” candaku mencoba menghapus kelelahan Mayang yang
memang mencariku sejak keluar kelas tadi.
Yam ? aku memanggilnya dengan nama
kesayangan. Mayang yang aku gabungkan dengan nama lengkapnya. Mayang melisa
putri, aku ambil huruf terakhir dari kata pertama yakni Ya dan huruf depan kata
kedua yakni M. Disambung jadi Yam.
“GPS- apaan ? Kamu aja gembel Wi-fi
sekolah buat ngirit kuota gimana ketahuan lewat GPS. Wahh..” Mayang mulai masuk
ke candaanku.
“Aib itu.. aib jangan diumbar Yam.
Kamu mah gitu.. ngambek ini ! Ngambek aku” lantas aku diam dengan kedua tangan
yang menutup wajah.
“Nah kalau kamu ngambek aku kan
seneng. Bisa liat muka merahmu. Hahahaha” Mayang membuka kedua tanganku yang
menempel diwajah lantas tertawa lepas melihat raut wajah marahku, tepatnya
pura-pura marah.
“Udah ah. Kamu tadi ngapain kok
langsung pergi gitu aja ninggalin aku ?” lanjut Mayang.
Aku sejenak diam. Menghela nafas
perlahan.
“Kamu jalannya kaya siput sih.
Slowly..” jawabku menutupi masalah yang baru saja terjadi.
“Seriously !! aku tadi liat dia
digerbang situ. Aku tahu kamu ada problem sama dia” gawatlah, gimana bisa
Mayang papasan dengannya digerbang. Bingung. Aku harus jawab apa kalau Mayang
udah introgasi gini ?
“Dia ? Siapa ?” tanyaku mencoba
tenang.
“Disto” tutur Mayang tegas menyebut
nama orang itu.
“Lah emang kalau kamu ketemu dia
mesti dia ketemu aku ? Yaa enggak lah Yam. Aneh.. mungkin dia tadi habis
praktek kejuruan atau ketemu temennya. Huznudzon lahh” ujarku dengan nada
bergurau.
“iya yaa ?” Mayang bertanya polos.
“heemmb” gumamku, sedikit lega.
“Eitss. Boong lah kamu. Disto kan
masa PKL ngapain praktek kejuruan, lagian dia tadi gak pake wearpacknya. Terus
ketemu temen ? Siapa ? Temennya kan juga PKL, kalau-pun temennya lain kelas
kan, sekarang yang udah pulang Cuma kelas 12 itupun pada masih diarea sekolah
dalem bukan luar gini. Hahaha.. hayoo ?? Alesan apa lagi”
Aku mencoba mencari alasan lain.
“Yaa mungkin ada acara sama siapa..
i don’t know and i won’t ask it” gayaku berceloteh bahasa inggris.
“Ahh.. Syahdu gak usah sembunyiin
masalahmu dong. Aku mau bantuin cari solusi.” Mayang mulai merengek meminttaku
bercerita.
“Berhubung kamunya udah tahu aku
bakalan cerita.”
Mayang beralih duduk tegap
menghadapku. Menatapku tajam dengan kelembutan. Mengepalkan tangannya
dipangkuanku.
“Apa aku salah punya perasaan sama
dia ?” aku bertanya terlebih dahulu kepada sahabatku ini. Tidak banyak aku
bercerita kepadanya namun untuk masalah dengan perasaan aku selalu berbagi
dengannya, begitupun sebaliknya dia bercerita pula denganku.
“Kenapa ? Itu hak kali. Setiap orang
punya hati dan wajarlah seorang cewek punya rasa sama seorang cowok. Apalagi
satu organisasi sekolah kaya kamu sama Disto.” Mayang mulai geram.
“Tapi dia punya rasa sama wanita
lain bukan aku, Yam” kedua tanganku mengenggam kepalan tangan Mayang
dipangkuanku.
“Siapaaa ??”
“Keni” desisku dengan kepala
tertunduk lemah tak berdaya.
Tess... air mataku meluncur tetes
demi tetes dari pelupuk mata.
“Keni temen kita ?”
Aku mengangguk pelan. Mengiyakan.
“Apa aku gak salah denger ?” Mayang
masih syok mengetahui hal ini.
Kepalaku menggeleng tegas. Kedua
mataku enggan menatap Mayang. Aku masih tertunduk lemah. Menangisi kejadian
tadi.
“Tadi, Disto dateng Cuma buat tanya
tentang Keni” kalimat itu begitu menusuk.
Mayang menarikku. Memelukku erat.
“cupp.. cupp.. sayang. Gak usah
nangis !” Mayang menenangkanku.
---------------------------------
“tiingg tinnggg tooonggg tooonngg”
“Assalamualaikum Harun. Ada apa ?”
terdengar Mayang memanggil nama kak Harun ditelfonnya. Aku bangun dari pelukan. Menghapus air
mataku.
“.....”
“Iya. Dilapangan sekarang”
“.....”
“Kok tahu kamu ? Kamu dimana Run ?”
“.....”
“Ya aku tunggu”
“....”
“Waalaikumussalam”
------------------------------------
“Kak Harun bukan itu Yam ?” tanyaku
heran. Suaraku terdengar “bindeng” karena hidungku tersumbat ingus dari
tangisan tadi.
“Iya Harun. Cuma tanya aku lagi sama
kamu enggak” jawaban Mayang melegakan. Untung saja kak Harun tidak tahu aku
galau.
“Syukurlah” gumamku lembut.
“Syukurlah kenapa ?”
“Gakpapa Yam” aku mulai tersenyum.
Perlahan kejadian tadi membangunku untuk bisa bersikap tegar dan sabar.
“Kapan kamu mau jujur tentang
perasaanmu ke Disto, ?” tatapan mata Mayang begitu tajam menusuk pandanganku.
Tangannya mengepal kuat kedua tanganku.
Aku menggeleng pelan. Isyarat.
“Kenapa ? malu ?” tanyanya.
“Aku sadar Yam, rasa suka ini Cuma
buat aku terus sedih-sedihan. Aku mau kaya dulu. Bisa ngrasain adanya Allah
disetiap detik. Aku nangis didoaku sama Allah. Aku senyum ngeliat kebahagiaan
disekitarku karena Allah. Dan aku banyak ngelakuin ibadah karena Allah. Tapi
semenjak aku terus larut ke rasa-rasa suka ini, aku justru jauh dari Allah.
Allah justru aku tinggalin. Padahal kita tahu, Allah kekal bersama kita. Aku
bodoh banget karena godaan iblis.” Tegasku mterus mengenggam tangan kanan
dengan mengetukkannya diatas bangku.
“Stop ! Jangan begitu” Mayang
menghentikan pukulan tanganku dari bangku.
“Allah selalu ada buat hamba-Nya
sayang. Alhamdulillah kamu udah sadar kaya gini, aku dukung 100% apa yang bakal
kamu lakuin setelah ini. Aku bakal bantuin kamu sebisaku dan diluar bisaku
bakal aku usahain. Untuk sahabatku ini...” Mayang memelukku erat denagn
tangisannya yang tiba-tiba meluncur.
“Mayang is my truefriend” balasku
memeluknya.
“Syahdu is my best friendship.
Forever...” Mayang balik memuji.
Aku perlahan melepas pelukan Mayang.
Tatapanku beralih ke arah gerbang
dua sekolah yang tidak jauh dari bangku-ku duduk sekarang. Mayang ikut menoleh.
“Itu kak Harun bukan, Yam ? Kok
kesini ? tahu darimana kita disini ?” aku masih terheran.
“Tadi dia kan telfon aku Syahdu !”
Mayang tersenyum lepas dihadapanku.
“Lohh kok ??”
“Udah, kak Harun Cuma mau nganterin
sesuatu” Mayang memotong ucapanku.
Diam. Aku terus terdiam memantau kak
Harun yang mulai mendekat ke arahku.
“Assalamualaikum” kak Harun mengucap
salam.
“Waalaikumussalam” jawabku bersama
Mayang serentak.
“Ada apa kak ?” tanyaku heran. Berdiri.
Suasana siang ini begitu mendukung.
Terik mentari tersisa guratan oranye. Sinarnya mulai memudar. Udara mulai
sayup. Layu. Hanya berhembus sejenak. Debu beterbangan ke sana ke mari.
Mengikuti arah angin.
“ini, ada titipan dari mbak Uyung
buat dek Syahdu sama dek Mayang” kak Harun meletakkan sebuah bingkisan bermotif
batik merah parang rusak diatas bangku.
“Mbak Uyung ?” Mayang tersenyum
getir menatapku.
“Iya mbak Uyung, kakakku. Dia baru
saja pulang dari Kairo, bawa beberapa barang yang sengaja dibeli buat dek
Syahdu sama dek Mayang” kak Harun mengungkap jelas.
“Kapan pulangnya kak ? Kok gak
bilang ke kita. Kan kita bisa jemput di airport” Mayang mulai basa-basi.
“Udah ahad lalu. Em. Makasih niatannya
baik.” Kak Harun balas dengan ramah.
“Syukron kak Harun. Sampaikan ke
mbak Uyung juga” sahutku.
“Beres dek. Ya udah, aku pamit dulu.
Assalamualaikum” kak Harun tergesa-gesa lantas berpamitan. Wajahnya begitu
gugup berhadapan denganku dan juga Mayang. Nada bicaranya naik turun beriringan
dengan gerak bola matanya.
“Apa ini ya ?” Mayang semangat
membuka bingkisan disampingnya.
“Eitsss” tanganku menahan bingkisan.
“Jangan buka disini. Ditempat lain
aja, gak enak kalau diliat orang kan” pintaku.
Lima menit perjalanan menuju mushola
sekolah. Aku dan Mayang duduk berhadapan diserambi mushola. Kedua mata Mayang
menatap serius bingkisan merah itu. Aku dengan santainya melantur kesana
kesini. Basa basi belaka. Berusaha mengundur waktu untuk membuka bingkisan itu.
“Ini bukan waktunya UTS sayang. Jangan
serius begitu” celotehku
“Eits... kok ringan ya bingkisannya”
Mayang masih begitu serius dan antusias menatap bingkisan.
“Eh kak Didit” ujarku.
Mayang spontan menoleh ke belakang. Memandang
setiap sudut tempat. Tanpa disadarinya aku mengambil bingkisan itu, aku
sembunyikan dibelakang tasku.
“Mana mana ??” Mayang kegirangan.
“Aku Cuma ngetes aja. Tenyata kamu
masih mengharap ya” aku tertawa girang.
“Ah Syahdu jahat. Aku ngambek !”
seperti biasa, kebiasaanku dan keboasaan Mayang 11-12.
Aku yang biasanya memulai kata-kata “Aku
ngambek ini !” sekarang hanya bisa menahan tawa melihat Mayang melakukannya
dulu.
“Cup sayang. Ayo dibuka bingkisannya”
ajakku.
“Mana bingkisannya. Ehh diambil
semut oo ?” wajah Mayang begitu terkejut melihat bingkisan merah itu tidak ada
ditempat.
“Bukan semut, mungkin debu”
sambungku.
Aku dan Mayang tertawa lepas
diserambi mushola. Suasana yang tadinya hening menjadi pecah karena ulah kami
berdua.
“Ayo dibuka” aku menyodorkan
bingkisan merah itu ke Mayang.
Tanpa ragu lagi, Mayang menyerobot
bingkisan itu. Perlahan solasi yang menempel dibingkisan dijimpit. Selembar
kertas berwarna kebiruan dengan gambar Barbie tergeletak didalam bingkisan.
“Aku bacain ya !” Mayang
bersemangat.
.................
“untuk kedua adikku, Syahdu dan
Mayang
Assalamualaikum adik-adikku terhebat
dan tersayang.
Apa kabar kalian di Indonesia ?
Tepatnya diJogja ?
Semoga kabar kalian baik sama
seperti kakak disini.
Amin
Alhamdulillah, kakak sudah lulus S2
Fakultas Syariah Islamiyah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Sekarang kakak sudah
kembali ke Jogjakarta. Sebelum balik ke Jogja kakak sempat mampir disalah satu
perbelanjaan. Kakak liat ada banyak jilbab disana yang beda dari jilbab di
Indonesia. Tepatnya jilbabnya syar’i.
Kakak sengaja membeli 10 jilbab ini
untuk kalian adik kakak. Tidak terlupa, pakaiannya pun kakak tambahkan supaya
lebih mantap. Tapi maaf, kakak membelikannya hanya 6 buah dibagi kalian berdua.
Ini saja pesan singkat kakak. Kakak tidak
bisa memberikannya langsung dikarenakan jadwal kakak sekarang di Jogja cukup
padat. Maka dari itu kakak titipkan dek Harun.
Semoga bermanfaat apa yang kakak
belikan ya.
Kakak tunggu kedatangan kalian ke
rumah.
Wassalamualaikum
Salam rindu dari kakak kalian,
Nurul
“Alhamdulillah” tuturku usai
mendengar surat dari mbak Uyung yang dibacakan Mayang.
“Baiknya mbak Uyung ya” Mayang
menyambung.
“Bagus bagus jilbab sama pakaiannya”
balasku melihat isi bingkisan merah itu.
----------------------------------
Pagi harinya. Kebetulan hari ahad.
Aku dan Mayang bersiap pergi ke
rumah mbak Uyung yang tidak begitu jauh dari rumahku. Sekitar 500 meter. Pakaian
dan jilbab dari mbak Uyung tidak ketinggalan aku kenakan. Mayang-pun begitu. Kami
berdua begitu nyaman mengenakannya.
“Cantik kamu” Mayang memuji.
“Iya cantik pakaiannya” sahutku.
Beberapa menit kemudian datang tanpa
diduga Disto dan kak Didit datang ke rumahku.
“assalamualaikum” kak Didit mengucap
salam.
“waalaikumussalam” Mayang
menjawabnya dengan semangat membara. Aku lirih menjawab,
“kalian mau kemana kok udah rapi ?”
Disto alih bertanya.
“Ke rumah mbak Uyung. Kalian sendiri
?” jawab Mayang.
“Sama. Kita ada jadwal mau ngaji
bareng ditempatnya Harun. Ayo barengan” ajak Disto.
“Marrii,” Mayang menggandengku. Lantas
berjalan santai didepan Disto dan kak Didit.
“assalamualaikum” kak Didit berdiri
didepan pintu rumah kak Harun dan mbak Uyung.
“waalaikumussalam” mbak Uyung
menjawab dari dalam rumah. Beberapa detik kemudian keluar dengan pakaian dan
jilbab yang hampir sama denganku dan Mayang.
“Subhanallah, kembar semua ini ?”
kak Didit baru sadar pakaian yang aku kenakan sama dengan Mayang dan mbak
Uyung.
“He.emb” Mayang mengangguk mantap.
“Ayo masuk silahkan” mbk Uyung
mempersilahkan degan sopan.
“Dek Harun ! Disto sama Didit udah
sampai ini” mbak Uyung lembut memanggil Harun dari ruang tamu.
“Iya mbak, sebentar ya” balas Harun
entah dimana keberadaannya.
“Mbak, boleh bicara sebentar. Didalam
aja” pintku menyentuh jemari mbak Uyung.
“Boleh. Dek Mayang disini ya, ajak
ngobrol Disto sama Didit” mbak Uyung menarikku ke dalam kamarnya.
“Dek Syahdu ada masalah apa. Dari tadi
mbak perhatiin, kamu diem aja” akhirnya mbak Uyung tahu apa yang sekarang aku
hadapi. Tanpa sungkan, aku langsung bercerita kejadian kemarin ke mbak Uyung.
“Mbak apa salah kalau aku suka sama
Disto ?”
“Suka ? kamu yakin dek ?” mbak Uyung
heran dengan kalimatku tadi.
“Iya. Semenjak Disto deket sama aku.
Tapi deket karena dia suka sama temenku mbak. Aku malah suka sama dia. Aku gak
tau harus gimana mbak” keluhku .
“Astaghfirullah. Adikku sekarang
udah dewasa ini” mbak Uyung memelukku.
“Kemarin mbak, Disto cerita kalau
dia udah deket banget sama Keni didepanku. Aku tahu kalau ini salahku mbak. Harusnya
dulu aku gak ikut campur urusan Keni sama Disto biar gak kaya sekarang” aku
terus menyalahkan diriku sendiri. Tangisannya perlahan pecah dipelukan mbak Uyung.
“Sabar. Ini godaan syaiton aja dek. Dek
Syahdu harus kuat iman. Akhlak dek Syahdu gak boleh bobol karena nafsu. Dek Syahdu
ingat cerita nabi Adam disurga sana kan ? Syaiton hebat sekali merujuk kita ke
maksiat. Apa dek Syahdu masih mau kena bujukan syaiton ?” mbak Uyung mulai
membuka pintu sadarku.
“Enggak mbak. Terus aku harus gimana
?”
“Mulai sekarang dan detik ini. Hapus
rasa-rasa nafsu itu dek. Kamu ketemu Disto sama seperti kamu ketemu dek Harun,
didit, juga teman kamu lainnya. Jangan sampai Disto tau tentang ini. Allah selalu
membukakan pintu maaf untuk hamba-Nya. Dek Syahdu harus berdoa pada Allah,
mohon ampunan Allah, mohon dijauhkan dari godaan syaiton dan mohon diberikan
benteng iman. Dek Syahdu cukup diam dengan perasaan yang akan muncul setelah
berdoa pada Allah. insyaAllah jalan terbaik dikaruniakan Allah untuk kamu”
“iya mbak. Bismillah...”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar