Buanglah Mantan Pada Tempatnya
Selesaikan dulu kisahmu dengan si dia sebelum engkau
memulai kisah baru dengan yang lain. Karena kisah yang belum terselesaikan di
masa lalu, rentan hadir untuk mengusik dan menjadi duri dalam daging bagi
kisahmu yang terkini.
Tiap manusia pasti memunyai masa lalu. Karena masa
lalu inilah yang membentuk dirinya di masa kini. Yang membedakan satu pribadi
dengan pribadi lainnya dengan masa lalunya ini adalah penyikapan. Ada yang
terjebak di masa lalu dan enggan untuk keluar. Dia menjadikan masa lalu sebagai
hal penting untuk dibawa ke masa depan. Apalagi bila masa lalunya ini belum
tuntas alias masih bermasalah.
Dalam rumah tangga, masa lalu ini bisa berupa apa
saja. Tapi yang paling rentan adalah si mantan. Entah mantan suami/istri, bisa
jadi mantan pacar, atau bahkan mantan calon suami. Maksudnya masih dalam taaruf
tapi tak bisa lanjut hingga ke pelaminan. Bila tak bijak menyikap masalah yang
muncul di masa lalu dengan si mantan, bukan tak mungkin masalah ini menjadi
‘laten’ atau semisal duri dalam daging dalam rumah tangga seseorang.
Selesaikan dahulu apa pun itu yang masih mengganjal
dengan si mantan. Jangan mencari pelarian tatkala hati masih rapuh.
Satu-satunya obat yang bisa diandalkan dalam kondisi begini adalah dengan
banyak dzikrullah, semakin mendekatkan diri pada Allah.
Selesaikan dahulu apa pun itu yang masih mengganjal
dengan si mantan. Jangan mencari pelarian tatkala hati masih rapuh.
Satu-satunya obat yang bisa diandalkan dalam kondisi begini adalah dengan
banyak dzikrullah, semakin mendekatkan diri pada Allah. Insya Allah bila
langkah ini yang diambil, maka masalah apa pun itu bentuknya bisa dituntaskan
hingga ke akar. Sehingga saat kaki ingin melangkah membuka lembar baru maka
bayang-bayang masa lalu itu sudah tak lagi mengganggu.
Sayangnya, tak semua menjadikan Allah sebagai muara
pencarian jawaban. Tak sedikit yang menjadikan masalah dengan si mantan dengan
mencari penggantinya secepat yang ia bisa. Bagi laki-laki dia akan segera
mencari perempuan pengganti. Bahkan tak tanggung-tanggung, langsung dilamarnya
perempuan pertama yang ia kenal dan mau dengan dirinya. Sakit hatinya dilarikan
pada sosok baru yang tak tahu apa-apa tentang masa lalunya.
Begitu juga dengan perempuan. Ia akan berusaha mencari
pengganti laki-laki yang telah menyakiti hatinya. Dia terima saja siapa pun
yang datang sekadar menunjukkan bahwa ia pun masih bisa dicintai oleh laki-laki
lain. Ketika niat awal sudah salah, maka yakinlah langkah kaki juga tak bisa
terarah. Diperparah dengan permasalahan yang masih menggantung di masa lalu,
seolah menumpuki secarik kertas dengan tulisan yang baru padahal yang lama
belum sepenuhnya dihapus dengan bersih. Tumpang tindih.
Suami masih sering melamunkan mantan. Begitu
sebaliknya, si istri pun masih sering merindukan seseorang yang tak lagi halal
buatnya. Suami istri hanya status saja ketika jiwa masing-masing pelakunya tak
lagi berjalan bersama. Satu sama lain terjebak dalam kerangkeng yang sama
bernama masa lalu.
Bilapun salah satu pihak saja yang tergilas oleh
kenangan, maka tentu saja pasangannya menjadi pihak yang dizolimi. Dan sungguh,
bukan seperti ini pernikahan yang diharapkan tercapainya sakinah dalam berumah
tangga.
Jadi apapun itu masalahnya dengan si mantan, usahakan
sudah tuntas sebelum kaki mulai melangkah. Andai pun karena satu dan lain hal
memang kondisi tak bisa diselesaikan dengan baik-baik, maka yakinilah bahwa
semua itu memang yang terbaik. Tak pernah Allah salah meletakkan satu kejadian.
Tinggal manusianya bisa atau tidak mengambil hikmah dari tiap peristiwa yang
terjadi untuk dijadikan pelajaran.
Bagi kamu para istri, perasaan mellow itu
jangan dimanja. Si mantan tidak layak lagi dihadirkan saat sudah ada imam yang
siap menggenggam masa depan. Syukurilah yang ada saat ini karena sesungguhnya
di luar sana banyak perempuan yang menginginkan tempat dimana kamu berasa
sekarang.
Bagi kamu para suami, buang masa lalumu di tempat
semestinya. Masa lalu tempatnya ya di belakang. Berjalan itu menatap lurus ke
depan bersama dengan pasangan yang saat ini setia mendampingi. Apalagi bila ada
si buah hati. Ia tak berhak mendapati ayahnya membagi hati dengan mantan yang
sejatinya cuma kenangan. Karena hati adalah milik Allah, maka kembalikan ia
padaNya. Mendekatlah pada-Nya, minta untuk diteguhkan dengan pasangan halal
yang sekarang.
Bagi kamu para istri, perasaan mellow itu
jangan dimanja. Si mantan tidak layak lagi dihadirkan saat sudah ada imam yang
siap menggenggam masa depan. Syukurilah yang ada saat ini karena sesungguhnya
di luar sana banyak perempuan yang menginginkan tempat dimana kamu berasa
sekarang. Hadirkan dzikrullah ketika ketukan kenangan dari masa lalu itu hadir.
Tutup semua pintunya rapat-rapat. Fokuskan diri pada sosok yang saat ini halal
menemani hingga kalian bersama menua nanti, insya Allah.
[riafariana/voa-islam.com]
sumber :
http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/09/20/32954/buanglah-mantan-pada-tempatnya/#sthash.vL6ZW9Mu.dpbs

Tidak ada komentar:
Posting Komentar