“Sendiri dalam ketakwaan itu lebih baik daripada bersama dalam kemaksiatan. Karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri, selalu ada Allah yang menemani.”
Sahabat Muslimah...
Hidup ‘sendiri’
memang sungguh tidak nyaman. Sendiri di sini maksudnya belum memunyai pasangan
yang sah, belahan jiwa yang akan mendampingi diri meraih ridho-Nya. Tak ada
teman untuk berbagi, berkeluh-kesah, curhat, atau ‘sekadar’ teman ngobrol. Ada
kerinduan yang kadangkala hadir tanpa diundang. Apalagi bila melihat
teman-teman menggandeng suaminya atau bahkan menggendong buah hati dalam
dekapan. Hati perempuan mana yang tak merasakan fitrah untuk berada pada posisi
yang sama.
Wajar. Karena
naluri untuk mencintai baik kepada pasangan ataupun anak keturunan itu sudah
‘built in’ alias anugrah dari Sang Mahacinta. Sehingga serapat apapun kita
menyimpannya, tak sepeduli apapun kita untuk memikirkannya, ketukan itu nyata
ada. Padahal di saat yang sama, Allah masih menyimpan ‘dia’ yang akan menjadi pasangan
hidup kita. Allah bukan sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena
belahan jiwa belum ada. Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita,
sejauh mana bisa tetap bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit.
Bukankah Allah sesuai persangkaan hamba-Nya?.
Allah bukan
sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena belahan jiwa belum ada.
Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita, sejauh mana bisa tetap
bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit. Bukankah Allah sesuai
persangkaan hamba-Nya?
Dititik inilah,
kondisi hati paling rawan untuk berpaling. Ya...berpaling dari ketakwaan yang
selama ini digenggam. Muncul anggapan seolah-olah jodoh itu jauh karena kita
tak mengikuti trend kebanyakan. Pacaran, tabarruj (berhias untuk
non-mahrom), ber-khalwat (berduaan dengan lawan jenis non-mahrom) dan
ber-ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa alasan yang
syar’i) mulai dijadikan ajang coba-coba.
Telah banyak
kisah nyata yang mengabarkan bahwa si A, yang dulu berhijab dengan baik
sekarang mulai berubah. Sedikit demi sedikit, hijabnya berubah bentuk hingga
akhirnya ditanggalkan sama sekali. Naudzubillah. Lelah hatinya menunggu.
Imannya tergerus oleh kegelisahan akan rindunya pada pernikahan, yang tak kunjung
datang. Akhirnya ia pun ‘menggugat’ Allah. Ia tak lagi mau taat pada-Nya karena
toh ‘sekadar’ suami saja ia beranggapan Allah tak mengabulkannya.
Astaghfirullah.
Sahabat
Muslimah...
Ujian manusia
itu bisa beragam warna. Ibarat sekolah, mustahil tak ada ujian untuk menentukan
kualitas dan pemahaman peserta didik. Dan kehidupan ini adalah madrasah
terbesar manusia untuk menghadapi jenis ujian, apapun itu bentuknya. Ada yang
diuji masalah jodoh yang tak kunjung datang. Ada juga yang diuji sudah ada jodoh
tapi tak sesuai harapan. Yang lainnya lagi, diuji anak yang sangat membangkang
atau orang tua yang selalu turut campur urusan rumah tangga anaknya. Bisa jadi
masalah ekonomi datang menghantam, dipecat tanpa pesangon dengan tiba-tiba.
Atau mungkin saja, penyakit yang tak sembuh-sembuh bahkan nyawa pun harus
kembali pada-Nya dengan cepat.
Inilah hidup.
Toh tak semua melulu berbentuk kesedihan. Ia datang silih berganti dengan
kebahagiaan. Mungkin ada yang belum menemukan belahan jiwa, tapi ia berprestasi
di kuliah. Belum bisa menikah dengan segera, tapi Allah menganugerahinya
keluarga besar yang selalu harmonis. Masih merindu sosok imam yang akan
menuntunnya ke surga, ia masih bisa menumpahkan rindu itu dipertiga malam
dengan tahajudnya. Ia masih bisa berbuat banyak untuk umat disegala bidang yang
ia bisa.
Bersabar itu
memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya.
Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar
biasa.
Bersabar itu
memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya.
Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar
biasa. Bila merasa kesabaran itu sudah mulai menipis, maka harus segera di-recharge.
HP saja bisa lowbat kalau dipakai terus-menerus, apalagi ini kualitas iman.
Maka benarlah kalau tombo ati (penawar hati) itu ada 5: baca Quran dan
maknanya, lakukan salat malam, berkumpul dengan orang-orang salih, perbanyak
puasa dan dzikir di kala malam.
Sungguh,
rasakan manisnya iman saat kita berada dalam kesempitan. Meskipun ketika berada
dalam kelapangan, manisnya iman itu seharusnya juga tetap ada. Tak perlu
tergoda rayuan duniawi, dengan cara berpacaran atau menanggalkan rasa malu
sebagai ciri khas muslimah. Apalagi sampai menanggalkan keimanan hanya karena
pasangan, naudzubillah. Toh, tak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga
nikmat dan bahagianya pernikahan, selalu ada pasang surutnya.
Sembari
bersabar menunggu belahan jiwa datang, mengapa tak fokus untuk mempelajari
dinullah ini? Semakin kita paham Islam dengan baik dan benar, semakin kuat pula
kita memegang tali agama Allah. Dan semakin kuat memegang tali agama Allah,
semakin terasa ‘ringan dan kecil’ penantian ini, insya Allah. Rasakan indahnya
‘kesendirian’ ini karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada
Allah dengan segenap cinta-Nya yang terus menemani bahkan tanpa kita sadari.
Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]
Sumber : http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/09/10/32781/kala-hati-merindu-belahan-jiwa/#sthash.sCTE52BT.dpbs


Tidak ada komentar:
Posting Komentar