Kamis, 05 Desember 2013

Cerpen_perpisahan Bukanlah DUKA




Assalamualaikum Wr.Wb

Apa kabar kawan-kawan ? Semoga masih dalam keadaan sehat walafiat dan masih diselimuti kebahagiaan. Amin.
Baiklah kawan, kali ini saya akan mempublikasikan karya saya berupa “Cerpen”. Berisikan persahabatn yang setia. Walaupun terpisahkan jauh beratus kilometer kami tetap bersahabat. Diperpisahan kami ada tangisan, tangisan kebahagiaan. Em.. intinya disetiap perpisahan bukan hanya duka, melainkan ada kebahagiaan yang tersembunyi.
Ayo... silahkan dibaca !

PERPISAHAN BUKANLAH DUKA
Karya : Iffah Linda Yuliana/ XI TKJ 2

Aku menuruni tangga dengan perlahan bersama teman-temanku. Perasaan gembira menyelimuti hatiku. Kegalauanku karena tugas yang belum kelar kini sudah tuntas. Tepat pada waktunya. Em.. syukurlah aku bisa mengerjar ketertinggalanku selama satu bulan ini absent. Dengan bantuan teman-teman dan guruku aku bisa dengan mudah memahami materi yang disampaikan.
Kali ini tidak seperti biasanya. Seorang lelaki berdiri didepan ku. Berjarak lima meter dariku. Dia berdiri menyandar pada tembok bersama temannya. Seketika itu langkahku terhenti. Sejenak terdiam.

“Tuhan... aku merindukannya” gumamku dalam hati.
“Nayla.. kenapa melamun ?” Putri teman sebangku denganku menyapa ramah. Bertanya hal menyenangkan yang kini aku rasakan. Bukan karena aku bisa mendapat nilai baik atau uang. Melainkan karena kerinduanku kini terobati.
“Eng-g-a-k” jawabku dengan terbata. Aku berusaha menyembunyikan hal ini. Aku tahu jika perasaanku diumbar dengan begitu saja  maka perasaanku akan menjadi bumerang bagiku. Membuatku terhina bahkan ditinggalkan.
Putri berlalu. Aku menghela nafas. Berusaha dengan tenang berjalan melewati dia. Seolah aku tidak melihatnya. Itu sebuah taktik yang aku lakukan agar dia tak mengetahui perasaanku kepadanya.
Aku berjalan melewatinya. Mataku sedikit melirik ke arahnya. Tersenyum tipis.
Aku melihat wajah tenang dan ramah darinya. Tatapan lembutnya menjadi simbol bagiku bahwa dia merespon baik senyumanku. Aku meneruskan perjalananku. Meninggalkannya. Fikiranku melantur kemana-mana. Tatapan matanya membuatku terus berhayal. Yaa.. menhayalkan suatu hal yang berbalik dengan kenyataan kini. Aku kembali focus. Menghilanggkan khayalan itu.

***
Pukul 14.30 WIB aku duduk dipinggir taman. Menuliskan keluh kesahku seharian tadi termasuk kebahagiaanku karena tugasku kelar dan bisa mengobati kerinduanku kepada dia. Sendirian. Aku menikmati desisan angin dan rintikkan hujan yang menetes pelan direrumputan. Sejuk.. merasakan kudara dingin sore ini sendirian dipinggir taman bertemankan sebuah buku dan pena hijau. Aku mensyukurinya.
Perlahan rintikkan hujan itu berubah menjadi guyuran hujan deras. Kertas putih yang menjadi tempat pengungkapan keluh kesahku memudar warnanya terkena percikan air hujan. Rerumputan hijau bergoyang terkena desisan angin yang semakin kencang. Aku tetap pada posisi. Hujan ini bukan masalah bagiku. Justru sebaliknya. Aku menjadi berani dan mandiri. Hujan ini gambaran dari motivasi untukku.
Air hujan yang membasahi kepalaku, membuat fikiranku kembali segar dan terfokus
Air hujan yang membasahi tubuhku, membuat tubuhku kembali berdiri kokoh
Air hujan yang membuat telapak tangan dan kakiku pucat, memebuatku semakin kuat dalam manghadapi permasalahan
Air hujan yang membasahi lembaran putihku, membuatku belajar merelakan apapun yang aku punya
Air hujan yang menerpa seluruh badanku, memberikanku sebuah pesan :

Dalam hidup aku memiliki dua pilihan, “Memilih” atau “Dipilih”. Jika aku memilih, maka aku harus memilih yang terbaik bagiku. Dan jika aku dipilih, maka aku harus menjadi yang terbaik untuknya.
         
Terimaksih Tuhan. Pesanmu tersampaikan mealalui hujan ini.      
Hujan semakin deras. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Mencari tempat yang tenang dan terlindung dari air hujan. Aku menemukan tempat itu. “Ruang kelas”. Sekarang aku berada didalam ruangan gelap sendirian. Ruangan berukuran 9m x 9m dekat dengan taman temapatku tadi. Hanya berjarak sepuluh meter.
Aku merasakan suatu getaran ditubuhku setelah memasuki ruangan itu. Aku mencari sumber getaran dengan perlahan. Ya.. ternyata getaran HandPhoneku. Delisa sahabatku mengirim sebuah pesan. Aku merogoh saku rok dengan perlahan kemudian menegeluarkan HandPhone milikku. Aku membaca pesan-nya.
Delisa       : Nayla. Kamu ada dimana ?
Aku melupakannya. Sewaktu menuruni tangga tadi dan melihat dia, aku menjadi lupa bahwa Delisa masih ada diatas. Mengumpulkan tugas. Dengan santainya aku meninggalkan dan melupakan. Itu salah satu kelemahanku “Lupa”. As soon.. (dengan segera) aku membalasnya.
Nayla       : Diruang 37 dekat taman samping mushola. Memang ada apa Elis ? J
Aku tidak mengetikkan huruf lagi. Menunggu balasan pesan dari Delisa. Berharap dia mau datang ke ruangan gelap ini menemaniku. Berharap.. tigapuluh detik kemudian.
Delisa       : Aku kesana sekarang. Tunggu ya Ayy.. jangan pergi
Senang. Kata itu yang aku petut ungkapkan. Aku akan bersama Delisa diruangan ini. Tidak kesepian lagi. Syukur..
***
Sepuluh menit kemudian Delisa datang.
Hujan deras sudah terhenti lima menit yang lalu. aku masih merasakan dingin. Jakket biru muda kesayanganku menjadi penghangat badanku. Bersyukur. Sedikit bebanku teratasi dengan guyuran hujan ditaman tadi. Delisa mengenakan jaket berwarna cokelat muda bergambar tokoh kartun “Sakura”. Jaket itu adalah kenangan. Jaket pemberianku, dulu saat aku bersamanya pergi ke suatu toko pakaian di Jakarta tepatnya saat Study Tour.
“Ayya..!!” Delisa berlari mendekat denganku. Tubuhku yang dingin didekapnya dengat erat. Aku membalasnya dengan dekapan erat pula. Airmatanya membuatku sakit. Kesakitan lebih dari sekedar sayatan pisau. Aku mendongak ke atas. Bukan untuk melihat langit-langit melainkan untuk menyembunyikan air mataku. Aku berusaha menampung air mataku dan berusaha membuatnya tidak menetes.
“Ada apa Elis ?” tanyaku lembut. Dengan mengusap kerudung putih yang dikenakannya, aku berusaha menenangkan Delisa. Berharap Delisa menangis bukan untuk pergi dariku.
Pertanyaanku tergantung. Tiada jawaban kecuali tangisan. Aku memejamkan mataku. Membayangkan sosok bunda. Denga begitu, perasaan khawatirku akan mereda. Ya.. Bunda salah satu kunci kebahagiaanku selain Delisa dan dia.
***
Ruangan gelap itu menjadi saksi perpisahanku dengan Delisa.
Tigapuluh menit kemudian tangisan Delisa mereda. Aku lega mendengarnya. Aku lepaskan dngan perlahan pelukannya. Air mata yang masih membasahi pipi Delisa aku usap dengan hati-hati. Tatapan matanya kosong. Sepertinya kesedihan sedang merundunya. Aku tak mau terdiam terus. Akhirnya dengan perlahan aku menanyakan hal yang membuat sahabatku ini menangis.
“Delisa. Aku ingin kamu jujur.. ada apa kamu menangis ?”
Pertanyaan itu terlontar dengan bebas seperti dedaunan kering yang terjatuh karena hembusan angin. Tak ku sangka dan tak aku inginkan. Kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut sahabatku “Delisa”. Perpisahan.
“Maafkan aku ya Nay. Perjanjian antara kita dahulu aku langgar. Aku harus pergi ke Bandung bersama bundaku. Ayah dan bunda memutuskan untuk bercerai. Aku ingin bersama bunda selalu karena bunda lah yang menyayangi dan merawatku sejak aku berada dalam kandungan. Aku mohon maaf kepadamu. Aku tidak ingin meninggalkanmu dan memutuskan persahabatan kita ini.”
Air mata Delisa kembali meluncur deras. Aku berusaha tegar dihadapannya. Tersenyum. Aku ingat pesan dia yang disampaikan kepadaku melalui pesan singkat di HandPhone dahulu :
Tetap tersenyum walau sebenarnya kamu ingin menangis,
Tetap tersenyum walau sebenarnya kamu meras kecewa,
Tetaplah kuat walau sebenarnya kamu sudah tak sanggup lagi,
Tetaplah semangat walau sebenarnya kau sedang tertekan.
Yang terpenting : Tetaplah sabar dan memandang segalanya  baik-baik saja walaupun kamu terluka.

Mataku berkaca-kaca. Kembali ku dekap tubuh Delisa. Rasanya ini seperti perpisahan terakhir antara aku dengannya. Tapi dengan melihat wajah Delisa, aku bisa merasakan kehadiran Delisa selalu dihidupku. Aku memberanikan diri untuk memberikan Delisa motivasi.
“Hard times dont last forever, but true friendships do... I’ll always be there for anything you need... Even if its just someone to listen.”
Kebiasaanku berceloteh dengan bahasa inggris sedikit demi sedikit memberikanku kemudahan untuk berbicara bahasa inggris. Aku sangat mengenal Delisa. Hobinya berbicara inggris menjadi alsanku untuk berceloteh bahasa inggris. Tak jarang Delisa memperoleh piala lomba “Debat Bahsa Inggris”. Penghargaan yang membuatnya senang.
“Terimakasih Nay. Semoga persahabatan kita tak terhenti sampai disini. Setiap hari kita bisa berkomunikasi kan ? Aku mohon !” akhirnya Delisa bisa mengeluarkan suara merdunya. Dirinya yang terkukung dalam kesedihan tak membuatku down. Aku justru sadar harus memberikannya motivasi agar dia bisa melakukan yang lebih baik tanpa aku disampingnya. She is the best.
***
Selasa, 18 Mei 2012 aku melepaskan Delisa pergi. Aku bersama bunda mengantarnya sampai bandara “Adi Sucipto” Jogjakarta. Perpisahan ini bukan penghalang untukku untuk melangkah maju. Toh.. aku masih bisa berkomunikasi dengannya. Syukur.. aku tak lupa memberikan hadiah untuk Delisa berupa jam tangan dengan gambarku dan dia. Sengaja aku pesan sejak dulu. Yang aku rencakan sebagai hadiah untuk Delisa usianya 17 tahun besok Juni. Tapi perencanaan itu gagal. Tuhan mengubahnya.
Sebelum Delisa dan bundanya pergi. Aku memeluk Delisa dengan erat. Bisikkan kata indah aku ucapka ditelinganya.
“Selemah-lemahnya manusia ialah yang tak boleh mencari sahabat dan yang lebih lemah ialah orang yang mensia-siakan sahabat yang telah dicarinya. Jangan lupa terus berkomunikasi ya.. aku menunggumu disini. InsyaAllah aku akan menyusulmu”
Aku lepaskan pelukanku dengan perlahan. Hingga dia datang secaa tiba-tiba.
“Semoga selamat sampai Bandung Delisa..” suara dia terdengar jelas ditelingaku. Aku seketika menoleh pelan. Seorang lelaki mengenakan kaos biru hijau rapi dan celana jeans berdiri disamping bunda. Aku terkejut dengan kejadian ini. Tak ku sangka dia akan datang.
“Ini hadiahku untukmu.. semoga kamu senang Nay. Dan perlu kamu ketahui kak Deka juga mencintaimu”
Apakah ini mimpi ? atau lamunanku ?. Ya.. pertanyaan-pertanyaan itu terkukung dalam hatiku. Tak bisa aku lontarkan. Ini kejutan membahagiakan bagiku. Terimakasih Delisa.
***
Satu minggu setalah kejadian di bandara, aku mulai dekat dengan kak Deka. Bukan sebagai kekasih melainkan seperti teman. Dia mengajarkanku untuk lebih memaknai hidup dan bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain terutama ayah dan bunda.
Suatu pesan darinya yang membuatku berbahagia :



 

“Ketika akad itu telah terucap,
Ada sebuah amanah baru yang harus kita tanggung bersama,
Amanah sebagai seorang istri dan suami,

Sebuah perjanjian yang telah terikrarkan,
Tidak hanya dihadapan penghulu dan orang-orang,
Namun perjanjian yang disaksikan para malaikat,
Dan Allah-pun memberikan amanah kita untuk menjaga,
Perjanjian suci terqabul,
Ada yang kita perjuangkan bersama-sama,
Mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah,
Keluarga yang senantiasa berada dalam keberkahan Allah.”

Dan aku sekarang bisa melepas kepergian Delisa dengan baik. Dia menjadi pelindungku. Terimaksih Tuhan. Aku tak akan salah langkah. Aku akan buktikan itu ke kak Deka dan semua orang yang menyayangiku.

--- Jangan Sia-siakan Sahabat ---






hemb .. sudah selesai ya. J
semoga cerpenku ini bisa memotivasi kawan-kawan sekalian. Jangan menyerah, teruslah mengejar targetmu. Jadikan kepercayaan dirimu sabagai awal.
“DONT BE IMPOSSIBLE”

Jadikan kesalahan hal yang baik untuk diperbaiki bukan diulang.
Tidak ada perkataan :
“Aku sering berbuat salah..”
Adanya perkataan :
“Aku pernah berbuat salah”

Semangat kawan-kawanku. ! Lakukan yang terbaik.
Good bye::

Wassalamualaikum wr.wb.
Ttd : Iffah Linda Yuliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar