Assalamualaikum
Wr.Wb
Apa kabar
kawan-kawan ? Semoga masih dalam keadaan sehat walafiat dan masih diselimuti
kebahagiaan. Amin.
Baiklah kawan,
kali ini saya akan mempublikasikan karya saya berupa “Cerpen”. Berisikan
persahabatn yang setia. Walaupun terpisahkan jauh beratus kilometer kami tetap
bersahabat. Diperpisahan kami ada tangisan, tangisan kebahagiaan. Em.. intinya
disetiap perpisahan bukan hanya duka, melainkan ada kebahagiaan yang
tersembunyi.
Ayo...
silahkan dibaca !
PERPISAHAN
BUKANLAH DUKA
Karya : Iffah Linda Yuliana/
XI TKJ 2
Aku
menuruni tangga dengan perlahan bersama teman-temanku. Perasaan gembira
menyelimuti hatiku. Kegalauanku karena tugas yang belum kelar kini sudah
tuntas. Tepat pada waktunya. Em.. syukurlah aku bisa mengerjar ketertinggalanku
selama satu bulan ini absent. Dengan bantuan teman-teman dan guruku aku bisa
dengan mudah memahami materi yang disampaikan.
Kali
ini tidak seperti biasanya. Seorang lelaki berdiri didepan ku. Berjarak lima
meter dariku. Dia berdiri menyandar
pada tembok bersama temannya. Seketika itu langkahku terhenti. Sejenak terdiam.
“Tuhan...
aku merindukannya” gumamku dalam hati.
“Nayla..
kenapa melamun ?” Putri teman sebangku denganku menyapa ramah. Bertanya hal
menyenangkan yang kini aku rasakan. Bukan karena aku bisa mendapat nilai baik
atau uang. Melainkan karena kerinduanku kini terobati.
“Eng-g-a-k”
jawabku dengan terbata. Aku berusaha menyembunyikan hal ini. Aku tahu jika
perasaanku diumbar dengan begitu saja
maka perasaanku akan menjadi bumerang bagiku. Membuatku terhina bahkan
ditinggalkan.
Putri
berlalu. Aku menghela nafas. Berusaha dengan tenang berjalan melewati dia. Seolah aku tidak melihatnya. Itu
sebuah taktik yang aku lakukan agar dia tak
mengetahui perasaanku kepadanya.
Aku
berjalan melewatinya. Mataku sedikit melirik ke arahnya. Tersenyum tipis.
Aku
melihat wajah tenang dan ramah darinya. Tatapan
lembutnya menjadi simbol bagiku bahwa dia merespon baik senyumanku. Aku
meneruskan perjalananku. Meninggalkannya. Fikiranku melantur kemana-mana. Tatapan
matanya membuatku terus berhayal. Yaa.. menhayalkan suatu hal yang berbalik
dengan kenyataan kini. Aku kembali focus. Menghilanggkan khayalan itu.
***
Pukul
14.30 WIB aku duduk dipinggir taman. Menuliskan keluh kesahku seharian tadi
termasuk kebahagiaanku karena tugasku kelar dan bisa mengobati kerinduanku
kepada dia. Sendirian. Aku menikmati
desisan angin dan rintikkan hujan yang menetes pelan direrumputan. Sejuk..
merasakan kudara dingin sore ini sendirian dipinggir taman bertemankan sebuah
buku dan pena hijau. Aku mensyukurinya.
Perlahan
rintikkan hujan itu berubah menjadi guyuran hujan deras. Kertas putih yang
menjadi tempat pengungkapan keluh kesahku memudar warnanya terkena percikan air
hujan. Rerumputan hijau bergoyang terkena desisan angin yang semakin kencang.
Aku tetap pada posisi. Hujan ini bukan masalah bagiku. Justru sebaliknya. Aku
menjadi berani dan mandiri. Hujan ini gambaran dari motivasi untukku.
Air hujan
yang membasahi kepalaku, membuat fikiranku kembali segar dan terfokus
Air hujan
yang membasahi tubuhku, membuat tubuhku kembali berdiri kokoh
Air hujan
yang membuat telapak tangan dan kakiku pucat, memebuatku semakin kuat dalam
manghadapi permasalahan
Air hujan
yang membasahi lembaran putihku, membuatku belajar merelakan apapun yang aku
punya
Air hujan
yang menerpa seluruh badanku, memberikanku sebuah pesan :
Dalam hidup aku
memiliki dua pilihan, “Memilih” atau “Dipilih”. Jika aku memilih, maka aku
harus memilih yang terbaik bagiku. Dan jika aku dipilih, maka aku harus menjadi
yang terbaik untuknya.
Terimaksih
Tuhan. Pesanmu tersampaikan mealalui hujan ini.
Hujan
semakin deras. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Mencari
tempat yang tenang dan terlindung dari air hujan. Aku menemukan tempat itu.
“Ruang kelas”. Sekarang aku berada didalam ruangan gelap sendirian. Ruangan
berukuran 9m x 9m dekat dengan taman temapatku tadi. Hanya berjarak sepuluh
meter.
Aku
merasakan suatu getaran ditubuhku setelah memasuki ruangan itu. Aku mencari
sumber getaran dengan perlahan. Ya.. ternyata getaran HandPhoneku. Delisa
sahabatku mengirim sebuah pesan. Aku merogoh saku rok dengan perlahan kemudian
menegeluarkan HandPhone milikku. Aku membaca pesan-nya.
Delisa :
Nayla. Kamu ada dimana ?
Aku
melupakannya. Sewaktu menuruni tangga tadi dan melihat dia, aku menjadi lupa bahwa Delisa masih ada diatas. Mengumpulkan
tugas. Dengan santainya aku meninggalkan dan melupakan. Itu salah satu
kelemahanku “Lupa”. As soon.. (dengan segera) aku membalasnya.
Nayla : Diruang 37 dekat taman samping mushola. Memang ada apa Elis
? J
Aku
tidak mengetikkan huruf lagi. Menunggu balasan pesan dari Delisa. Berharap dia
mau datang ke ruangan gelap ini menemaniku. Berharap..
tigapuluh detik kemudian.
Delisa :
Aku kesana sekarang. Tunggu ya Ayy.. jangan pergi
Senang.
Kata itu yang aku petut ungkapkan. Aku akan bersama Delisa diruangan ini. Tidak
kesepian lagi. Syukur..
***
Sepuluh
menit kemudian Delisa datang.
Hujan
deras sudah terhenti lima menit yang lalu. aku masih merasakan dingin. Jakket
biru muda kesayanganku menjadi penghangat badanku. Bersyukur. Sedikit bebanku
teratasi dengan guyuran hujan ditaman tadi. Delisa mengenakan jaket berwarna
cokelat muda bergambar tokoh kartun “Sakura”. Jaket itu adalah kenangan. Jaket
pemberianku, dulu saat aku bersamanya pergi ke suatu toko pakaian di Jakarta
tepatnya saat Study Tour.
“Ayya..!!”
Delisa berlari mendekat denganku. Tubuhku yang dingin didekapnya dengat erat.
Aku membalasnya dengan dekapan erat pula. Airmatanya membuatku sakit. Kesakitan
lebih dari sekedar sayatan pisau. Aku mendongak ke atas. Bukan untuk melihat
langit-langit melainkan untuk menyembunyikan air mataku. Aku berusaha menampung
air mataku dan berusaha membuatnya tidak menetes.
“Ada
apa Elis ?” tanyaku lembut. Dengan mengusap kerudung putih yang dikenakannya,
aku berusaha menenangkan Delisa. Berharap Delisa menangis bukan untuk pergi
dariku.
Pertanyaanku
tergantung. Tiada jawaban kecuali tangisan. Aku memejamkan mataku. Membayangkan
sosok bunda. Denga begitu, perasaan khawatirku akan mereda. Ya.. Bunda salah
satu kunci kebahagiaanku selain Delisa dan dia.
***
Ruangan gelap itu menjadi saksi
perpisahanku dengan Delisa.
Tigapuluh
menit kemudian tangisan Delisa mereda. Aku lega mendengarnya. Aku lepaskan
dngan perlahan pelukannya. Air mata yang masih membasahi pipi Delisa aku usap
dengan hati-hati. Tatapan matanya kosong. Sepertinya kesedihan sedang
merundunya. Aku tak mau terdiam terus. Akhirnya dengan perlahan aku menanyakan
hal yang membuat sahabatku ini menangis.
“Delisa.
Aku ingin kamu jujur.. ada apa kamu menangis ?”
Pertanyaan
itu terlontar dengan bebas seperti dedaunan kering yang terjatuh karena
hembusan angin. Tak ku sangka dan tak aku inginkan. Kalimat menyakitkan itu
keluar dari mulut sahabatku “Delisa”. Perpisahan.
“Maafkan
aku ya Nay. Perjanjian antara kita dahulu aku langgar. Aku harus pergi ke
Bandung bersama bundaku. Ayah dan bunda memutuskan untuk bercerai. Aku ingin
bersama bunda selalu karena bunda lah yang menyayangi dan merawatku sejak aku
berada dalam kandungan. Aku mohon maaf kepadamu. Aku tidak ingin meninggalkanmu
dan memutuskan persahabatan kita ini.”
Air
mata Delisa kembali meluncur deras. Aku berusaha tegar dihadapannya. Tersenyum.
Aku ingat pesan dia yang disampaikan
kepadaku melalui pesan singkat di HandPhone dahulu :
Tetap tersenyum walau sebenarnya kamu ingin menangis,
Tetap tersenyum walau sebenarnya kamu meras kecewa,
Tetaplah kuat walau sebenarnya kamu sudah tak sanggup lagi,
Tetaplah semangat walau sebenarnya kau sedang tertekan.
Yang terpenting : Tetaplah
sabar dan memandang segalanya baik-baik
saja walaupun kamu terluka.
Mataku
berkaca-kaca. Kembali ku dekap tubuh Delisa. Rasanya ini seperti perpisahan
terakhir antara aku dengannya. Tapi dengan melihat wajah Delisa, aku bisa
merasakan kehadiran Delisa selalu dihidupku. Aku memberanikan diri untuk
memberikan Delisa motivasi.
“Hard
times dont last forever, but true friendships do... I’ll always be there for anything
you need... Even if its just someone to listen.”
Kebiasaanku
berceloteh dengan bahasa inggris sedikit demi sedikit memberikanku kemudahan
untuk berbicara bahasa inggris. Aku sangat mengenal Delisa. Hobinya berbicara
inggris menjadi alsanku untuk berceloteh bahasa inggris. Tak jarang Delisa
memperoleh piala lomba “Debat Bahsa Inggris”. Penghargaan yang membuatnya
senang.
“Terimakasih
Nay. Semoga persahabatan kita tak terhenti sampai disini. Setiap hari kita bisa
berkomunikasi kan ? Aku mohon !” akhirnya Delisa bisa mengeluarkan suara
merdunya. Dirinya yang terkukung dalam kesedihan tak membuatku down. Aku justru
sadar harus memberikannya motivasi agar dia bisa melakukan yang lebih baik
tanpa aku disampingnya. She is the best.
***
Selasa,
18 Mei 2012 aku melepaskan Delisa pergi. Aku bersama bunda mengantarnya sampai
bandara “Adi Sucipto” Jogjakarta. Perpisahan ini bukan penghalang untukku untuk
melangkah maju. Toh.. aku masih bisa berkomunikasi dengannya. Syukur.. aku tak
lupa memberikan hadiah untuk Delisa berupa jam tangan dengan gambarku dan dia.
Sengaja aku pesan sejak dulu. Yang aku rencakan sebagai hadiah untuk Delisa
usianya 17 tahun besok Juni. Tapi perencanaan itu gagal. Tuhan mengubahnya.
Sebelum
Delisa dan bundanya pergi. Aku memeluk Delisa dengan erat. Bisikkan kata indah
aku ucapka ditelinganya.
“Selemah-lemahnya
manusia ialah yang tak boleh mencari sahabat dan yang lebih lemah ialah orang
yang mensia-siakan sahabat yang telah dicarinya. Jangan lupa terus
berkomunikasi ya.. aku menunggumu disini. InsyaAllah aku akan menyusulmu”
Aku
lepaskan pelukanku dengan perlahan. Hingga dia
datang secaa tiba-tiba.
“Semoga
selamat sampai Bandung Delisa..” suara dia
terdengar jelas ditelingaku. Aku seketika menoleh pelan. Seorang lelaki
mengenakan kaos biru hijau rapi dan celana jeans berdiri disamping bunda. Aku
terkejut dengan kejadian ini. Tak ku sangka dia
akan datang.
“Ini
hadiahku untukmu.. semoga kamu senang Nay. Dan perlu kamu ketahui kak Deka juga
mencintaimu”
Apakah
ini mimpi ? atau lamunanku ?. Ya.. pertanyaan-pertanyaan itu terkukung dalam
hatiku. Tak bisa aku lontarkan. Ini kejutan membahagiakan bagiku. Terimakasih
Delisa.
***
Satu
minggu setalah kejadian di bandara, aku mulai dekat dengan kak Deka. Bukan
sebagai kekasih melainkan seperti teman. Dia
mengajarkanku untuk lebih memaknai hidup dan bisa memberikan kebahagiaan
untuk orang lain terutama ayah dan bunda.
Suatu
pesan darinya yang membuatku berbahagia :
“Ketika akad itu
telah terucap,
Ada sebuah amanah
baru yang harus kita tanggung bersama,
Amanah sebagai
seorang istri dan suami,
Sebuah perjanjian
yang telah terikrarkan,
Tidak hanya
dihadapan penghulu dan orang-orang,
Namun perjanjian
yang disaksikan para malaikat,
Dan Allah-pun
memberikan amanah kita untuk menjaga,
Perjanjian suci
terqabul,
Ada yang kita
perjuangkan bersama-sama,
Mewujudkan keluarga
yang sakinah, mawadah, warahmah,
Keluarga yang
senantiasa berada dalam keberkahan Allah.”
Dan
aku sekarang bisa melepas kepergian Delisa dengan baik. Dia menjadi
pelindungku. Terimaksih Tuhan. Aku tak akan salah langkah. Aku akan buktikan
itu ke kak Deka dan semua orang yang menyayangiku.
--- Jangan Sia-siakan Sahabat ---
hemb .. sudah selesai
ya. J
semoga cerpenku ini
bisa memotivasi kawan-kawan sekalian. Jangan menyerah, teruslah mengejar
targetmu. Jadikan kepercayaan dirimu sabagai awal.
“DONT BE IMPOSSIBLE”
Jadikan kesalahan hal
yang baik untuk diperbaiki bukan diulang.
Tidak ada perkataan :
“Aku sering berbuat salah..”
Adanya perkataan :
“Aku pernah berbuat salah”
Semangat kawan-kawanku.
! Lakukan yang terbaik.
Good bye::
Wassalamualaikum wr.wb.
Ttd : Iffah Linda
Yuliana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar