Indonesia
Rawan Gempa Akibat Pertemuan Lempeng Tektonik
Rabu, 09 September 2009 10:45 wib
Zona
gempa di Indonesia (Foto: Ist)
Dadan
Muhammad Ramdan - Okezone
JAKARTA
- Sejumlah wilayah di Indonesia berualang kali dilanda gempa bumi. Dalam retang
waktu yang terbilang singkat gempa mengguncang Tasikmalaya, Yogyakarta, Aceh,
Nusa Tenggara Barat, Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Akibat gempa tidak hanya
merusakan bangunan, namun banyak menelan korban jiwa. Lalu seperti apa
antisipasi dalam menghadapi ancaman gempa di Tanah Air?
Menurut
Kepala Badan Geologi Departemen ESDM R Sukhyar, selama ada dinamika di lapisan
bumi, maka akan tetap terjadi potensi gempa. "Setiap hari kita mencat ada
gempa, cuma skalanya beragam. Lempeng-lempeng yang bergerak menjadikan potensi
gempa," paparnya saat berbincang dengan okezone, Rabu (9/9/2009).
Potensi gempa di Indonesia memang terbilang
besar, sebab berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar yang aktif
bergerak. Daerah rawan gempa tersebut membentang di sepanjang batas lempeng
tektonik Australia dengan Asia, lempeng Asia dengan Pasifik dari timur hingga
barat Sumatera sampai selatan Jawa, Nusa Tenggara, serta Banda.
Kemudian
interaksi lempeng India-Australia, Eurasia dan Pasifik yang bertemu di Banda
serta pertemuan lempeng Pasifik-Asia di Sulawesi dan Halmahera. Kata Sukhyar,
terjadinya gempa juga berkaitan dengan sesar aktif. Di antaranya sesar
Sumatera, sesar Palu, atau sesar di yang berada di Papua. Ada juga sesar yang
lebih kecil di Jawa seperti sesar Cimandiri, Jawa Barat.
Berhubung
sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi baik waktu, tempat
dan intensitas gempa di Indonesia, maka zona-zona yang masuk rawan gempa harus
mendapat perhatian. Sukhyar menjelaskan, ada dua pendekatan untuk mengantisipasi
terjadinya gempa agar tidak menimbulkan dampak yang besar.
Pertama,
pendekatan struktural yakni mengikuti kaidah-kaidah konstruksi yang benar dan
memasukan parameter kegempaan dalam mendirikan bangunan. "Ya bisa
dikatakan rumah tahan gempalah," imbuhnya yang menilai rumah jenis ini
tidak identik mahal namun dibangun sederhana tapi memerhatikan parameter
kegempaan.
Kedua,
pendekatan nonstruktural dengan membuat peta rawan bencana gempa. Informasi
potensi gempa ini dimasukan dalam perencanaan wilayah. Ketiga, intensif
melakukan sosialisasi kepada masyarakat terhadap pemahaman dan pelatihan
penyelamatan dampak gempa. "Baik secara langsung mapun jalur
pendidikan," terang Sukhyar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar