Rabu, 16 Juli 2014

SAAT HATI BICARA


Posting CERPEN setelah sekian lama break.
Bismillah...

SAAT HATI BICARA
Karya : Iffah Linda Yuliana



Ana duduk sendirian dikursi loby sekolah pagi ini. Tujuannya tidak lain menunggu sahabatnya Gracia seperti hari-hari sebelumnya. Sembari menunggu Gracia tiba disekolah, Ana sejenak memainkan handphone jadulnya. Tidak lain aplikasi favorit Ana yang dimainkan adalah IQ Test.

Lima menit... sepuluh menit... hingga lima belas menit menunggu diloby sekolah tidak membuahkan hasil. Gracia tidak seperti biasanya. Ana melirik ke arah jarum jam ditangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 06.40 WIB. Akhirnya Ana memutuskan masuk kelas terlebih dulu meninggalkan Gracia yang tak kunjung datang.
“Kamu dimana Ci ?” pesan singkat Ana untuk dikirimkan ke sebuah kontak bernama “My Cia”.
Ting ting ting.... ting ting ting ting...
Bel tanda masuk berbunyi keras melalui speaker kelas.
Hari ini Ana terpaksa duduk bersama Riki teman kelasnya yang terkenal cerdas dan cuek. Tidak  lama kemudian seorang guru masuk ke dalam ruangan membopong tas hitam dipunggungnya. Dialah pak Justinus, guru mata pelajaran matematika untuk kelas XI Teknik Komputer Jaringan.
“Pagi anak-anak ! Silahkan ketua kelas memimpin doa.” Perintah pak Justinus cepat
“Mari teman-teman sebelum perlajaran dimulai, kita bersama-sama berdoa memohon kelancaran dalam belajar. Berdoa, dimulai... !” “Cukup” Toni selaku ketua kelas alih bicara.
Drettt.... drettt.... drettt....
Handphone disaku Ana bergetar. Secara diam-diam Ana mengeluarkannya lantas membuka pesan masuk.
“Hr ini aku gak masuk Na. Tolong ijinnin ke pak Justinus !” ternyata Gracia, menjawab pesan.
Ana kembali menghadap papan hitam kelas yang penuh kevandalan para siswa. “Mungkin Cia baru ada urusan. Gak mungkinlah kalau dia sakit”gumam Ana lantas menyaku kembali handphonenya.
“Baiklah sebelum pelajaran dimulai saya absen dulu. Apa ada yang belum hadir ?”
Ana mengacungkan tangan.
“Gracia izin pak” ucap Ana lantang padahal bangku duduknya berada dipaling depan.
“Ada yang lain ?” lanjut pak Justinus
Tidak ada siswa yang mengancungkan tangan. Pak Justinus lantas melanjutkan ke materi.
Pukul 09.00 WIB
“Kerjakan soal-soal dimodul halaman 55 dari nomor 1 sampai 20 dikertas terlepas. Tugas ini sifatnya kelompok. Maksimum dan minimum anggotanya dua orang. Mengerti ?” diakhir pembelajarannya, pak Justinus memberikan tugas baru untuk minggu depan.
Dideretan depan terlihat Ana begitu murung. Sedari pagi hanya diam dan tersenyum saat ada teman yang memanggil. Riki yang terkenal begitu cuek namun perhatian itu sedikit menggoda Ana.
“Gak usah galauin tugasnya pak Justinus dong !” celoteh Riki dari samping Ana duduk
Ana masih terpaku diam. Dalam fikirnya terus terbayang keadaan Gracia.
“Woooyyyy .... Bengong ??” telapak tangan Riki mondar-mandir dihadapan wajah Ana.
Ana masih tersungkur dalam diamnya.
“Ehh Manda, Popi, and the girls... kenapa si Ana ?” Riki terus mencoba mencari tahu.
Manda, Popi, dan siswi lainnya hanya menggeleng dan mengangkat bahu masing-masing.
Riki merasa empati kepada gadis lembut disampingnya yang sudah dua tahun ini didambakannya. Riki tidak lantas pergi meninggalkan Ana sendirian, sebelum ia keluar ruangan dipanggillah Manda yang bergurau dibelakang.
“Manda ! Temenin Ana disini !” teriak Riki
“Mau kemana Rik ?” Manda balas berteriak
“Bentar doang bung !” Riki menutup pintu ruangan.
Manda duduk disamping Ana. Dilihatnya raut wajah teduh Ana.
Memang gak salah Ana jadi siswi favorit kelas ini ngalahin sepuluh siswi lain. Disamping kepinterannya yang melebihiku, dia juga tenang. Wajahnya enak dipandang dari deket. Tapi jilbabnya kegedean menurutku. Ahh.. kan emang yang bener jilbab kaya Ana. huuuhhh” Manda terus mendengus.
Drettt... drettt... drettt...
Handpone Ana bergetar. Ana masih terus melamun hingga tidak sadar Manda mengambil handphonenya dalam laci meja. Perlahan Manda menekan tombol buka.
“Dek Ana. Gaji kamu 5 juta tiga bulan kerja ini mau diambil kapan ? Saya rencana mau ke Jakarta besok pagi jadi jangan mendadak ya mintanya !”
Manda sangat terkejut dengan isi pesan dari kontak bernama “Mas Mano”. Manda terus bertanya-tanya kapan Ana kerja ? Dimana ? Jadi apa ? kok rasanya aku gak pernah liat dia kecapekan bahkan telat ? Manda kembali mengumam.
Riki kembali membawa minuman botol dan sebuah roti selai cokelat yang biasanya dibeli Ana dan Gracia diwaktu istirahat. Melihat Riki datang, Manda segera mengembalikan handphone Ana ke laci tanpa mengembalikan pesan.
“Ana masih belum ngomong !” ungkap Manda berusaha menutupi kegugupannya.
“Tumben Ana kaya gini ! Apa karena Gracia ?” Riki balik bertanya
“Mungkin.. dan ahhh... i dont know” Manda kembali ke belakangan bergabung dengan teman-teman lainnya.
“A-n-a... !!!” untuk pertama kalinya Riki bersikap lembut dan penuh kasih menghadapi cewek. Untuk pertama kalinya semasa ia bersekolah di SMK.
Ana membuat semua siswa diruangan terkejut. Tiba-tiba tanpa sebab ia mendorong kursinya lantas berlari keluar kelas tanpa mengambil handphone dilacinya.
Drettt... drettt... drettt...
Handpone Ana kembali bergetar. Riki enggan menghiraukannya. Namun semakin lama ia terdiam, ia justru penasaran dan akhirnya diambillah handphone Ana dilaci.
Riki terlebih dulu melihat isi pesan yang sama dengan apa yang dibaca oleh Manda. Kemudian pesan baru yang menggetarkan handphone dibuka.
“Tuhan berkehendak lain sayang ! Gracia kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang satu jam lalu di Rumah Sakit Permana Indah. Pemakamannya nanti pukul tiga sore. Maafkan semua salah Gracia sayang !” kabar meninggalnya Gracia pertama kali diketahui Riki lewat SMS ibunda dari Gracia.
Tidak lama kemudian Riki berdiri didepan kelas.
“Tolong semuanya duduk ! Ada berita duka untuk kita !”
Ana sampai dipintu ruangan dan berhenti sejenak menghapus air matanya. Perlahan ia masuk ke ruangan dengan ekspresi wajah ceria seperti biasanya. Namun kedatangan Ana tidak diketahui oleh Riki sehingga Riki meneruskan bicara.
Semua siswa didalam ruangan diam dan duduk dibangku masing-masing kecuali Ana.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun. Salah seorang rekan kita Gracia kembali ke pangkuan Allah satu jam lalu di RS Permana Indah dan akan dimakamkan pukul tiga sore nanti. Ayo kita melayat sepulang sekolah !”
Blekk..
Kepala Ana terbentur meja deretan depan kelas setelah mendengar kabar buruk meninggalnya Gracia. Seketika semua siswa diruangan termasuk Riki beralih tatapan ke arah Ana pingsan.
“Aaaa Naaa...” dua pertiga siswa dalam ruangan berseru panik melihat Ana tidak sadarkan diri.
Riki, Toni, Mail, Manda, Nisti, Riko, dan Sinta bersama-sama membopong Ana ke UKS tanpa alat. Kecemasan mereka terhadap Ana membuat mereka secepatnya ingin menyadarkan si Ratu kelas itu.
“Aaaa naaa... Kamu kuat Na ! Kamu bisa tetep senyum meskipun Gracia pergi ! Ayo Naaa sadar” Sinta yang tidak lain adalah rekan Ana sejak SMP merasa begitu empati kepada rekan baikknya itu.
“Naaa sadar Naaa” Riki sahut berseru
“Kamu kuat Ana ! Wanita sholihah sepertimu pasti tegar dan ikhlas menghadapi semua ini !” Manda kali ini histeris. Baru dilihatnya wajah redup dan tenang Ana saat tidak sadarkan diri.
“Udahh coy ! Ana butuh ketenangan bukan tangisan kalian !” dengan bijak Riko memecah kehisterisan. Semua fokus belari ke arah UKS membopong Ana bersamaan.
“Ada ada ini ?” bu Maya menegur, namun tidak satupun siswa menjawab. Bu Maya ikut berlari melihat para siswa yang panik.
Setibanya di UKS sekolah.
“Biarin Ana tenang dulu didalem. Gue, Tino, sama Sinta disini kalian balik ke kelas aja” ucap Riko didepan UKS.
“Gue tetep disini” Riki sahut ketus.
“Oke.. berempat cukup ! Dont talking more !” Riko menutup pembicaraan lantas duduk dikursi panjang yang ada didepan UKS.
“Bentar ! Ini aku mau tanya. Apa ada yang tahu kalau Ana kerja ?” Manda masih heran dengan sms yang masuk dihandphone Ana tadi dikelas.
Semua menggeleng. “Emang Ana kerja ? Kok kamu tahu Man ?” Riki balik bertanya. Kali ini wajahnya menyimpan keheranan.
“Tadi aku buka sms dihandphonenya. Kontaknya namanya mas Mano. Dia punya gaji 5juta yang belum diambil loh ! Pejuang bener !” layaknya bung Karno, Manda berorasi didepan rekan-rekannya.
“Huss.. balik kelas sono ! Ijinin gue, Sinta, Tino, sama Riki ke Bu Maya kalau kita nungguin Ana. huss.. huss..” Riko mendorong pundak Manda dengan paksa tanpa menghiraukan yang lainnya.
“Slow aja Pak ! Aku juga mau balik.. bye..” Manda melepas cengkraman tangan Riko.
“Ehhh.. nitip salam buat Ana kalau dia udah sadar. Kabarin aku juga nanti kalau ada apa-apa !” lanjut Manda ditengah perjalannannya kembali ke kelas.
“Subhanallah banget si Ana. Masih sekolah aja udah punya kerja sambilan, apalagi udah lulus besok. Beruntung banget cowoknya juga Gracia punya sahabat kaya Ana. Andai aja aku...”
“Ehh.. Ana sadar !” Riki memotong ucapan Sinta.
“Gracia ! Gracia !” untuk pertama kalinya Ana berteriak dihadapan teman-temannya. Meskipun suaranya hanya terdengar semua orang di UKS namun tetap saja teman-teman Ana terkejut dengan sikap Ana yang berbanding terbalik dengan hari biasanya.
“Gracia dirumahnya Na ! Nanti kita kesana bareng ya ?!” Riki berusaha menenangkan Ana yang mulai menangis.
“Sekarang...” tangisan Ana pecah. Semua yang ada di dalam UKS tidak pernah menyangka akan kehilangan Gracia dan tidak pernah menduga Ana berlaku seperti sekarang. Menangis dan terus memanggil nama sahabatnya.
“Kita ke rumah Gracia sekarang ! Ibu sudah minta izin ke BK. Riko berboncengan dengan Tino, Sinta sama ibu, Ana sama Riki” tiba-tiba ditengah kepiluaan Ana datang sang penyelamat keadaan buruk ini. Bu Maya tanpa diduga datang membawa kabar baik. Tanpa waktu lama semua mulai bergegas, kecuali Ana. Ana terus menangis dan duduk diatas ranjang UKS.
“Kamu kenapa Ana ? Hari ini semua temanmu khawatir dengan keadaanmu dan juga semua merasa kehilangan karena kepergian Gracia” bu Maya mendekat  ke ranjang. Semua teman Ana yang tadinya berada di UKS terlebih dulu pergi.
Ana merenggut badan bu Maya, menangis dalam pelukan.
“Ana berjanji hari ini akan makan bersama Gracia di rumah makan favorit Gracia, bu. Tapi.. kenapa Allah terlebih dulu membatalkan rencana ini ?!” Ana menyalahkan keadaan. Semangatnya mulai runtuh beriringan dengan banyaknya air mata yang keluar dari pelupuk mata. Bu Maya begitu empati dengan siswi kesayangannya yang terkenal ceria, cerdas, dan alim ini. Padahal tadi pagi Ana masih bisa tertawa ceria diloby sekolah sebelum duduk di loby sekolah.
“Apapun yang terjadi besok kita tidak ada yang tahu selain Allah. Begitupun dengan sekarang, kemarin kita tidak tahu bahwasanya Gracia akan kembali ke pangkuan Allah hari ini. Sekarang yang bisa Ana lakukan adalah berdoa dan berziarah ke sana. Gracia dan keluarganya adalah muallaf, apa salahnya Allah memberikan ujian ini. Gracia tidak mau sahabat baiknya ini menangis karena kepergiannya, jadi kamu harus ikhlas Ana.” bu Maya melepas pelukan Ana, perlahan jemarinya mengusap air mata yang membasahi wajah ceria Ana.
“Sudahlah. Sekarang kita ke rumah Gracia. Diluar sana masih banyak sahabatmu yang menunggu. Apa kamu mau menyia-nyiakan itu ?” tanya bu Maya bijak.
Ana menggeleng. Jemarinya menyeka sudut-sudut mata.
“Tapi Ana maunya bareng sama bu Maya bukan Riki. Bukan mahram bu” tutur Ana lembut. Di situasi yang terasa genting, Ana masih tetap taat dengan syariat agama.
“Iya sayang. Kamu bonceng ibu. Tunggu didepan gedung sekolah, ibu mau ambil motor diparkir guru dulu. Jangan nangis terus ya, awas kalau ibu lihat kamu masih nangis ! nanti ibu tinggal” bu Maya sedikit menggoda Ana.
Ana mengangguk pelan.
Semua sudah bersiap didepan gedung sekolah.
“Ayo sayang ! Helm nya dipakai dulu !” pinta bu Maya kepada Ana
“Gak jadi bareng aku Na ?” tanya Riki dengan heran.
“Udah ! aku yang bareng kamu Rik. Gak usah sedih dong... Slow” sahut Sinta dengan gaya celotehnya.
“Yahh.. oke” wajah Riki yang tadinya girang dikarenakan akan membocengkan Ana menjadi suntuk dan malas setelah mendengar Sinta yang ternyata akan memboncengnya.
“Sudah... sudah... ayo berangkat ! Ada yang tahu jalan ke rumah nya Gracia selain Ana ?” bu Maya menghentikan perdebatan para siswanya.
“Saya tahu bu. Biar saya didepan” Tino alih bicara.
30 menit kemudian.
Tiba dikediaman Gracia yang sudah ramai pelayat, Ana berlari ditengah keramain, masuk ke dalam rumah duka. Bu Maya beserta lima teman Ana mengikuti dengan berjalan dibelakang.
“Graciaaaaa...” suara Ana melemah usai melihat jenazah Gracia terbaring kaku. “Kamu kenapa Cia ? Tersenyumlah...” kedua mata Ana berkaca-kaca.
“Sayang, apa kamu mau ikut menshalatkan Gracia bersama para tetangga ?” ibunda Gracia perlahan melepaskan dekapan Ana dari tubuh Gracia. Ibunda Gracia tidak tahan melihat Ana terus menangisi kepergian Gracia, maka dari itu segera mungkin Ana harus bisa mengikhlaskan dan salah satu upayanya dengan mengajaknya menshalatkan jenazah Gracia.
“Iya bund ! Ana sangat ingin menshalatkan” Ana mengangguk bersemangat
“Bunda antarkan berwudhu sayang”
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pukul 13.00 WIB
“Semoga kamu tenang dialam sana, Cia” diatas pusara Gracia, Ana terus berbicara layaknya Gracia ada didekatnya.
“Ayo sayang kita pulang ! Gracia sudah tenang disana” ibunda Gracia membujuk Ana untuk segera melepaskan pegangannya dari papan nisan Gracia dan kembali ke rumah duka.
“Bunda dan teman-teman duluan saja. Ana masih ingin disini sebentar” Ana kali ini bisa membendung air matanya dihadapan para pelayat
Semua pelayat terkecuali Ana meninggalkan pusara. Riki menindik-nidnik dibelakang. Mendekat ke arah Ana duduk.
“Cia, hari ini kita udah janji mau makan bareng di rumah makan favorit kamu. Kamu inget kan ? Tapi kamu pasti udah nyaman disana. Aku ingin sekali menemanimu, tapi aku masih harus memperbaiki kesalahanku didunia ini. Maafkan aku melepaskanmu sendirian ya Cia. Tapi aku bersyukur kamu sudah masuk ke agama Allah” ucapan Ana terhenti sejenak, kedua matanya mulai mendung seakan ingin menghujani wajah dengan air mata.
“Bismillah... maaf Cia aku harus menyampaikan hal ini disaat terakhir perjumpaan kita. Sejak kecil aku selalu mengidamkan sosok sahabat sepertimu. Aku memiliki banyak teman semasa SD sampai SMA ini, tapi hanya satu temanku yang bisa aku percaya dan menjadi sahabatku. Hanya satu Cia, ya.. kamu. Disetiap doaku selalu aku sebut nama kamu. Aku selalu bermunajat kepada Allah, berharap kita menjadi sahabat didunia dan diakherat nanti. Kita menjadi sepasang sahabat yang selalu diridhai Allah didunia dan diakherat. Makasih Ciaku tercinta, dua tahun kita menjalain persahabatan ini dan terasa lama dan menyenangkan waktu dua tahun itu. Apa kamu merasakannya Ci ?”
Riki sadar kini hatinya terketuk. 16 tahun dirinya mencari ilmu dunia, melupakan sosok sahabat dan ilmu agama. Tidak tega melihat sosok wanita yang dikaguminya terus menangis disamping pusara, dia memberanikan diri mendekat.
“Jika Allah menakdirkan ini yang terbaik, maka aku segera mengikhlaskanmu Cia. Aku sangat menyayangimu. Aku sangat ingin memelukmu Cia !” untuk pertama kalinya, Ana memeluk sosok sahabatnya dengan perantara papan nisan.
“Ana..” Riki memanggil Ana dengan suara lirih.
“Riki, kenapa belum pulang ?” Ana menoleh sambil menyapu air matanya
“Aku mau bicara sebentar sama kamu” Riki begitu lembut dan pemalu dihadapan sosok Ana. Sifat perfeksionisme dan cuek yang selama ini menjadi khasnya, tertinggal.
“Sampai jumpa disurganya Allah Cia. Aku mencintaimu. Assalamualaikum sahabatku” Ana beranjak dari pusara. Riki berjalan dibelakang Ana dengan terus menggerutu.
Berani enggak ? berani enggak ? berani enggak ?
“Ada apa Rik ?” Ana menoleh dan menghentikan langkah kakinya didepan gerbang pemakaman.
“Haaa..” Riki terbata
“Kenapa gugup ?” Ana menyeringai bingung melihat gelagap Riki dihadapannya.
“Kamu jangan ketawa ya...” pinta Riki dengan malu
“Iya..” Ana menahan tawanya sejenak
“Aku suka sama kamu” Riki menundukkan kepalanya, menahan malu
“Terus ?” Ana dengan santainya menjawab ungkapan Riki yang berat sekali terlontar.
“Hah ? Kamunya gimana ?” Riki ternganga dalam kelabut kebingungan. Respon Ana diluar pemikirannya.
“Buang perasaanmu Rik, jangan sampai dilanjutin. Apa gunanya ?” jawab Ana dengan senyuman manis dan cerianya yang kini kembali.
“Kenapa ?” Riki masih dalam kebingungan
“Rasa suka itu muncul dari nafsu pandangan pertama apalagi diusia muda seperti kita. Kita masih labil dalam menentukan keputusan dan sungkan dalam memperhitungkan resiko. Menurutku, rasa suka itu condong ke arah serakah dimana jika rasa itu diungkapkan dan dilanjutkan hanya akan membawa mudarat seperti melebihkan diri sendiri, melupakan kewajiban sebagai hamba, dan juga menjadi pecah konsentrasi menuntut ilmu. Coba tengok ke temen-temen yang saling suka dan menjadi sepasang kekasih. Itu salah satu jalan menuju zina dimana zina itu dilarang oleh Allah. Aku yakin, kamu lebih bisa berfikir baik tentang hal ini. Apa kamu masih  mau meneruskan rasa suka mu itu ? Jangan sampai kamu masuk ke jurang setan” bergetar hati Riki mendengar teguran Ana. Keceriaan dan kepandaian Ana kembali dengan cepat diluar dugaannya.
“Iya. Bijak banget kamu Na. Baru pertama kali aku denger langsung kamu ceramah. Bagus bagus” sanjungan Riki sedikitpun tidak dihiraukan Ana. Ana hanya membalasnya dengan senyuman dan sedikit penutup.
“Amin. Ayo pulang” ajak Ana dengan semangat yang mulai berkobar
“Kamu sama bu Maya lagi ?” tanya Riki sambil menggantungkan sepasang sepatu yang tadi dilepasnya.
“Enggak. Tadi abi, umi, sama adik dateng kesini jadi aku barengan sama mereka. Ayo balik, keburu ditinggal temen-temen nanti !”
“Ya” Riki tersenyum senang melihat sosok Ana kembali menjadi Ana yang dulu. Meskipun hati Riki sudah mengatakan hal sebenarnya dengan berani dan mendapat respon diluar dugaan, Riki tetap teguh dengan rasa kagumnya kepada sosok Ana.
Persahabatan yang dilandaskan pada syariat agama atau perintah Allah memang menyenangkan. Dimana akhlak dan kepribadian dalam diri menjadi salah satu pemicu persahabatan yang baik dan benar. Tercermin dari cerita diatas, dimana dua siswa dengan perbedaan keyakinan. Mereka bersatu dikarenakan kehendak Allah. Perlahan Gracia terbuka dengan jalan Allah dan Allah membuka hati Gracia dengan kebenaran. Allah berfirman :



Allah sudah mengatur kehidupan didunia ini sejak dahulu.

Tinggal bagaimana kita sebagai hambanya bisa menjalani kehidupan berdasarkan pedoman darinya yaitu Kitab Suci Al-qur’an dan As-Sunah J .

* Semoga Bermanfaat *

TTD : Iffah Linda yuliana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar