Posting CERPEN setelah sekian lama break.
Bismillah...
SAAT
HATI BICARA
Karya : Iffah Linda Yuliana
Ana duduk sendirian dikursi loby sekolah
pagi ini. Tujuannya tidak lain menunggu sahabatnya Gracia seperti hari-hari
sebelumnya. Sembari menunggu Gracia tiba disekolah, Ana sejenak memainkan
handphone jadulnya. Tidak lain aplikasi favorit Ana yang dimainkan adalah IQ
Test.
Lima menit... sepuluh menit... hingga
lima belas menit menunggu diloby sekolah tidak membuahkan hasil. Gracia tidak
seperti biasanya. Ana melirik ke arah jarum jam ditangan kirinya. Jam menunjukkan
pukul 06.40 WIB. Akhirnya Ana memutuskan masuk kelas terlebih dulu meninggalkan
Gracia yang tak kunjung datang.
“Kamu
dimana Ci ?” pesan singkat Ana untuk
dikirimkan ke sebuah kontak bernama “My Cia”.
Ting ting ting.... ting ting ting
ting...
Bel tanda masuk berbunyi keras melalui
speaker kelas.
Hari ini Ana terpaksa duduk bersama Riki
teman kelasnya yang terkenal cerdas dan cuek. Tidak lama kemudian seorang guru masuk ke dalam
ruangan membopong tas hitam dipunggungnya. Dialah pak Justinus, guru mata
pelajaran matematika untuk kelas XI Teknik Komputer Jaringan.
“Pagi anak-anak ! Silahkan ketua kelas
memimpin doa.” Perintah pak Justinus cepat
“Mari teman-teman sebelum perlajaran
dimulai, kita bersama-sama berdoa memohon kelancaran dalam belajar. Berdoa,
dimulai... !” “Cukup” Toni selaku ketua kelas alih bicara.
Drettt....
drettt.... drettt....
Handphone disaku Ana bergetar. Secara diam-diam
Ana mengeluarkannya lantas membuka pesan masuk.
“Hr
ini aku gak masuk Na. Tolong ijinnin ke pak Justinus !” ternyata Gracia, menjawab pesan.
Ana kembali menghadap papan hitam kelas
yang penuh kevandalan para siswa. “Mungkin
Cia baru ada urusan. Gak mungkinlah kalau dia sakit”gumam Ana lantas
menyaku kembali handphonenya.
“Baiklah sebelum pelajaran dimulai saya
absen dulu. Apa ada yang belum hadir ?”
Ana mengacungkan tangan.
“Gracia izin pak” ucap Ana lantang
padahal bangku duduknya berada dipaling depan.
“Ada yang lain ?” lanjut pak Justinus
Tidak ada siswa yang mengancungkan
tangan. Pak Justinus lantas melanjutkan ke materi.
Pukul 09.00 WIB
“Kerjakan soal-soal dimodul halaman 55
dari nomor 1 sampai 20 dikertas terlepas. Tugas ini sifatnya kelompok. Maksimum
dan minimum anggotanya dua orang. Mengerti ?” diakhir pembelajarannya, pak
Justinus memberikan tugas baru untuk minggu depan.
Dideretan depan terlihat Ana begitu
murung. Sedari pagi hanya diam dan tersenyum saat ada teman yang memanggil.
Riki yang terkenal begitu cuek namun perhatian itu sedikit menggoda Ana.
“Gak usah galauin tugasnya pak Justinus
dong !” celoteh Riki dari samping Ana duduk
Ana masih terpaku diam. Dalam fikirnya
terus terbayang keadaan Gracia.
“Woooyyyy .... Bengong ??” telapak
tangan Riki mondar-mandir dihadapan wajah Ana.
Ana masih tersungkur dalam diamnya.
“Ehh Manda, Popi, and the girls... kenapa
si Ana ?” Riki terus mencoba mencari tahu.
Manda, Popi, dan siswi lainnya hanya
menggeleng dan mengangkat bahu masing-masing.
Riki merasa empati kepada gadis lembut
disampingnya yang sudah dua tahun ini didambakannya. Riki tidak lantas pergi
meninggalkan Ana sendirian, sebelum ia keluar ruangan dipanggillah Manda yang
bergurau dibelakang.
“Manda ! Temenin Ana disini !” teriak
Riki
“Mau kemana Rik ?” Manda balas berteriak
“Bentar doang bung !” Riki menutup pintu
ruangan.
Manda duduk disamping Ana. Dilihatnya
raut wajah teduh Ana.
Memang
gak salah Ana jadi siswi favorit kelas ini ngalahin sepuluh siswi lain.
Disamping kepinterannya yang melebihiku, dia juga tenang. Wajahnya enak
dipandang dari deket. Tapi jilbabnya kegedean menurutku. Ahh.. kan emang yang
bener jilbab kaya Ana. huuuhhh” Manda
terus mendengus.
Drettt...
drettt... drettt...
Handpone Ana bergetar. Ana masih terus
melamun hingga tidak sadar Manda mengambil handphonenya dalam laci meja.
Perlahan Manda menekan tombol buka.
“Dek
Ana. Gaji kamu 5 juta tiga bulan kerja ini mau diambil kapan ? Saya rencana mau
ke Jakarta besok pagi jadi jangan mendadak ya mintanya !”
Manda sangat terkejut dengan isi pesan
dari kontak bernama “Mas Mano”. Manda terus bertanya-tanya kapan Ana kerja ? Dimana ? Jadi apa ? kok rasanya aku gak pernah liat
dia kecapekan bahkan telat ? Manda kembali mengumam.
Riki kembali membawa minuman botol dan
sebuah roti selai cokelat yang biasanya dibeli Ana dan Gracia diwaktu
istirahat. Melihat Riki datang, Manda segera mengembalikan handphone Ana ke
laci tanpa mengembalikan pesan.
“Ana masih belum ngomong !” ungkap Manda
berusaha menutupi kegugupannya.
“Tumben Ana kaya gini ! Apa karena Gracia ?” Riki
balik bertanya
“Mungkin.. dan ahhh... i dont know” Manda kembali ke
belakangan bergabung dengan teman-teman lainnya.
“A-n-a... !!!” untuk pertama kalinya
Riki bersikap lembut dan penuh kasih menghadapi cewek. Untuk pertama kalinya
semasa ia bersekolah di SMK.
Ana membuat semua siswa diruangan
terkejut. Tiba-tiba tanpa sebab ia mendorong kursinya lantas berlari keluar
kelas tanpa mengambil handphone dilacinya.
Drettt...
drettt... drettt...
Handpone Ana kembali bergetar. Riki
enggan menghiraukannya. Namun semakin lama ia terdiam, ia justru penasaran dan
akhirnya diambillah handphone Ana dilaci.
Riki terlebih dulu melihat isi pesan
yang sama dengan apa yang dibaca oleh Manda. Kemudian pesan baru yang
menggetarkan handphone dibuka.
“Tuhan
berkehendak lain sayang ! Gracia kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang satu jam
lalu di Rumah Sakit Permana Indah. Pemakamannya nanti pukul tiga sore. Maafkan
semua salah Gracia sayang !” kabar
meninggalnya Gracia pertama kali diketahui Riki lewat SMS ibunda dari Gracia.
Tidak lama kemudian Riki berdiri didepan
kelas.
“Tolong semuanya duduk ! Ada berita duka
untuk kita !”
Ana sampai dipintu ruangan dan berhenti
sejenak menghapus air matanya. Perlahan ia masuk ke ruangan dengan ekspresi
wajah ceria seperti biasanya. Namun kedatangan Ana tidak diketahui oleh Riki
sehingga Riki meneruskan bicara.
Semua siswa didalam ruangan diam dan
duduk dibangku masing-masing kecuali Ana.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun.
Salah seorang rekan kita Gracia kembali ke pangkuan Allah satu jam lalu di RS
Permana Indah dan akan dimakamkan pukul tiga sore nanti. Ayo kita melayat
sepulang sekolah !”
Blekk..
Kepala Ana terbentur meja deretan depan
kelas setelah mendengar kabar buruk meninggalnya Gracia. Seketika semua siswa
diruangan termasuk Riki beralih tatapan ke arah Ana pingsan.
“Aaaa Naaa...” dua pertiga siswa dalam
ruangan berseru panik melihat Ana tidak sadarkan diri.
Riki, Toni, Mail, Manda, Nisti, Riko,
dan Sinta bersama-sama membopong Ana ke UKS tanpa alat. Kecemasan mereka
terhadap Ana membuat mereka secepatnya ingin menyadarkan si Ratu kelas itu.
“Aaaa naaa... Kamu kuat Na ! Kamu bisa
tetep senyum meskipun Gracia pergi ! Ayo Naaa sadar” Sinta yang tidak lain
adalah rekan Ana sejak SMP merasa begitu empati kepada rekan baikknya itu.
“Naaa sadar Naaa” Riki sahut berseru
“Kamu kuat Ana ! Wanita sholihah
sepertimu pasti tegar dan ikhlas menghadapi semua ini !” Manda kali ini
histeris. Baru dilihatnya wajah redup dan tenang Ana saat tidak sadarkan diri.
“Udahh coy ! Ana butuh ketenangan bukan
tangisan kalian !” dengan bijak Riko memecah kehisterisan. Semua fokus belari
ke arah UKS membopong Ana bersamaan.
“Ada ada ini ?” bu Maya menegur, namun
tidak satupun siswa menjawab. Bu Maya ikut berlari melihat para siswa yang
panik.
Setibanya di UKS sekolah.
“Biarin Ana tenang dulu didalem. Gue,
Tino, sama Sinta disini kalian balik ke kelas aja” ucap Riko didepan UKS.
“Gue tetep disini” Riki sahut ketus.
“Oke.. berempat cukup ! Dont talking
more !” Riko menutup pembicaraan lantas duduk dikursi panjang yang ada didepan
UKS.
“Bentar ! Ini aku mau tanya. Apa ada
yang tahu kalau Ana kerja ?” Manda masih heran dengan sms yang masuk
dihandphone Ana tadi dikelas.
Semua menggeleng. “Emang Ana kerja ? Kok
kamu tahu Man ?” Riki balik bertanya. Kali ini wajahnya menyimpan keheranan.
“Tadi aku buka sms dihandphonenya.
Kontaknya namanya mas Mano. Dia punya gaji 5juta yang belum diambil loh !
Pejuang bener !” layaknya bung Karno, Manda berorasi didepan rekan-rekannya.
“Huss.. balik kelas sono ! Ijinin gue,
Sinta, Tino, sama Riki ke Bu Maya kalau kita nungguin Ana. huss.. huss..” Riko
mendorong pundak Manda dengan paksa tanpa menghiraukan yang lainnya.
“Slow aja Pak ! Aku juga mau balik..
bye..” Manda melepas cengkraman tangan Riko.
“Ehhh.. nitip salam buat Ana kalau dia
udah sadar. Kabarin aku juga nanti kalau ada apa-apa !” lanjut Manda ditengah
perjalannannya kembali ke kelas.
“Subhanallah banget si Ana. Masih
sekolah aja udah punya kerja sambilan, apalagi udah lulus besok. Beruntung
banget cowoknya juga Gracia punya sahabat kaya Ana. Andai aja aku...”
“Ehh.. Ana sadar !” Riki memotong ucapan
Sinta.
“Gracia ! Gracia !” untuk pertama
kalinya Ana berteriak dihadapan teman-temannya. Meskipun suaranya hanya
terdengar semua orang di UKS namun tetap saja teman-teman Ana terkejut dengan
sikap Ana yang berbanding terbalik dengan hari biasanya.
“Gracia dirumahnya Na ! Nanti kita
kesana bareng ya ?!” Riki berusaha menenangkan Ana yang mulai menangis.
“Sekarang...” tangisan Ana pecah. Semua
yang ada di dalam UKS tidak pernah menyangka akan kehilangan Gracia dan tidak
pernah menduga Ana berlaku seperti sekarang. Menangis dan terus memanggil nama
sahabatnya.
“Kita ke rumah Gracia sekarang ! Ibu
sudah minta izin ke BK. Riko berboncengan dengan Tino, Sinta sama ibu, Ana sama
Riki” tiba-tiba ditengah kepiluaan Ana datang sang penyelamat keadaan buruk
ini. Bu Maya tanpa diduga datang membawa kabar baik. Tanpa waktu lama semua
mulai bergegas, kecuali Ana. Ana terus menangis dan duduk diatas ranjang UKS.
“Kamu kenapa Ana ? Hari ini semua
temanmu khawatir dengan keadaanmu dan juga semua merasa kehilangan karena
kepergian Gracia” bu Maya mendekat ke
ranjang. Semua teman Ana yang tadinya berada di UKS terlebih dulu pergi.
Ana merenggut badan bu Maya, menangis
dalam pelukan.
“Ana berjanji hari ini akan makan
bersama Gracia di rumah makan favorit Gracia, bu. Tapi.. kenapa Allah terlebih dulu
membatalkan rencana ini ?!” Ana menyalahkan keadaan. Semangatnya mulai runtuh
beriringan dengan banyaknya air mata yang keluar dari pelupuk mata. Bu Maya
begitu empati dengan siswi kesayangannya yang terkenal ceria, cerdas, dan alim
ini. Padahal tadi pagi Ana masih bisa tertawa ceria diloby sekolah sebelum
duduk di loby sekolah.
“Apapun yang terjadi besok kita tidak
ada yang tahu selain Allah. Begitupun dengan sekarang, kemarin kita tidak tahu
bahwasanya Gracia akan kembali ke pangkuan Allah hari ini. Sekarang yang bisa
Ana lakukan adalah berdoa dan berziarah ke sana. Gracia dan keluarganya adalah
muallaf, apa salahnya Allah memberikan ujian ini. Gracia tidak mau sahabat
baiknya ini menangis karena kepergiannya, jadi kamu harus ikhlas Ana.” bu Maya
melepas pelukan Ana, perlahan jemarinya mengusap air mata yang membasahi wajah
ceria Ana.
“Sudahlah. Sekarang kita ke rumah
Gracia. Diluar sana masih banyak sahabatmu yang menunggu. Apa kamu mau
menyia-nyiakan itu ?” tanya bu Maya bijak.
Ana menggeleng. Jemarinya menyeka
sudut-sudut mata.
“Tapi Ana maunya bareng sama bu Maya
bukan Riki. Bukan mahram bu” tutur Ana lembut. Di situasi yang terasa genting,
Ana masih tetap taat dengan syariat agama.
“Iya sayang. Kamu bonceng ibu. Tunggu
didepan gedung sekolah, ibu mau ambil motor diparkir guru dulu. Jangan nangis
terus ya, awas kalau ibu lihat kamu masih nangis ! nanti ibu tinggal” bu Maya
sedikit menggoda Ana.
Ana mengangguk pelan.
Semua sudah bersiap didepan gedung
sekolah.
“Ayo sayang ! Helm nya dipakai dulu !”
pinta bu Maya kepada Ana
“Gak jadi bareng aku Na ?” tanya Riki
dengan heran.
“Udah ! aku yang bareng kamu Rik. Gak usah
sedih dong... Slow” sahut Sinta dengan gaya celotehnya.
“Yahh.. oke” wajah Riki yang tadinya girang
dikarenakan akan membocengkan Ana menjadi suntuk dan malas setelah mendengar
Sinta yang ternyata akan memboncengnya.
“Sudah... sudah... ayo berangkat ! Ada
yang tahu jalan ke rumah nya Gracia selain Ana ?” bu Maya menghentikan
perdebatan para siswanya.
“Saya tahu bu. Biar saya didepan” Tino alih
bicara.
30 menit kemudian.
Tiba dikediaman Gracia yang sudah ramai
pelayat, Ana berlari ditengah keramain, masuk ke dalam rumah duka. Bu Maya beserta
lima teman Ana mengikuti dengan berjalan dibelakang.
“Graciaaaaa...” suara Ana melemah usai
melihat jenazah Gracia terbaring kaku. “Kamu kenapa Cia ? Tersenyumlah...”
kedua mata Ana berkaca-kaca.
“Sayang, apa kamu mau ikut menshalatkan
Gracia bersama para tetangga ?” ibunda Gracia perlahan melepaskan dekapan Ana
dari tubuh Gracia. Ibunda Gracia tidak tahan melihat Ana terus menangisi
kepergian Gracia, maka dari itu segera mungkin Ana harus bisa mengikhlaskan dan
salah satu upayanya dengan mengajaknya menshalatkan jenazah Gracia.
“Iya bund ! Ana sangat ingin
menshalatkan” Ana mengangguk bersemangat
“Bunda antarkan berwudhu sayang”
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pukul 13.00 WIB
“Semoga kamu tenang dialam sana, Cia”
diatas pusara Gracia, Ana terus berbicara layaknya Gracia ada didekatnya.
“Ayo sayang kita pulang ! Gracia sudah
tenang disana” ibunda Gracia membujuk Ana untuk segera melepaskan pegangannya
dari papan nisan Gracia dan kembali ke rumah duka.
“Bunda dan teman-teman duluan saja. Ana
masih ingin disini sebentar” Ana kali ini bisa membendung air matanya dihadapan
para pelayat
Semua pelayat terkecuali Ana
meninggalkan pusara. Riki menindik-nidnik dibelakang. Mendekat ke arah Ana
duduk.
“Cia, hari ini kita udah janji mau makan
bareng di rumah makan favorit kamu. Kamu inget kan ? Tapi kamu pasti udah nyaman
disana. Aku ingin sekali menemanimu, tapi aku masih harus memperbaiki
kesalahanku didunia ini. Maafkan aku melepaskanmu sendirian ya Cia. Tapi aku
bersyukur kamu sudah masuk ke agama Allah” ucapan Ana terhenti sejenak, kedua
matanya mulai mendung seakan ingin menghujani wajah dengan air mata.
“Bismillah... maaf Cia aku harus
menyampaikan hal ini disaat terakhir perjumpaan kita. Sejak kecil aku selalu
mengidamkan sosok sahabat sepertimu. Aku memiliki banyak teman semasa SD sampai
SMA ini, tapi hanya satu temanku yang bisa aku percaya dan menjadi sahabatku.
Hanya satu Cia, ya.. kamu. Disetiap doaku selalu aku sebut nama kamu. Aku
selalu bermunajat kepada Allah, berharap kita menjadi sahabat didunia dan
diakherat nanti. Kita menjadi sepasang sahabat yang selalu diridhai Allah
didunia dan diakherat. Makasih Ciaku tercinta, dua tahun kita menjalain
persahabatan ini dan terasa lama dan menyenangkan waktu dua tahun itu. Apa kamu
merasakannya Ci ?”
Riki sadar kini hatinya terketuk. 16
tahun dirinya mencari ilmu dunia, melupakan sosok sahabat dan ilmu agama. Tidak
tega melihat sosok wanita yang dikaguminya terus menangis disamping pusara, dia
memberanikan diri mendekat.
“Jika Allah menakdirkan ini yang
terbaik, maka aku segera mengikhlaskanmu Cia. Aku sangat menyayangimu. Aku
sangat ingin memelukmu Cia !” untuk pertama kalinya, Ana memeluk sosok
sahabatnya dengan perantara papan nisan.
“Ana..” Riki memanggil Ana dengan suara
lirih.
“Riki, kenapa belum pulang ?” Ana
menoleh sambil menyapu air matanya
“Aku mau bicara sebentar sama kamu” Riki
begitu lembut dan pemalu dihadapan sosok Ana. Sifat perfeksionisme dan cuek yang
selama ini menjadi khasnya, tertinggal.
“Sampai jumpa disurganya Allah Cia. Aku
mencintaimu. Assalamualaikum sahabatku” Ana beranjak dari pusara. Riki berjalan
dibelakang Ana dengan terus menggerutu.
Berani
enggak ? berani enggak ? berani enggak ?
“Ada apa Rik ?” Ana menoleh dan
menghentikan langkah kakinya didepan gerbang pemakaman.
“Haaa..” Riki terbata
“Kenapa gugup ?” Ana menyeringai bingung
melihat gelagap Riki dihadapannya.
“Kamu jangan ketawa ya...” pinta Riki
dengan malu
“Iya..” Ana menahan tawanya sejenak
“Aku suka sama kamu” Riki menundukkan
kepalanya, menahan malu
“Terus ?” Ana dengan santainya menjawab
ungkapan Riki yang berat sekali terlontar.
“Hah ? Kamunya gimana ?” Riki ternganga
dalam kelabut kebingungan. Respon Ana diluar pemikirannya.
“Buang perasaanmu Rik, jangan sampai
dilanjutin. Apa gunanya ?” jawab Ana dengan senyuman manis dan cerianya yang
kini kembali.
“Kenapa ?” Riki masih dalam kebingungan
“Rasa suka itu muncul dari nafsu
pandangan pertama apalagi diusia muda seperti kita. Kita masih labil dalam
menentukan keputusan dan sungkan dalam memperhitungkan resiko. Menurutku, rasa
suka itu condong ke arah serakah dimana jika rasa itu diungkapkan dan
dilanjutkan hanya akan membawa mudarat seperti melebihkan diri sendiri,
melupakan kewajiban sebagai hamba, dan juga menjadi pecah konsentrasi menuntut
ilmu. Coba tengok ke temen-temen yang saling suka dan menjadi sepasang kekasih.
Itu salah satu jalan menuju zina dimana zina itu dilarang oleh Allah. Aku
yakin, kamu lebih bisa berfikir baik tentang hal ini. Apa kamu masih mau meneruskan rasa suka mu itu ? Jangan
sampai kamu masuk ke jurang setan” bergetar hati Riki mendengar teguran Ana.
Keceriaan dan kepandaian Ana kembali dengan cepat diluar dugaannya.
“Iya. Bijak banget kamu Na. Baru pertama
kali aku denger langsung kamu ceramah. Bagus bagus” sanjungan Riki sedikitpun
tidak dihiraukan Ana. Ana hanya membalasnya dengan senyuman dan sedikit
penutup.
“Amin. Ayo pulang” ajak Ana dengan
semangat yang mulai berkobar
“Kamu sama bu Maya lagi ?” tanya Riki
sambil menggantungkan sepasang sepatu yang tadi dilepasnya.
“Enggak. Tadi abi, umi, sama adik dateng
kesini jadi aku barengan sama mereka. Ayo balik, keburu ditinggal temen-temen
nanti !”
“Ya” Riki tersenyum senang melihat sosok
Ana kembali menjadi Ana yang dulu. Meskipun hati Riki sudah mengatakan hal
sebenarnya dengan berani dan mendapat respon diluar dugaan, Riki tetap teguh
dengan rasa kagumnya kepada sosok Ana.
Persahabatan yang dilandaskan
pada syariat agama atau perintah Allah memang menyenangkan. Dimana akhlak dan
kepribadian dalam diri menjadi salah satu pemicu persahabatan yang baik dan
benar. Tercermin dari cerita diatas, dimana dua siswa dengan perbedaan
keyakinan. Mereka bersatu dikarenakan kehendak Allah. Perlahan Gracia terbuka
dengan jalan Allah dan Allah membuka hati Gracia dengan kebenaran. Allah
berfirman :
Allah
sudah mengatur kehidupan didunia ini sejak dahulu.
Tinggal bagaimana kita sebagai
hambanya bisa menjalani kehidupan berdasarkan pedoman darinya yaitu Kitab Suci
Al-qur’an dan As-Sunah J .
* Semoga Bermanfaat *
TTD : Iffah Linda yuliana


Tidak ada komentar:
Posting Komentar