Rabu, 03 September 2014

PUPUS



Assalamualaikum
Hmmbb.. udah lama ini postingannya ilang. Ya kembali ke sastra aja ya teman-teman. Kali ini cerpennya bertemakan CINTA. Cerpen ini byukan karyaku, melainkan seorang lelaki yang jauh disana. Teman, kakak, dan siapa lah bagiku. Hehehe..
Judulnya : PUPUS


Aku duduk termenung disini. Di jalan yang sepi ini aku tumpahkan semua isi hatiku. Kuceritakan kepada kegelapan malam semua tentang hari-hariku, entah yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tempat ini adalah tempat yang sangat aku sukai. Disini aku dapat merenung dengan tenang. Bermandikan cahaya bintang dan hanya satu dua kendaraan yang berlalu-lalang. Sungguh suasana yang menentramkan.
            Seperti biasanya, aku duduk sendiri di trotoar jalan. Mengingat potongan cerita yang menyenangkan dihari-hariku, dan kuceritakan kepada alam yang selalu setia mendengarkan ceritaku. Tanpa pernah menyanggah sedikitpun. Itulah salah satu kesenanganku berbagi dengan alam. Sekali-kali kuhisap rokok yang terselip diantara dua jariku. Hanya benda ini yang menjadi teman setiaku setiap malam. Merdunya suara daun yang diterpa angin membuatku mersasa lebih nyaman bercengkrama dengan alam.
            Aku menatap jauh kedepan. Berusaha menyelinap diantara kegelapan malam.
            Ya. Satu tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang yang diskenario. Kebetulan waktu itu aku ikut andil dalam proses penerimaan siswa baru di sekolahku. Saat itulah pertama kali aku melihatnya. Wajahnya cantik. Bersih. Kecantikan itu bertambah sempuna dengan balutan kerudung putih yang tampak anggun. Tatapan matanya sejuk, membuatku betah berlama-lama menatap matanya. Lesung pipinya terlihat aneh ketika dia tersenyum, namun inilah yang aku sukai dari dirinya. Manis.
            Tiga hari itu berlalu dengan sangat cepat, namun tiga hari itu adalah tiga hari yang paling menyenangkan dalam hidupku. Hari-hari yang indah. Aku tak tahu kenapa aku merasa nyaman ketika menatap matanya. Sejuk. Sangat sejuk. Mungkin dia adalah orang kedua yang dapat menberikan kenyamanan seperti ini setelah ibuku. Walaupun aku baru mengenalnya beberapa hari dan dia tidak pernah berkata sepatahpun kepadaku. Entah kenapa ?
            Sepeda motor melaju dengan kencang dari arah utara. Seketika lamunanku terbuyar ketika kendaraan tersebut melaju didepanku. Sesaat kemudian suasana kembali sepi. Sangat sepi malah. Hanya sekali-kali terdengan suara jangkrik yang dengan malas mengesek biolanya.
            Kulemparkan putung rokok yang telah habis dari tadi. Aku merogoh kantong celanaku mengambil rokok. “ yah, tinggal sebatang” gumanku entah kepada siapa. Segera kusulut rokok tadi dengan korek yang semenjak tadi aku permainkan.
 Di sekolah aku termasuk siswa yang aktif dalam mengikuti kegiatan organisasi. Bahkan aku tidak hanya mengikuti satu organisasi. Aku tidak pernah kepikiran untuk melihat wajahnya lagi. Tapi entah suatu kebetulan atau suatu rencana, dia mengikuti salah satu organisasi yang aku ikuti. Mungkinkah ini petunjuk ?
Kuperbanyak kegiatan diorganisasi yang aku pimpin. Semua ini semata-mata aku lakukan agar aku dapat melihat wajahnya lebih lama. Ya, inilah cara licikku. Tapi tak mengapalah, asalkan masih wajar, semoga orang lain tidak mencium gerak-gerikku ini. Waktu berlalu dengan cepat, dan rasa ini ( entah rasa apa ) semakin menggunung memenuhi rongga hatiku.

Pernah aku berkeinginan menyampaikan perasaan ini kepadanya. Aku menulis semua rasa kekagumanku. Tapi entah kenapa aku takut untuk mengirimkannya. Padahal aku sudah mendapatkan e-mailnya ( dengan kedok organisasi juga ). Aku takut menerima kenyataan dari jawabannya. Aku sadar bahwa ternyata aku seorang pengecut, setidaknya dalam masalah ini. Tapi kenapa cuma dia. Aku bisa mengatakan dengan santai dengan cewek lain, tapi kenapa dengan dia berbeda ?
Bahkan aku butuh waktu lebih untuk menyusun kata-kata sekedar untuk membalas pesan singkatnya. Aku takut melukai perasaannya, padahal aku juga tidak pernah tahu tentang perasaannya kepadaku. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai kakak. Mungkin sih karna memang aku kakak kelasnya. Tapi kenapa aku mengharap yang lebih dari itu. Salahkah harapanku ini?
Dua bulan yang lalu aku pernah berusaha membuang semua perasaanku kepadanya. Hampir satu bulan aku vakum dari organisasi karna tidak ingin bertemu dengannya. Terlebih senyuman dan tatapan matanya itu yang selalu bisa membuatku terpesona. Berulang kali aku mengatakan bahwa aku tidak mengaguminya. Tapi semakin hatiku menolak, bayangan itu malah semakin merasuk kedalam otakku. Sampai-sampai aku tidak dapat berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Walhasil nilaiku menurun dratis ( padahal sebalum aku mengenal dia nilaiku juga jauh darikata bagus ).
“ Trrraaat… trrraaatt.  “ satu pesan singkat membuyarkan lamunanku, lamunan yang sebenarnya tidak ingin aku akhiri. “ siapa sih malam-malam SMS.” Gumanku lirih. Dengan malas kusepak handphone yang dari tadi tergeletak kearahku.
“ Mengganggu saja.”
Kuhisap sisa rokok yang masih ada ditanganku. Kulemparhan putung rokok tadi ketengah jalan. Percikan apinya sungguh sangat indah.
Aku berjalan menyusuri jalanan itu. Sudah tidak ada kendaraan lagi. Mungkin mereka telah terbuai dalam buaian mimpi masing-masing.
Aku kembali merangkai ingatanku yang tidak terlalu bagus ini. Aku berjalan dengan gontai ditengah jalan. Terkadang memejamkan mata menikmati lamunan ini. Aku berharap tidak ada kendaraan yang menabrakku ( karena aku tak ingin lamunan indahku terganggu lagi).
Akhir-akhir ini dia memberikan isyarat lampu hijau kepadaku. “ dia juga mengagumiku “ gumanku pelan sekenanya. Kami sering ngobrol berdua, walaupun tak pernah menyinggung masalah ini.
Kebetulan dalam waktu dekat ini sekolahku akan mengadakan acara yang cukup besar. Dan yang menbuatku senang bukan karna acaranya, tapi karena aku mendapat tugas yang sama denga dia dalam acara itu. “Acara ini dapat aku jadikan kedok untuk berlama-lama dengannya” pikiran licikku kembali menang.
Sekarang aku banyak menghabiskan waktuku di sekolah. Sekedar untuk mrmbicarakan sesuatu yang bisa dibilang gak penting dengannya. Yang membuatku semakin senang, ia menanggapi obrolan gak penting itu ( walaupun dia juga tahu bahwa arah pembicaraan itu gak jelas entah kemana ). Selama pembicaraan aku lebih banyak diam dan memandangi matanya yang sejuk. Sekali-kali tersungging senyuman manis dibibirnya. Sangat manis. Aku sangat menikmati saat bersamanya dan sepertinya ia juga merasa nyaman bersamaku.
Terkadang aku tersenyum sendiri mengingat masa-masa indahku bersamanya.Aku tak peduli seandainya ada orang yang melihat tingkahku dan mengangapku orang gila. Terserah kalian mau berkata apa, yang penting saat ini bunga sakura sedang bermekaran dihatiku. Sangat indah.
Aku mendongakkan kepalaku keatas. Lagit yang indah, milyaran bintang tertumpah ruah disana. Tapi entah kenapa aku melihat gugusan bintang yang menyusun namanya. Inikah yang disebut kasmaran ?
Aku sudah berjalan sekitar 10 menit. Dan sekarang aku berdiri tepat didepan sebuah pasar. Pasar tradisional lebih tepatnya. Disana terjadi kesibukan para pedagang yang menata barang dagangannya. Aku mempercepat langkahku, karna memang besok aku harus berangkat ke sekolah.
Terbayang betapa sangat menyenangkannya jika aku dapat memilikinya. Memiliki pacar secantik dan seanggun dia. Memiliki istri yang sholeha sepertinya. Dan memiliki anak-anak yang manis-manis ( pikiranku ngelantur entah sampai mana). Siapa juga yang tidak ingin memiliki gadis secantik dan semanis dia. Siapa?
Sejenak aku terpaku memikirkan kata-kataku tadi. “ Siapa?”. Kalimat ini memang benar, tapi kenapa dihati kecilku mengatakan ada kejanggalan pada kalimat ini. Aku termenung memikirkan kalimat itu. Kusandarkan tubuh ini pada tiang listrik di tepi jalan. “ Siapa ?”.
Adakah cowok lain yang mengaguminya selain aku? Kalau ada siapa? Jangan-jangan ia ingin menyatakan rasa kekagumannya itu besok pagi. Atau, dia malah ingin menyampaikannya malam ini lewat pesan singkat. Hatiku menduga-duga sejadinya. Tubuhku gemetar. Kaki ini seolah tak sanggup lagi menopang tubuhku. Kurebahkan tubuh ini ke trotoar yang sedikit basah akan embun pagi.
Ingin rasanya aku ungkapkan rasa kekagumanku ini sekarang juga. Lewat  pesan singkat? Tapi aku tak pandai merangkai kata-kata yang indah. Besok pagi? Aku tak sabar untuk menunggu sampai besok pagi di sekolah. Lagipula dia pasti minta sepulang sekolah. Terlalu lama.
Kuputuskan aku akan menyatakan rasa kekagumanku selama ini kepadanya. Lewat pesan singkat. Malam ini.
“ Linda. Malam ini aku akan berkata jujur padamu. Aku mengagumimu. Maukah kau jadi pacarku”
Sangat singkat. Kuhapus pesan tadi dan aku kembali menyusun kata yang sekiranya pantas untuknya.
“Linda, tahukah engkau dimana saat-saat paling bahagiaku. Dimana saat-saat paling berarti dalam hidupku. Saat-saat itu adalah saat dimana aku bersamamu. Aku tak bisa melupakan wajah manismu. Bayangan wajahmu selalu muncul disetiap detik hariku. Aku tak bisa lepas dari tatapan matamu yang sejuk itu. Hanya senyumanmulah yang dapat merubah duniaku, menjadi lebih bermakna. Aku telah merangkai namamu dari ribuan gugusan bintang dilangit. Namamu yang selalu dapat  menguatkanku, sepedih apapun hatiku. Selalu menemani dimalam-malamku yang sunyi. Aku pernah mencoba membuang jauh-jauh bayanganmu. Tapi sulit. Sangat sulit. Sepertinya hati kita memang telah terpatri kuat diatas sana. Linda , maukah engkau menjadi bidadari didunia dan disurga untukku.
Terlalu lebay, aku bukanlah orang yang seperti itu. Kata-kata yang kususun tak kurang dari 20 menit ini lenyap dalam hitungan detik.
Aku beranjak dari tempat dudukku untuk pulang. “ siapa tahu aku dapat kata-kata yang pantas untuknya dijalan” gumanku pelan.
Gerimis turun perlahan. Aku berlari kesebuah rumah yang memiliki pelataran agak luas. Cukuplah untuk sekedar berteduh. Aku berdiri tidak jauh dari pusat perbelanjaan yang buka 24 jam. Sepertinya tempat itu tak pernah sepi.
“Linda, aku tak tahu harus memulai dari mana. Tapi semenjak aku melihatmu, aku merasa telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari diriku. Senyuman dan tatapan matamu itu selalu dapat memberikan kenyamannan tersendiri bagiku. Berada disampingmu adalah saat terindah bagiku. Shofia, aku ingin berkata jujur padamu, dan aku akan menghargai segala kepuusanmu. Aku mengagummimu. 14106.
Kurasa ini tidak berlebihan. Dan pasti dia tahu arti angka itu. Harusnya sudah tak asing lagi untuk seorang yang mempelajari bahasa jepang.
Aku berkali-kali menbaca ulang kalimat yang tertulis dilayar handphone bututku. Aku tersenyum puas dengan buah karya yang baru saja aku ciptakan untuk orang istimewaku.
Kirim pesan. Mencari kontak. Shofia. Kirim pesan?
Tanganku gemetar, aku tak bisa menekan tombol ini. Kenapa? Hatiku bergemuruh hebat. Entah apa yang telah terjadi disana. Ataukan jangan-jangan aku belum siap menerima jawaban darinya.
Aku terkejut ketika sebuah motor berhenti tepat didepanku. Dua orang yang terbungkus mantel hujan turun dari motor tadi. Nampaknya mereka sepasang kekasih. Mereka berpegangan tangan dengan mesra berjalan kearahku. Mungkin juga ingin berteduh.
Beberapa saat lamanya aku terdiam melihat kedatangan mereka. Aku ingin kembali kelamunanku,tapi tak bisa. Aku ingin berteriak menyumpahi kedua orang tadi, karna mereka telah menganggu kenyamananku. Tapi semua itu aku urungkan.
Aku memperbaiki posisiku dan bersandar pada tembok. Kulihat mereka sedang melucuti mantel mereka. Satu persatu pakaian hujan itu lepas dari tubuh mereka, sehingga aku dapat melihat wajah mereka, walau samar.
 Mereka kembali bergandengan tangan dengan mesra seolah tak mengangap keberadaanku. Aku berusaha untuk tidak mengangap keberadaan mereka dan melanjutkan lamunanku. Sebenarnya aku agak risih karna cewek itu  mirip Linda.
“ Mungkin aku salah lihat. Lagipula gelap” kilahku dalam hati.
Kutatap layar handphoneku yang semenjak tadi aku lupakan gara-gara kedatangan meraka. Sekali lagi kubaca rangkaian kata tadi. Aku tersenyum puas. Tinggal menekan tombol sekali lagi.
“ Dika” seseorang memanggilku. Mengkin hanya hayalanku. Lagipula siapa.
Cewek itu berjalan mendekatiku, aku masih cuek dan kembali menatap layar handphoneku.
“ Kamu Dika kan?” aku terperanjat. Hampir saja aku melompat kebelakang saat melihat wajah itu. Linda. Ya benar, dia Linda. Tapi kenapa dia bisa ada disini?
“ Aku Linda adik kelasmu. Kitakan  satu organisasi masa lupa sih .” sapa dia ramah.
“ Romi, kenalin dia Dika. Dia baik banget lo sama aku.” Cowok yang bernama Romi ( kata Linda tadi ) berjalan menghampiriku. Dia menjabat tanganku dengan erat.
“ Romi. Pacarnya Linda.”
Dug.
Jantungku berhenti untuk beberapa saat, tak kuasa menahan semua ini. Aku tak tahu lagi gejolak dalam hatiku. Wanita yang sangat aku kagumi sekarang berdiri didepanku bersama kekasihnya. Berat. Sangat berat.
“Di…..Dika..” ujarku gugup menyembunyikan semua gejolak dalam hatiku.
Aku ingin menangis, tapi kenapa air mata ini tak mau keluar. Orang yang kukagumi selama ini sekarang sedang bermesraan dengan kekasihnya didepan mata kepalaku sendiri. Sakit. Sangat sakit hatiku saat ini.
Waktu berjalan sangat lamban. Inikah rasanya dihianati orang yang kita kagumi. Atau inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Aku ingin menceritakan semua ini,tapi kepada siapa? Masih adakah orang yang mau mendengarkan ceritaku ini. Apakah mereka tidak akan menertawaiku?
*          *          *          *
Mereka sudah pergi sejak hujan reda, 5 menit yang lalu. Aku mematung tak bergerak sedikitpun melihat kepergian mereka. Setetes air mata jatuh dari pelepuk mataku. Hanya setetes. Aku memejamkan mata mencoba menikmati segala gejolak ini.
 Aku tak tahu apakah harus bersyukur atau apa karna pesan tadi belum sempat kukirim. Entah yang keberapa kalinya aku membaca kata-kata yang kubuat tadi. Perih.
Dalam hitungan detik layar handphoneku telah bersih. Tapi kenapa hati ini masih sangat sakit. Inikah buah dari kekagumanku selama ini. Sepahit inikah.
Tapi, kurasa tidaklah salah aku mengagumi. Mungkin hanya aku saja yang berharap terlalu banyak kepadanya. Ini semua salahku. Dan semua ini harus selesai malam ini. Hanya malam ini.

Selesai...
Maaf ya kalau ada kata-kata yang gak enak dibaca, ini aku copy paste dari karyanya temen. Namanya INDRO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar