
Assalamualaikum
Hmmbb..
udah lama ini postingannya ilang. Ya kembali ke sastra aja ya teman-teman. Kali
ini cerpennya bertemakan CINTA. Cerpen ini byukan karyaku, melainkan seorang
lelaki yang jauh disana. Teman, kakak, dan siapa lah bagiku. Hehehe..
Judulnya
: PUPUS
Aku duduk termenung disini. Di jalan
yang sepi ini aku tumpahkan semua isi hatiku. Kuceritakan kepada kegelapan
malam semua tentang hari-hariku, entah yang menyenangkan maupun yang
menyedihkan. Tempat ini adalah tempat yang sangat aku sukai. Disini aku dapat
merenung dengan tenang. Bermandikan cahaya bintang dan hanya satu dua kendaraan
yang berlalu-lalang. Sungguh suasana yang menentramkan.
Seperti
biasanya, aku duduk sendiri di trotoar jalan. Mengingat potongan cerita yang
menyenangkan dihari-hariku, dan kuceritakan kepada alam yang selalu setia
mendengarkan ceritaku. Tanpa pernah menyanggah sedikitpun. Itulah salah satu
kesenanganku berbagi dengan alam. Sekali-kali kuhisap rokok yang terselip
diantara dua jariku. Hanya benda ini yang menjadi teman setiaku setiap malam.
Merdunya suara daun yang diterpa angin membuatku mersasa lebih nyaman
bercengkrama dengan alam.
Aku
menatap jauh kedepan. Berusaha menyelinap diantara kegelapan malam.
Ya.
Satu tahun yang lalu aku bertemu dengannya. Pertemuan ini bukanlah pertemuan
yang yang diskenario. Kebetulan waktu itu aku ikut andil dalam proses
penerimaan siswa baru di sekolahku. Saat itulah pertama kali aku melihatnya.
Wajahnya cantik. Bersih. Kecantikan itu bertambah sempuna dengan balutan
kerudung putih yang tampak anggun. Tatapan matanya sejuk, membuatku betah
berlama-lama menatap matanya. Lesung pipinya terlihat aneh ketika dia
tersenyum, namun inilah yang aku sukai dari dirinya. Manis.
Tiga
hari itu berlalu dengan sangat cepat, namun tiga hari itu adalah tiga hari yang
paling menyenangkan dalam hidupku. Hari-hari yang indah. Aku tak tahu kenapa
aku merasa nyaman ketika menatap matanya. Sejuk. Sangat sejuk. Mungkin dia
adalah orang kedua yang dapat menberikan kenyamanan seperti ini setelah ibuku.
Walaupun aku baru mengenalnya beberapa hari dan dia tidak pernah berkata sepatahpun
kepadaku. Entah kenapa ?
Sepeda
motor melaju dengan kencang dari arah utara. Seketika lamunanku terbuyar ketika
kendaraan tersebut melaju didepanku. Sesaat kemudian suasana kembali sepi.
Sangat sepi malah. Hanya sekali-kali terdengan suara jangkrik yang dengan malas
mengesek biolanya.
Kulemparkan
putung rokok yang telah habis dari tadi. Aku merogoh kantong celanaku mengambil
rokok. “ yah, tinggal sebatang” gumanku entah kepada siapa. Segera kusulut
rokok tadi dengan korek yang semenjak tadi aku permainkan.
Di sekolah aku termasuk siswa yang aktif dalam
mengikuti kegiatan organisasi. Bahkan aku tidak hanya mengikuti satu
organisasi. Aku tidak pernah kepikiran untuk melihat wajahnya lagi. Tapi entah
suatu kebetulan atau suatu rencana, dia mengikuti salah satu organisasi yang
aku ikuti. Mungkinkah ini petunjuk ?
Kuperbanyak kegiatan
diorganisasi yang aku pimpin. Semua ini semata-mata aku lakukan agar aku dapat
melihat wajahnya lebih lama. Ya, inilah cara licikku. Tapi tak mengapalah,
asalkan masih wajar, semoga orang lain tidak mencium gerak-gerikku ini. Waktu
berlalu dengan cepat, dan rasa ini ( entah rasa apa ) semakin menggunung
memenuhi rongga hatiku.
Pernah aku berkeinginan
menyampaikan perasaan ini kepadanya. Aku menulis semua rasa kekagumanku. Tapi
entah kenapa aku takut untuk mengirimkannya. Padahal aku sudah mendapatkan
e-mailnya ( dengan kedok organisasi juga ). Aku takut menerima kenyataan dari
jawabannya. Aku sadar bahwa ternyata aku seorang pengecut, setidaknya dalam
masalah ini. Tapi kenapa cuma dia. Aku bisa mengatakan dengan santai dengan
cewek lain, tapi kenapa dengan dia berbeda ?
Bahkan aku butuh waktu
lebih untuk menyusun kata-kata sekedar untuk membalas pesan singkatnya. Aku
takut melukai perasaannya, padahal aku juga tidak pernah tahu tentang perasaannya
kepadaku. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai kakak. Mungkin sih karna
memang aku kakak kelasnya. Tapi kenapa aku mengharap yang lebih dari itu.
Salahkah harapanku ini?
Dua bulan yang lalu aku
pernah berusaha membuang semua perasaanku kepadanya. Hampir satu bulan aku
vakum dari organisasi karna tidak ingin bertemu dengannya. Terlebih senyuman
dan tatapan matanya itu yang selalu bisa membuatku terpesona. Berulang kali aku
mengatakan bahwa aku tidak mengaguminya. Tapi semakin hatiku menolak, bayangan
itu malah semakin merasuk kedalam otakku. Sampai-sampai aku tidak dapat
berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Walhasil nilaiku menurun dratis (
padahal sebalum aku mengenal dia nilaiku juga jauh darikata bagus ).
“ Trrraaat…
trrraaatt. “ satu pesan singkat
membuyarkan lamunanku, lamunan yang sebenarnya tidak ingin aku akhiri. “ siapa
sih malam-malam SMS.” Gumanku lirih. Dengan malas kusepak handphone yang dari
tadi tergeletak kearahku.
“ Mengganggu saja.”
Kuhisap sisa rokok yang
masih ada ditanganku. Kulemparhan putung rokok tadi ketengah jalan. Percikan
apinya sungguh sangat indah.
Aku berjalan menyusuri
jalanan itu. Sudah tidak ada kendaraan lagi. Mungkin mereka telah terbuai dalam
buaian mimpi masing-masing.
Aku kembali merangkai
ingatanku yang tidak terlalu bagus ini. Aku berjalan dengan gontai ditengah
jalan. Terkadang memejamkan mata menikmati lamunan ini. Aku berharap tidak ada
kendaraan yang menabrakku ( karena aku tak ingin lamunan indahku terganggu
lagi).
Akhir-akhir ini dia
memberikan isyarat lampu hijau kepadaku. “ dia juga mengagumiku “ gumanku pelan
sekenanya. Kami sering ngobrol berdua, walaupun tak pernah menyinggung masalah
ini.
Kebetulan dalam waktu
dekat ini sekolahku akan mengadakan acara yang cukup besar. Dan yang menbuatku
senang bukan karna acaranya, tapi karena aku mendapat tugas yang sama denga dia
dalam acara itu. “Acara ini dapat aku jadikan kedok untuk berlama-lama
dengannya” pikiran licikku kembali menang.
Sekarang aku banyak
menghabiskan waktuku di sekolah. Sekedar untuk mrmbicarakan sesuatu yang bisa
dibilang gak penting dengannya. Yang membuatku semakin senang, ia menanggapi
obrolan gak penting itu ( walaupun dia juga tahu bahwa arah pembicaraan itu gak
jelas entah kemana ). Selama pembicaraan aku lebih banyak diam dan memandangi
matanya yang sejuk. Sekali-kali tersungging senyuman manis dibibirnya. Sangat
manis. Aku sangat menikmati saat bersamanya dan sepertinya ia juga merasa
nyaman bersamaku.
Terkadang aku tersenyum
sendiri mengingat masa-masa indahku bersamanya.Aku tak peduli seandainya ada
orang yang melihat tingkahku dan mengangapku orang gila. Terserah kalian mau
berkata apa, yang penting saat ini bunga sakura sedang bermekaran dihatiku.
Sangat indah.
Aku mendongakkan
kepalaku keatas. Lagit yang indah, milyaran bintang tertumpah ruah disana. Tapi
entah kenapa aku melihat gugusan bintang yang menyusun namanya. Inikah yang
disebut kasmaran ?
Aku sudah berjalan
sekitar 10 menit. Dan sekarang aku berdiri tepat didepan sebuah pasar. Pasar
tradisional lebih tepatnya. Disana terjadi kesibukan para pedagang yang menata
barang dagangannya. Aku mempercepat langkahku, karna memang besok aku harus
berangkat ke sekolah.
Terbayang betapa sangat
menyenangkannya jika aku dapat memilikinya. Memiliki pacar secantik dan
seanggun dia. Memiliki istri yang sholeha sepertinya. Dan memiliki anak-anak
yang manis-manis ( pikiranku ngelantur entah sampai mana). Siapa juga yang
tidak ingin memiliki gadis secantik dan semanis dia. Siapa?
Sejenak aku terpaku
memikirkan kata-kataku tadi. “ Siapa?”. Kalimat ini memang benar, tapi kenapa
dihati kecilku mengatakan ada kejanggalan pada kalimat ini. Aku termenung
memikirkan kalimat itu. Kusandarkan tubuh ini pada tiang listrik di tepi jalan.
“ Siapa ?”.
Adakah cowok lain yang
mengaguminya selain aku? Kalau ada siapa? Jangan-jangan ia ingin menyatakan
rasa kekagumannya itu besok pagi. Atau, dia malah ingin menyampaikannya malam ini
lewat pesan singkat. Hatiku menduga-duga sejadinya. Tubuhku gemetar. Kaki ini
seolah tak sanggup lagi menopang tubuhku. Kurebahkan tubuh ini ke trotoar yang
sedikit basah akan embun pagi.
Ingin rasanya aku
ungkapkan rasa kekagumanku ini sekarang juga. Lewat pesan singkat? Tapi aku tak pandai merangkai
kata-kata yang indah. Besok pagi? Aku tak sabar untuk menunggu sampai besok
pagi di sekolah. Lagipula dia pasti minta sepulang sekolah. Terlalu lama.
Kuputuskan aku akan
menyatakan rasa kekagumanku selama ini kepadanya. Lewat pesan singkat. Malam
ini.
“ Linda. Malam ini aku
akan berkata jujur padamu. Aku mengagumimu. Maukah kau jadi pacarku”
Sangat singkat. Kuhapus
pesan tadi dan aku kembali menyusun kata yang sekiranya pantas untuknya.
“Linda, tahukah engkau
dimana saat-saat paling bahagiaku. Dimana saat-saat paling berarti dalam
hidupku. Saat-saat itu adalah saat dimana aku bersamamu. Aku tak bisa melupakan
wajah manismu. Bayangan wajahmu selalu muncul disetiap detik hariku. Aku tak
bisa lepas dari tatapan matamu yang sejuk itu. Hanya senyumanmulah yang dapat
merubah duniaku, menjadi lebih bermakna. Aku telah merangkai namamu dari ribuan
gugusan bintang dilangit. Namamu yang selalu dapat menguatkanku, sepedih apapun hatiku. Selalu
menemani dimalam-malamku yang sunyi. Aku pernah mencoba membuang jauh-jauh
bayanganmu. Tapi sulit. Sangat sulit. Sepertinya hati kita memang telah
terpatri kuat diatas sana. Linda , maukah engkau menjadi bidadari didunia dan
disurga untukku.
Terlalu lebay, aku
bukanlah orang yang seperti itu. Kata-kata yang kususun tak kurang dari 20
menit ini lenyap dalam hitungan detik.
Aku beranjak dari
tempat dudukku untuk pulang. “ siapa tahu aku dapat kata-kata yang pantas
untuknya dijalan” gumanku pelan.
Gerimis turun perlahan.
Aku berlari kesebuah rumah yang memiliki pelataran agak luas. Cukuplah untuk
sekedar berteduh. Aku berdiri tidak jauh dari pusat perbelanjaan yang buka 24
jam. Sepertinya tempat itu tak pernah sepi.
“Linda, aku tak tahu
harus memulai dari mana. Tapi semenjak aku melihatmu, aku merasa telah
menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari diriku. Senyuman dan tatapan
matamu itu selalu dapat memberikan kenyamannan tersendiri bagiku. Berada
disampingmu adalah saat terindah bagiku. Shofia, aku ingin berkata jujur
padamu, dan aku akan menghargai segala kepuusanmu. Aku mengagummimu. 14106.
Kurasa ini tidak
berlebihan. Dan pasti dia tahu arti angka itu. Harusnya sudah tak asing lagi
untuk seorang yang mempelajari bahasa jepang.
Aku berkali-kali
menbaca ulang kalimat yang tertulis dilayar handphone bututku. Aku tersenyum
puas dengan buah karya yang baru saja aku ciptakan untuk orang istimewaku.
Kirim pesan. Mencari
kontak. Shofia. Kirim pesan?
Tanganku gemetar, aku
tak bisa menekan tombol ini. Kenapa? Hatiku bergemuruh hebat. Entah apa yang
telah terjadi disana. Ataukan jangan-jangan aku belum siap menerima jawaban
darinya.
Aku terkejut ketika
sebuah motor berhenti tepat didepanku. Dua orang yang terbungkus mantel hujan
turun dari motor tadi. Nampaknya mereka sepasang kekasih. Mereka berpegangan
tangan dengan mesra berjalan kearahku. Mungkin juga ingin berteduh.
Beberapa saat lamanya
aku terdiam melihat kedatangan mereka. Aku ingin kembali kelamunanku,tapi tak
bisa. Aku ingin berteriak menyumpahi kedua orang tadi, karna mereka telah
menganggu kenyamananku. Tapi semua itu aku urungkan.
Aku memperbaiki
posisiku dan bersandar pada tembok. Kulihat mereka sedang melucuti mantel
mereka. Satu persatu pakaian hujan itu lepas dari tubuh mereka, sehingga aku
dapat melihat wajah mereka, walau samar.
Mereka kembali bergandengan tangan dengan
mesra seolah tak mengangap keberadaanku. Aku berusaha untuk tidak mengangap
keberadaan mereka dan melanjutkan lamunanku. Sebenarnya aku agak risih karna
cewek itu mirip Linda.
“ Mungkin aku salah
lihat. Lagipula gelap” kilahku dalam hati.
Kutatap layar
handphoneku yang semenjak tadi aku lupakan gara-gara kedatangan meraka. Sekali
lagi kubaca rangkaian kata tadi. Aku tersenyum puas. Tinggal menekan tombol sekali
lagi.
“ Dika” seseorang
memanggilku. Mengkin hanya hayalanku. Lagipula siapa.
Cewek itu berjalan
mendekatiku, aku masih cuek dan kembali menatap layar handphoneku.
“ Kamu Dika kan?” aku
terperanjat. Hampir saja aku melompat kebelakang saat melihat wajah itu. Linda.
Ya benar, dia Linda. Tapi kenapa dia bisa ada disini?
“ Aku Linda adik
kelasmu. Kitakan satu organisasi masa
lupa sih .” sapa dia ramah.
“ Romi, kenalin dia
Dika. Dia baik banget lo sama aku.” Cowok yang bernama Romi ( kata Linda tadi )
berjalan menghampiriku. Dia menjabat tanganku dengan erat.
“ Romi. Pacarnya Linda.”
Dug.
Jantungku berhenti
untuk beberapa saat, tak kuasa menahan semua ini. Aku tak tahu lagi gejolak
dalam hatiku. Wanita yang sangat aku kagumi sekarang berdiri didepanku bersama
kekasihnya. Berat. Sangat berat.
“Di…..Dika..” ujarku
gugup menyembunyikan semua gejolak dalam hatiku.
Aku ingin menangis,
tapi kenapa air mata ini tak mau keluar. Orang yang kukagumi selama ini
sekarang sedang bermesraan dengan kekasihnya didepan mata kepalaku sendiri.
Sakit. Sangat sakit hatiku saat ini.
Waktu berjalan sangat
lamban. Inikah rasanya dihianati orang yang kita kagumi. Atau inikah rasanya
cinta bertepuk sebelah tangan. Aku ingin menceritakan semua ini,tapi kepada
siapa? Masih adakah orang yang mau mendengarkan ceritaku ini. Apakah mereka
tidak akan menertawaiku?
* * * *
Mereka sudah pergi
sejak hujan reda, 5 menit yang lalu. Aku mematung tak bergerak sedikitpun
melihat kepergian mereka. Setetes air mata jatuh dari pelepuk mataku. Hanya
setetes. Aku memejamkan mata mencoba menikmati segala gejolak ini.
Aku tak tahu apakah harus bersyukur atau apa
karna pesan tadi belum sempat kukirim. Entah yang keberapa kalinya aku membaca
kata-kata yang kubuat tadi. Perih.
Dalam hitungan detik
layar handphoneku telah bersih. Tapi kenapa hati ini masih sangat sakit. Inikah
buah dari kekagumanku selama ini. Sepahit inikah.
Tapi, kurasa tidaklah salah
aku mengagumi. Mungkin hanya aku saja yang berharap terlalu banyak kepadanya.
Ini semua salahku. Dan semua ini harus selesai malam ini. Hanya malam ini.
Selesai...
Maaf
ya kalau ada kata-kata yang gak enak dibaca, ini aku copy paste dari karyanya
temen. Namanya INDRO.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar