
Maaf Untukmu Masa Laluku
Hening merasuk dalam kegelapan. Tiada angin berseru dan
suara membising melainkan hanya jarum jam dinding dalam kamarku dan ringikan
jangkrik. Maklumlah malam ini adalah malam ke 12 bulan Ramadhan 1435 H yang
identik dengan tadarus malam hingga tiba dirumah pukul 22.00 WIB.
Menunggu
beberapa detik tak kunjung ada jawaban dan tak ada orang yang membuka pintu
yang terkunci. Aku terus bersalam hingga tanpa aku sadari aku bersenandung lagu
Opick yang cukup populer berjudul Assalamualaikum.
“Assalamualaikum ya akhi ya ukhti... assalamualaikum ya
akhi ya ukhti.. salam salam hai saudaraku semoga Allah merahmatimu, salam salam
wahai semua semoga hidup jadi bahagia..”
“Waalaikumussalam...” terdengar jawaban salam dari dalam
rumah. Tidak lain dialah ibu yang senantiasa terjaga malam menunggu kepulangan
suami dan putrinya. Tidak lama kemudian dibukalah pintu rumah yang tadi
terkunci.
“Udah pulang kamu nak, tumben bapak belakangan” ucap ibu
usai melihatku masuk ke rumah.
“Mungkin bapak baru asyik mengobrol dengan bapak-bapak
yang lain bu. Kenapa adik tidur disini ? Ngantuk ?” jawabku
“oh Dian biasa kan ketiduran diruang tamu. Tolong
bangunin nak ! nanti disuruh bobok sama ibu dikamar ibu aja” pinta ibu sambil
menutup kembali pintu rumah tanpa menguncinya lantas berjalan kembali ke
kamarnya.
Aku mengangguk pelan.
Perlahan melepas mukena yang kukenakan untuk taraweh dan
tadarus disamping Dian. Beberapa cemilan yang masih ada aku lahap sebelum aku
tidur. Walaupun Dian terlihat sudah tidur tapi setelah channel TV aku ganti ke
sebuah sinetron berjudul “GANTENG-GANTENG SRIGALA” seketika Dian membuka
matanya dan menonton.
“Kamu disuruh tidur dikamar ibu” sahutku saat melihat
Dian sudah terbangun
“Gak mau !” jawabnya ketus
Channel TV aku ganti lagi karena bapak keburu masuk. Aku
sudah bisa hafal dengan suara sandal bapak yang menggesek tanah dihalaman
depan.
“Bu, Dian tidur sama aku !” seruku kepada ibu
“Ya, jangan lupa jaketnya dipake” ibu sedikit
mengeraskan suara
Beberapa saat kemudian. Terhitung 10 detik.
“Assalamualaikum” ayah membuka pintu rumah lantas masuk
dan menyapa dengan salam
“Waalaikumussalam” jawabku
“Udah sampai rumah kamu nak atau emang gak tadarus ?”
bapak menutup kembali pintu rumah dan sedikit terheran melihatku pulang
terlebih dulu darinya
“Em ngaji kok pak tadi sama mb Nurul” lanjutku
“Ya Allah, adikmu disuruh masuk ke kamar nak keburu
kedinginan !” begitu khawatirnya kedua orangtuaku hingga menegurku untuk
membawa adikku ke kamar.
“Hemb” aku mengangguk pelan.
Aku lirikkan pandanganku ke arah Dian yang tadi sudah
terbangun. Ternyata dia kembali pulas dengan kelelahannya. Aku salah mengira
bahwa dia masih menonton TV.
“Dek... bangun yok ! Pindah ke kamar !” pundak kiri Dian
aku goyangkan pelan.
“Hee ? Yaa...” adikku mengigau
Melihat Dian yang tidak terbangun dan terus melanjutkan
mimpinya, aku terpaksa menarik kedua lengannya dan mengajaknya pindah ke kamar
yang lebih hangat dan nyaman.
“Stttt... ayo masuk ! Bobok didalem !” ajakku sambil
menarik tangan Dian yang masih terbaring
Seketika entah karena sakit atau risi dengan
genggamanku, Dian terkejut dan terbangun. “Apaaa ??” igaunya sekali lagi.
“Ayo ke kamar ! tidurnya jangan diruang tamu !” ajakku
lagi.
“Yaahhh..” adikku lantas berdiri dan masuk ke dalam
kamar. Menarik selimut tebalnya dan kembali menutup mata merangkai mimpi.
Suasana semakin sunyi. Tinggal aku sendiri yang bertahan
membuka mata dimalam dingin ini. Bapak, ibu, dan adik sudah tertidur pulas
dikamar masing-masing. Sementara aku, sebenarnya sudah berada didalam kamarku
namun berbeda aktivitas dengan adikku. Aku berhadapan dengan laptop yang
dilayarnya muncul lembaran kertas yang siap aku tuangkan tulisan melalui
keyboard.
Malam dingin dengan kesegaran air wudhu,
Aku masih berdiri kokoh menengadah,
Menyapa rembulan dan bintang malam,
Menyapu deraian kelelahan,
Jemariku terhenti menekan tombol keyboard. Sejenak
sesuatu terlintas difikirku.
‘Apa yang paling
jauh dari manusia didunia ini ? Jawabnya adalah masa lalu.’
Ceramah bada Isya tadi masih aku ingat. Seorang
penceramah menyampaikan bahwasanya Imam Ghazali pernah berkata seperti itu.
Namun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin fananya dunia ini, manusia
melupakan hal tersebut. Masa lalu yang tidak bisa diulang kembali kejadiannya
meski indah maupun buruk.
Jemariku kembali menekan keyboard mengikuti fikiranku.
Gulita dengan keindahan sang bintang,
Tak mungkin aku dapat dicerah siang,
Begitulah masa lalu,
Tidak bisa aku jalani dimasa sekarang
Menyesal ?
Hal pertama yang ku rasa,
Meninggalkan kebahagiaan masa lalu,
Hanya karena sebuah kebohongan,
Allah Maha Tahu,
Aku bertawakal padanya,
Memohon-Nya untuk berpesan kepada seorang hamba disana,
“Aku mohon maaf atas kesalahanku padamu dimasa lalu”
pintaku,
Akhirnya dengan waktu 5 menit, sebuah curahan hati
terlampir dalam puisi. Tanpa disadari aku belum membuat judul untuk puisiku
dimalam ini.
“Apa judulnya ?” gumamku
Beralih ke dokumen didalam laptop. Lembaran yang
tertuang puisi sejenak aku tinggalkan. Sebuah file dengan nama “31 Maret 2013”
tidak sengaja aku temukan. Dan.. benarlah Kuasa Allah hingga aku dibuat-Nya
kembali merenung akan masa laluku. Perlahan aku membuka file tadi dengan mata
yang mengintip-intip.
“Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah” aku terus
berdzikir, mohon ampun kepada-Nya atas perbuatanku dimasa lalu. Kelam dan penuh
kesalahan.
Sudah satu tahun lebih aku membuat file “31 Maret 2013”
ini. Maklum jikalau aku lupa akan isi didalamnya. Setelah menunggu selama 10
detik, akhirnya file tadi terbuka. Aku membacanya perlahan.
Bismillah...
Entah apa yang sekarang aku rasakan. Getaran hati tiada henti
terasa seharian ini setelah melihatnya datang. Kembali membawa kebahagiaan.
Sekian lama aku memendam kepenatan hati ini akan sosoknya namun detik ini
kepenatan itu terbalas sudah.
Tidak pernah aku duga sebelumnya. Awalnya aku hanya mengagumi
sosok dia dari wibawa dan kebaikannya. Meski aku belum terlalu mengenalnya,
namun aku bisa merasakan bagaimana sosoknya. Seorang teman yang tidak lain
dekat dengannya selalu aku introgasi tentangnya. Dialah temanku “Sofia”.
Aku mengetahui banyak tentang dia dari Sofia.
Dalam hubungan baru ini, i have new plan. CAN DO BETTER AND DO
IMPOSIBLE BECOME POSSIBLE.
Aku menyeka sudut mataku yang berkaca-kaca usai membaca
tumpahan kegembiraanku kala itu. Masa lalu itu menjadi awal bagiku berubah
menjadi orang lain. Aku menjadi sosok wanita tidak terhandle dan banyak
bercanda namun prestasiku kala itu meningkat. Entah bagaimana aku dahulu
berfikir. Dari masa lalu itu aku berani menilai diriku sendiri bahwasanya aku
seorang yang Intuisi.
Dari seorang Intuisi,
aku berubah menjadi seorang individualis setelah mengenal seorang kakak kelas
bernama Indra. Aku hanya menggunakan nafsu mata dikala itu. Banyak dosa yang
bertumpah didiriku setelah aku mengenal sosoknya dan mulai dekat dengannya.
Wwuuusss... angin malam semakin terasa.
“Masa laluku begitu suram ya Rabb, apakah kau mau
membimbingku kembali ke jalanMu ? Aku berlindung padaMu atas segala godaan”
wajahku basah kuyup dengan linangan air mata penyesalan.
Segera aku menyapu air mata diwajah. Aku berkomitmen.
Kembali ku buka lembaran kertas tadi dan kembali aku menuliskan beratus huruf
diatasnya.
Masa lalu biarlah berlalu seperti dedaunan kering yang
berjatuhan,
Dibawahnya masih banyak bibit baik yang akan tumbuh dan
membutuhkan perwatan. Begitupun aku, aku harus bisa memperbaiki semua yang
sudah berlalu dari detik ini. Meninggalkan sifat-sifat burukku dahulu kala dan
perbuatan yang tidak berfaedah. Dengan mengenal teman-teman yang berakhlak dan
bertoleransi, aku akan berubah menjadi sosok wanita seperti Khatidjah. Amin.
Aku tidak ingin mengenal sosok dimasa laluku lagi. Aku masih
menganggap mereka ada, namun aku tak akan mengulang kesalahan lagi. Cukup kata
PERNAH yang aku katakan, bukan SELALU atau SERING. Aku pernah berbuat salah
bersama mereka dan aku tidak akan selalu berbuat salah dengan mereka lagi.
Cukup sekali !
BISMILLAH
Seorang teman yang sering ku panggil “Masnya” menjadi salah
seroang diantara teman baruku. Dimana aku akan merangkai kehidupan sesungguhnya.
Dengan berpegang pada pedoman Al Quran dan As Sunnah, bertauladankan
Rasulullah, dan berpendirian berdasarkan kebajikan dan perintah Allah.
Masa lalu adalah sesuatu yang tidak akan terulang lagi
kejadiannya dan menjadikan seseorang bisa lebih berfikir bagaimana untuk hidup
mulai detik ini.
Iffah Linda Yuliana (Misu Faian)
Menghela nafas panjang dan berdesis “Alhamdulillah”. Aku
menghentikan jemariku yang terus menekan keyboard. Mataku sejenak melirik ke
arah jarum jam dinding disamping atas kiriku.
“Haaahh ? Cepat sekali. Udah jam 11, aku harus cepet
tidur biar besok bisa sahur” tanpa terasa waktu yang berjalan lama kini
berbalik. Aku secepat mungkin menyimpan file baruku lantas mematikan laptop dan
menutupnya.
“Semoga Allah memberi jalan untuk taubatku ! Amin” doaku
sebelum mataku tertutup. “Allahuma
khasata kholqi wahasin khuluq” aku lantas tertidur pulas dan mulai
bermimpi indah.
Esok harinya saat Sahur, sebuah judul dari puisiku
semalam tercetus.
“Maaf untukmu masa laluku”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar