Rabu, 03 September 2014

Maaf Untukmu Masa Laluku




Maaf Untukmu Masa Laluku 

Hening merasuk dalam kegelapan. Tiada angin berseru dan suara membising melainkan hanya jarum jam dinding dalam kamarku dan ringikan jangkrik. Maklumlah malam ini adalah malam ke 12 bulan Ramadhan 1435 H yang identik dengan tadarus malam hingga tiba dirumah pukul 22.00 WIB.


 
“Assalamualaikum...” salamku sambil mengetuk pintu rumah.

Menunggu beberapa detik tak kunjung ada jawaban dan tak ada orang yang membuka pintu yang terkunci. Aku terus bersalam hingga tanpa aku sadari aku bersenandung lagu Opick yang cukup populer berjudul Assalamualaikum

“Assalamualaikum ya akhi ya ukhti... assalamualaikum ya akhi ya ukhti.. salam salam hai saudaraku semoga Allah merahmatimu, salam salam wahai semua semoga hidup jadi bahagia..”

“Waalaikumussalam...” terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Tidak lain dialah ibu yang senantiasa terjaga malam menunggu kepulangan suami dan putrinya. Tidak lama kemudian dibukalah pintu rumah yang tadi terkunci.

“Udah pulang kamu nak, tumben bapak belakangan” ucap ibu usai melihatku masuk ke rumah.

“Mungkin bapak baru asyik mengobrol dengan bapak-bapak yang lain bu. Kenapa adik tidur disini ? Ngantuk ?” jawabku

“oh Dian biasa kan ketiduran diruang tamu. Tolong bangunin nak ! nanti disuruh bobok sama ibu dikamar ibu aja” pinta ibu sambil menutup kembali pintu rumah tanpa menguncinya lantas berjalan kembali ke kamarnya.

Aku mengangguk pelan. 

Perlahan melepas mukena yang kukenakan untuk taraweh dan tadarus disamping Dian. Beberapa cemilan yang masih ada aku lahap sebelum aku tidur. Walaupun Dian terlihat sudah tidur tapi setelah channel TV aku ganti ke sebuah sinetron berjudul “GANTENG-GANTENG SRIGALA” seketika Dian membuka matanya dan menonton.

“Kamu disuruh tidur dikamar ibu” sahutku saat melihat Dian sudah terbangun

“Gak mau !” jawabnya ketus

Channel TV aku ganti lagi karena bapak keburu masuk. Aku sudah bisa hafal dengan suara sandal bapak yang menggesek tanah dihalaman depan.

“Bu, Dian tidur sama aku !” seruku kepada ibu 

“Ya, jangan lupa jaketnya dipake” ibu sedikit mengeraskan suara

Beberapa saat kemudian. Terhitung 10 detik.

“Assalamualaikum” ayah membuka pintu rumah lantas masuk dan menyapa dengan salam

“Waalaikumussalam” jawabku

“Udah sampai rumah kamu nak atau emang gak tadarus ?” bapak menutup kembali pintu rumah dan sedikit terheran melihatku pulang terlebih dulu darinya

“Em ngaji kok pak tadi sama mb Nurul” lanjutku

“Ya Allah, adikmu disuruh masuk ke kamar nak keburu kedinginan !” begitu khawatirnya kedua orangtuaku hingga menegurku untuk membawa adikku ke kamar.

“Hemb” aku mengangguk pelan.

Aku lirikkan pandanganku ke arah Dian yang tadi sudah terbangun. Ternyata dia kembali pulas dengan kelelahannya. Aku salah mengira bahwa dia masih menonton TV.

“Dek... bangun yok ! Pindah ke kamar !” pundak kiri Dian aku goyangkan pelan. 

“Hee ? Yaa...” adikku mengigau

Melihat Dian yang tidak terbangun dan terus melanjutkan mimpinya, aku terpaksa menarik kedua lengannya dan mengajaknya pindah ke kamar yang lebih hangat dan nyaman.

“Stttt... ayo masuk ! Bobok didalem !” ajakku sambil menarik tangan Dian yang masih terbaring

Seketika entah karena sakit atau risi dengan genggamanku, Dian terkejut dan terbangun. “Apaaa ??” igaunya sekali lagi.

“Ayo ke kamar ! tidurnya jangan diruang tamu !” ajakku lagi.

“Yaahhh..” adikku lantas berdiri dan masuk ke dalam kamar. Menarik selimut tebalnya dan kembali menutup mata merangkai mimpi.

Suasana semakin sunyi. Tinggal aku sendiri yang bertahan membuka mata dimalam dingin ini. Bapak, ibu, dan adik sudah tertidur pulas dikamar masing-masing. Sementara aku, sebenarnya sudah berada didalam kamarku namun berbeda aktivitas dengan adikku. Aku berhadapan dengan laptop yang dilayarnya muncul lembaran kertas yang siap aku tuangkan tulisan melalui keyboard.

Malam dingin dengan kesegaran air wudhu,
Aku masih berdiri kokoh menengadah,
Menyapa rembulan dan bintang malam,
Menyapu deraian kelelahan,

Jemariku terhenti menekan tombol keyboard. Sejenak sesuatu terlintas difikirku.

‘Apa yang paling jauh dari manusia didunia ini ? Jawabnya adalah masa lalu.’
Ceramah bada Isya tadi masih aku ingat. Seorang penceramah menyampaikan bahwasanya Imam Ghazali pernah berkata seperti itu. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin fananya dunia ini, manusia melupakan hal tersebut. Masa lalu yang tidak bisa diulang kembali kejadiannya meski indah maupun buruk.

Jemariku kembali menekan keyboard mengikuti fikiranku.

Gulita dengan keindahan sang bintang,
Tak mungkin aku dapat dicerah siang,
Begitulah masa lalu,
Tidak bisa aku jalani dimasa sekarang

Menyesal ?
Hal pertama yang ku rasa,
Meninggalkan kebahagiaan masa lalu,
Hanya karena sebuah kebohongan,

Allah Maha Tahu,
Aku bertawakal padanya,
Memohon-Nya untuk berpesan kepada seorang hamba disana,
“Aku mohon maaf atas kesalahanku padamu dimasa lalu” pintaku,

Akhirnya dengan waktu 5 menit, sebuah curahan hati terlampir dalam puisi. Tanpa disadari aku belum membuat judul untuk puisiku dimalam ini. 

“Apa judulnya ?” gumamku 

Beralih ke dokumen didalam laptop. Lembaran yang tertuang puisi sejenak aku tinggalkan. Sebuah file dengan nama “31 Maret 2013” tidak sengaja aku temukan. Dan.. benarlah Kuasa Allah hingga aku dibuat-Nya kembali merenung akan masa laluku. Perlahan aku membuka file tadi dengan mata yang mengintip-intip.

“Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah” aku terus berdzikir, mohon ampun kepada-Nya atas perbuatanku dimasa lalu. Kelam dan penuh kesalahan. 

Sudah satu tahun lebih aku membuat file “31 Maret 2013” ini. Maklum jikalau aku lupa akan isi didalamnya. Setelah menunggu selama 10 detik, akhirnya file tadi terbuka. Aku membacanya perlahan.

Bismillah...
Entah apa yang sekarang aku rasakan. Getaran hati tiada henti terasa seharian ini setelah melihatnya datang. Kembali membawa kebahagiaan. Sekian lama aku memendam kepenatan hati ini akan sosoknya namun detik ini kepenatan itu terbalas sudah.
Tidak pernah aku duga sebelumnya. Awalnya aku hanya mengagumi sosok dia dari wibawa dan kebaikannya. Meski aku belum terlalu mengenalnya, namun aku bisa merasakan bagaimana sosoknya. Seorang teman yang tidak lain dekat dengannya selalu aku introgasi tentangnya. Dialah temanku “Sofia”.
Aku mengetahui banyak tentang dia dari Sofia.
Dalam hubungan baru ini, i have new plan. CAN DO BETTER AND DO IMPOSIBLE BECOME POSSIBLE.

Aku menyeka sudut mataku yang berkaca-kaca usai membaca tumpahan kegembiraanku kala itu. Masa lalu itu menjadi awal bagiku berubah menjadi orang lain. Aku menjadi sosok wanita tidak terhandle dan banyak bercanda namun prestasiku kala itu meningkat. Entah bagaimana aku dahulu berfikir. Dari masa lalu itu aku berani menilai diriku sendiri bahwasanya aku seorang yang Intuisi. 

Dari seorang Intuisi, aku berubah menjadi seorang individualis setelah mengenal seorang kakak kelas bernama Indra. Aku hanya menggunakan nafsu mata dikala itu. Banyak dosa yang bertumpah didiriku setelah aku mengenal sosoknya dan mulai dekat dengannya.

Wwuuusss... angin malam semakin terasa.
“Masa laluku begitu suram ya Rabb, apakah kau mau membimbingku kembali ke jalanMu ? Aku berlindung padaMu atas segala godaan” wajahku basah kuyup dengan linangan air mata penyesalan.

Segera aku menyapu air mata diwajah. Aku berkomitmen. Kembali ku buka lembaran kertas tadi dan kembali aku menuliskan beratus huruf diatasnya.

Masa lalu biarlah berlalu seperti dedaunan kering yang berjatuhan,
Dibawahnya masih banyak bibit baik yang akan tumbuh dan membutuhkan perwatan. Begitupun aku, aku harus bisa memperbaiki semua yang sudah berlalu dari detik ini. Meninggalkan sifat-sifat burukku dahulu kala dan perbuatan yang tidak berfaedah. Dengan mengenal teman-teman yang berakhlak dan bertoleransi, aku akan berubah menjadi sosok wanita seperti Khatidjah. Amin.
Aku tidak ingin mengenal sosok dimasa laluku lagi. Aku masih menganggap mereka ada, namun aku tak akan mengulang kesalahan lagi. Cukup kata PERNAH yang aku katakan, bukan SELALU atau SERING. Aku pernah berbuat salah bersama mereka dan aku tidak akan selalu berbuat salah dengan mereka lagi. Cukup sekali !
BISMILLAH
Seorang teman yang sering ku panggil “Masnya” menjadi salah seroang diantara teman baruku. Dimana aku akan merangkai kehidupan sesungguhnya. Dengan berpegang pada pedoman Al Quran dan As Sunnah, bertauladankan Rasulullah, dan berpendirian berdasarkan kebajikan dan perintah Allah.
Masa lalu adalah sesuatu yang tidak akan terulang lagi kejadiannya dan menjadikan seseorang bisa lebih berfikir bagaimana untuk hidup mulai detik ini.
Iffah Linda Yuliana (Misu Faian)
Menghela nafas panjang dan berdesis “Alhamdulillah”. Aku menghentikan jemariku yang terus menekan keyboard. Mataku sejenak melirik ke arah jarum jam dinding disamping atas kiriku.
“Haaahh ? Cepat sekali. Udah jam 11, aku harus cepet tidur biar besok bisa sahur” tanpa terasa waktu yang berjalan lama kini berbalik. Aku secepat mungkin menyimpan file baruku lantas mematikan laptop dan menutupnya.
“Semoga Allah memberi jalan untuk taubatku ! Amin” doaku sebelum mataku tertutup. “Allahuma  khasata kholqi wahasin khuluq” aku lantas tertidur pulas dan mulai bermimpi indah.
Esok harinya saat Sahur, sebuah judul dari puisiku semalam tercetus.
“Maaf untukmu masa laluku”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar