.jpg)
Namanya
“CINTA”.
Ya,
memang cukup banyak pendefinisian tentang Cinta. Di kalangan remaja khususnya,
sudah banyak kata-kata bualan keluar dengan alasan “CINTA” padahal yang terjadi
“Nafsu”.
Pengalaman
pribadiku. Dahulu tepatnya tahun 2013 dibulan Maret. Salah seorang lelaki yang
aku tilik “Baik” dan “Berwibawa” tiba-tiba menembakku. Au sedikit bersyukur,
kalimat yang diungkapkannya tidak ada kata “CINTA” melainkan “SAYANG”. Aku baru
menyadarinya sekarang.
Kini aku sendiri mearajut kebahagiaan hidup dengan masih melakoni rutinias menjadi pelajar. Dia sudah pergi dari hidupku tanpa kenangan kita.
Kini aku sendiri mearajut kebahagiaan hidup dengan masih melakoni rutinias menjadi pelajar. Dia sudah pergi dari hidupku tanpa kenangan kita.
Dahulu
hubungan yang aku jalani begitu membingungkan.
Dia
selalu datang sepulangku sekolah. Menungguku.
Responku
“Menghindaarinya”.
Tujuanku
satu : Menjauhkan diriku dan dirinya dari DOSA.
2 orang
berlainan jenis yang bukan mahram sewajibnya tidak dalam tempat yang sama dan
dalam waktu sama. Tujuanku sedikit menyimpang dari fikirannya. Bertubi-tubi
kemarahannya tertumpah di SOSMED.
Entah dia menilaiku “Menghindari” bahkan “Membenci”. Namun satu yang menjadi alasanku dahulu menjawab “Kita Jalani saja”, untuk membuatku dengannya saling membangun diri, memotivasi, dan mengingatkan dalam kebaikan. Bukan untuk berduaan bersama bahkan saling sentuh.
Terkadang aku merasa kasihan dengan diriku sendiri, setan-setan membisik ‘Kamu gak usah sok alim’ atau ‘Kamu jangan fanatik sama agama’ bahkan bertubi bisikan yang menggemaskan kemarahanku.
Namun prinsipku kepada- Nya tidak akan pupus. Akan selalu terlaksana.
Aku hidup didunia ini hanya untuk mengabdi kepadanya. Aku tunduk dan rendah diri dihadapannya. Aku harus berpaling dari kefanatikan dunia ini yang penuh dengan godaan syaiton yang terkutuk.
Aku
sadar. Bahkan sangat sadar.
Urusanku
akan aku pertanggungjawabkan nanti disana. Aku akan diadili oleh – Nya.
Aku
sangat bahagia, ketika bisa menangis dihadapan- Nya dengan melepas kefanaan
dunia ini termasuk dia yang senantiasa membuatku terus menyesal. Detik ini,
penyesalan itu harus aku akhiri. Ya.. karena Allah-lah, dia dahulu bisa berjumpa
dneganku. Maka dari itu aku juga harus melepaskannya karena Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar