5 Kesalahan dalam Mendidik Anak
Kita harus
menyadari bahwa dipundak kita lah sebagai tumpuan awal dalam mendidik anak-anak
suami kita. Kita harus menyadari bahwa kitalah yang pertama berinteraksi dengan
anak yang kita lahirkan.
Kedekatan ini semakin tidak mungkin dihindari disaat
anak mulai tumbuh kembang. Saat itulah buah hati mulai melihat segala aktifitas
kita. Namun ternyata, dalam mendidik buah hati ini masih banyak pola didik yang
luput dari perhatian Sahabat Muslimah atau bahkan salah dalam menentukannya.
Beberapa pola didik yang kurang tepat namun sering terjadi dalam kehidupan kita
yaitu :
1. Tidak Bertahap
Sering dari Sahabat Muslimah merasa kewalahan disaat
mendidik anak. Mungkin disebabkan kurangnya kesabaran atau lemahnya dalam
memberikan argumentasi, saat menanggapi pertanyaan anak yang seolah-olah tidak
mengenal tanda titik. Dan sebagian besar dari orang tua menggunakan jurus
pamungkas, yaitu memaksa anak ini memahami apa yang difikirkan orang itu.
Sebenarnya, bila ini terjadi justru memperparah keadaan. Mungkin kita pernah mendengar
kalimat :
"Dik... Mainan itu mahal..." atau mungkin
bila seorang ibu yang Islami akan mengungkapkan " Ya Alloh Dik.... Mainan
itu harganya mahal lho...".
Mungkin sekilas kalimat ini tidak salah. Namun kita
harus memahami bahwa uang itu urusan orang tua, bukan urusan anak. Mungkin
kalau anak sudah mengenal bahasa gaul akan mengatakan "Maksud lhoooh...
Emang gue pikiran".
Maka dalam mendidik anak, kita harus menggunakan pola
cerna dan sudut pandang dari anak. Kita harus memiliki kemampuan membaca ini. Sesungguhnya
pendidikan adalah tindakan praktis. Dan tindakan praktis ini memerlukan
kekuatan mental. Adapun kekuatan mental sangat memerlukan kemapanan dalam
mengatur kesabaran yang jauh dari emosi dan marah. Karena sesungguhnya Alloh
telah mengingatkan kita untuk lebih mengedepankan kesabaran dan membuang
jauh-jauh emosi.
وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ
الْأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya
(perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan
(QS Asy Syuro:43)
Sesungguhnya, emosilah yang menjadikan kita akan lemah
dalam memahami anak. Emosilah yang akhirnya mengakibatkan kurangnya kesabaran
saat menghadapi buah hati. Kurangnya kesabaran ini, sebagai cikal bakal dari
sebab lemahnya orang tua untuk memaklumi keadaan anak. Kita harus memahami
bahwa pola perkembangan anak haruslah bertahap mengikuti kemampuan anak itu
sendiri, utamanya dalam meniru dan mencerna segala yang ada disekitarnya.
2. Tidak Memperhatikan Perbedaan
Walaupun anak itu berasal dari satu ibu dan satu
bapak, namun janganlah berharap anak akan sama. Pengalaman kami sendiri yang
baru memiliki enam anak, sangat merasakan perbedaan tersebut. Dari kebiasaan
bangun tidur, lauk kesukaan, cara menghafal bahkan cara membangunkan diwaktu pagi
pun berbeda-beda. Dari perbedaan ini, pastilah memerlukan sikap yang berbeda
pula.
Maka merupakan kesalahan besar bila ada anggapan bahwa
semua pola didik sesuai untuk semua anak. Apa lagi bila berkaitan dengan
hukuman. Sebagian anak ada yang acuh terhadap kesalahan yang ia lakukan, namun
sebagian yang lain mungkin sudah memahami kesalahan disaat kita lirik, atau
bahkan ada anak yang belum memahami akan kesalahannya bila belum mendapatkan
hukuman. Maka Sahabat Muslimah harus mampu memahami potensi anak dan
berinteraksi dengan cara yang sesuai dengan potensi anak tersebut.
3. Tidak Memberi Perhatian yang Sama
"Memahami atas perbedaan yang dimiliki anak bukan
berarti tidak memberi perhatian terhadap anak sama rata". Inilah pola
didik yang keliru dan merusak pendidikan. Disaat kita membahas tentang
perhatian yang tidak sama, maka kita harus mengingat nasehat Rosululloh
Sholallohu Alai Wasallam "Bersikap adillah kepada semua anak kalian".
Beliau mengulang ungkapan ini sampai tiga kali.
Perhatian yang dimaksud dalam Islam dalam mendidik
yaitu sesuatu yang berhubungan dengan perhatian dan kasih sayang. Namun
kesamaan perhatian tidaklah mungkin sama dalam hal yang berhubungan dengan
wujud. Karena antara anak laki-laki dan perempuan pasti ada perbedaan. Perhatian
kita dalam memperingatkan antara anak laki-laki dan perempuan dalam menjaga
aurot sangat berbeda jauh.
Maka Sahabat Muslimah harus memahami bahwa dalam
mendidik anak harus kita jauhkan rasa berbeda dalalm hati terhadap anak yang
satu dengan anak lainnya. Walaupun kita sadari potensi anak itu berbeda.
Kontinuitas dalam mendidik anak yang cerdas, dengan anak yang belum memahami
pastilah berbeda pula. Maka adil dalam perhatian ini, harus kita sesuaikan
dengan keadaan anak itu sendiri, namun tidak sampai mempengaruhi rasa kasih
sayang yang terekspresi dalam perilaku.
Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas R.A, seorang
laki-laki duduk bersama Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam, kemudian datang
seorang anak laki-laki kepada orang tersebut, dia memeluknya dan mendudukkannya
di atas pangkuannya. Kemudian datang seorang anak perempuan lalu dia
mengambilnya dan mendudukkan di sebelahnya. Rasulullah kemudian bersabda
"Kamu telah bersikap tidak adil terhadap keduanya". Rasululloh
menganggap apa yang dilakukan laki-laki tersebut tidak adil karena perbedaan
perilaku yang dilakukan sebagai ekspresi kasih sayang terhadap buah hatinya.
4. Menegur dan Mencela
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum
dan kedudukan. Benar dan salah terungkap dengan jelas dalam kehidupan.
Kebenaran harus dijunjung setinggi-tingginya dan kesalahan harus difahami
sebagai sesuatu yang sangat membahayakan. Ini semua harus tercermin dengan
tegas saat kita mendidik buah hati.
Sekarang berkembang pola didik yang melarang menegur
anak dengan alasan karena saat itu anak sedang proses memahami lingkungan.
Sebagian lagi ada pola didik yang mengharuskan mengawali kata maaf saat menegur
anak.
Sahabat Muslimah...
Perlu kita tandaskan disini bahwa tegas bukan berarti
galak dan lembut bukan berarti penuh toleransi. Perlu kita ingat, dalam
penelitian terungkap bahwa lebih dari 70% ketidaknyamanan yang dialami manusia
saat ini, berakibat dari ketidakmampuannya untuk mengatakan TIDAK. walaupun
sebenarnya dirinya tidak suka. Basa-basi itu berbeda jauh dengan akhlaq yang
santun.
Kalau kita menengok bahasa terindah di kolong langit
yaitu bahas Al-Qur'an, Alloh telah mengajarkan dalam menyampaikan hukum begitu
jelas, tanpa basa-basi namun tetap sejuk kita rasakan.
Maka menegur itu sangat penting, akan tetapi mencela
harus kita buang kelaut. Maka disaat kita menegur, harus kita lihat mental anak
serta situasi saat itu. Jangan sampai saat kita menegur namun terbaca dihadapan
anak sebuah celaan. Sebagai ukuran yaitu perubahan. Ya... Perubahan. Disaat sudah
muncul ekspresi maupun tindakan sebagai bentuk pemahaman atas kesalahan yang
dilakukan, maka DILARANG MENEGUR KEMBALI, karena bila itu dilakukan akan
terbaca sebagai celaan dihadapan anak. Bila ini terjadi bisa menimbulkan trauma
yang berakibat pada rusaknya mental anak.
5. Jarang Memuji dan Sering Menghukum
Kita punya anak pasti juga sudah memiliki gambaran
terhadap anak itu sendiri. Karena orang tua pasti memiliki tujuan dalam
mendidik anak. Namun dari idealis sebagai harapan orang tua terhadap anak,
jarang dibarengi dengan pujian, kecupan, pelukan ataupun senyuman. Sebagian
besar orang tua akan segera bertindak dengan memberikan hukuman terhadap anak
yang melakukan kesalahan, namun bersikap wajar disaat anak melakukan sesuatu
yang terpuji. Bahkan kita mendapatkan angka yang mencengangkan saat mengkaji
tentang bagaimana orang tua memberikan hukuman terhadap anak. Dari semua
ummahat yang kita bina, ternyata empat puluh tiga persen dari mereka dalam
memperingatkan anak sampai pernah mengusir dari rumah
(Eit... Jangan salah
faham ya... Ini terjadi sebelum para ummahat tersebut mengikuti kajian
lhoh...). Astaghfirulloh... Semoga ini tidak terjadi terhadap Sahat Muslimah.
Memberi hukuman sangatlah penting. Namun bentuk
hukuman apapun harus dikomunikasikan dengan anak terlebih dahulu, sehingga anak
memahami bahwa hukuman itu ada sebagai konsekuensi atas kesalahan yang
dilakukan. Di sisi lain, kita harus mengemas hukuman tersebut haruslah sesuatu
yang bernilai pendidikan pula. Mungkin dengan mencuci piring, menulis karang
atau membaca Al-Qur'an satu halaman.
Sahabat Muslimah...
Lima hal inilah yang sering terjadi dalam rumah tangga
saat mendidik buah hati. Semoga Alloh senantiasa memberikan kemampuan untuk
mendidik putra-putri kita sehingga berkembang menjadi pribadi muslim yang
hebat. Semoga Alloh memberikan istiqomah tetap dalam kesabaran dan kecerdasan
kepada kita dalam mendidik putra-putri kita. Aamiin...
sumber :
http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/10/16/33427/voaislamic-parenting-29-5-kesalahan-ini-harus-ditinggalkan-oleh-para-ibu-dalam-mendidik-anak/#sthash.NxsY2Zj7.dpbs

Tidak ada komentar:
Posting Komentar