Anak-anak Masa Lalu
".. Dulu, bila ada yang kesurupan,
Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni
Sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba
kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. .."
BILA tidak ingin celaka, jangan melintas
di Jembatan Sinamar pada waktu-waktu lengang, apalagi tepat di saat
berserah-terimanya ashar dan magrib! Bukankah begitu sejak dulu, petuah para
tetua, perihal jembatan yang tak pernah lekang dan usang itu? Namun,
sebagaimana titian biasa runtuh, pantangan biasa dilanggar, bukankah pula, dari
masa ke masa, selalu ada gerombolan anak-anak kampung ini, yang diam-diam
hendak menyingkap rahasia tersuruk di sebalik pantang dan larang yang terus
dimaklumatkan ?
Maka, dengan segelimang gamang yang
tak ditampakkan, mengendap-endaplah bocah-bocah kerempeng itu, tepat pada waktu
terlarang. Mula-mula, sayup-sayup terdengar jerit dan rintih anak-anak seusia
mereka, bagai sedang didera rasa sakit yang tak tertanggungkan. Seiring rembang
petang, makin terang kedengarannya, hingga mereka memercayai suara gaib yang
membuat bulu kuduk meremang itu berasal dari lantai Jembatan Sinamar. Menimbang
keriuhan yang kian meninggi, rasa-rasanya asal jerit-rintih itu bukan dari satu
orang, mungkin dua atau tiga. Lalu, di benak mereka, terbayang jasad anak-anak
yang terjepit dalam jejaring beton bertulang. Mereka lekas berbalik, lari
pontang-panting, seperti benar-benar sedang diburu hantu petang hari.
Dua hari selepas petang itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu per satu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua penambang pasir Sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba.
Dua hari selepas petang itu, Tongkin turun tangan. Sebab, Alimba, salah satu dari gerombolan anak-anak pelanggar pantang itu kesurupan. Ia mencak-mencak, lalu membanting barang-barang pecah-belah di rumahnya. Beling dari piring yang berserak di lantai, satu per satu ia kunyah, seperti mengunyah keripik singkong, hingga berderuk-deruk di tenggorokannya. Lantaran tingkah Alimba makin liar, dua penambang pasir Sungai Sinamar meringkusnya, hingga ia menghentak-hentak sambil mengeluarkan pekik yang membuat pedih gendang telinga. Tongkin, dukun pilih tanding, mengerahkan segenap kesaktian, guna merenggut makhluk halus itu dari jasad Alimba.
”Rumahku di sini, di kampung ini,
bukan di Jembatan Sinamar!” ancam Alimba, dengan tatap bengis.
Tongkin tak peduli gertakan itu.
Mulutnya terus komat-kamit, melafalkan mantra-mantra.
”Kau tak akan sanggup mengusirku,”
bentaknya lagi.
Sesaat Tongkin mundur, ia
memperkokoh posisi duduknya. Rupanya ia sedang berhadapan dengan lawan
bersengat.
”Siapa kau sebenarnya?” tanya
Tongkin dengan napas terengah-engah.
”Jangan pura-pura tidak tahu! Aku
salah satu dari tiga anak yang kepalanya dibenamkan di lantai Jembatan
Sinamar.”
Orang-orang terperangah. Tongkin
menghela napas dalam-dalam. Tak biasanya, roh jahat yang merasuk ke dalam tubuh
kasar mengungkap asal-muasalnya. Sesaat kemudian, Alimba tumbang, lalu pingsan.
***
Dulu, bila ada yang kesurupan,
Tongkin selalu berkilah bahwa makhluk halus yang merasuk hanyalah penghuni
Sungai Sinamar yang terusik sejak pembangunan jembatan. Namun, setelah Alimba
kerasukan, rahasia Jembatan Sinamar mulai tersingkap. Tongkin membenarkan bahwa
riwayat usang tentang pemenggal kepala bukan cerita bohong. Kekejaman pemenggal
kepala yang telah menjadi kabar petakut di Kampung Subarang, ternyata bukan
sekadar dongeng pengantar tidur bagi anak-anak malas yang lebih banyak bermain
gundu ketimbang membantu orang tua di ladang. Mulai dari ibu-bapak Alimba,
tetangga-tetangga dekat hingga tersiar ke seluruh penjuru kampung, Tongkin
membeberkan bahwa jika Jembatan Sinamar hanya dipancangkan dengan beton-beton
bertulang, menimbang usianya yang sudah uzur, tentu sudah rubuh. Namun, tiga
kepala yang dibenamkan bersama adukan cor, telah membuatnya bagai tiada pernah
lekang dimakan usia. Saat gempa dahsyat memporak-porandakan rumah-rumah warga
Kampung Subarang, Jembatan Sinamar jangankan runtuh, terguncang pun tidak.
Tiang-tiangnya masih menancap kokoh, apalagi lantainya, meski setiap hari truk
pasir bermuatan sarat lalu-lalang melintasinya. Dan, itu sudah berlangsung
selama bertahun-tahun.
Di masa lalu, Kampung Subarang
pernah gempar lantaran kehilangan tiga bocah laki-laki, sepulang menonton
pacuan sapi, tak jauh dari tepian Sungai Sinamar. Mereka dikabarkan hanyut saat
menyeberangi sungai itu. Begitu hasil penerawangan batin para dukun yang
melacak keberadaan mereka. Berhari-hari Sungai Sinamar diselami, dari hilir
hingga hulu, tapi mayat mereka tak ditemukan. Setelah semua daya-upaya
dilakukan, akhirnya ketiga orang tua anak-anak yang hilang tak jelas rimbanya
itu memercayai bahwa mereka telah diculik orang bunian. Tidak meninggal
sebagaimana yang diperkirakan, tapi mustahil kembali, karena mereka sudah
terhisap ke dalam alam halus. Orang-orang Subarang merelakan tiga bocah itu
menjadi anak-anak masa lalu yang tak pernah lagi diungkit-ungkit riwayatnya.
Padahal, mereka tergoda oleh
iming-iming dua lelaki asing namun berperawakan ramah dan baik hati. Mereka
dibujuk dengan ajakan menonton pertunjukan kelompok sirkus yang waktu itu
sedang manggung di kota kabupaten. Dua lelaki itu mengendarai mobil bak, dan
sudah pasti mereka akan dibolehkan bergelantungan di mobil itu. Pengalaman yang
mahal untuk ukuran anak-anak Kampung Subarang masa itu.
Namun, sebelum sampai di kota, di
sebuah tempat lengang, mobil tiba-tiba berhenti. Salah satu dari dua lelaki
asing turun, mendekati tiga bocah yang sedang asyik bergelantungan.
”Sebelum masuk ke arena sirkus,
kalian harus pakai ini,” katanya, sembari membagikan topi warna hijau.
Sekilas topi itu mirip lackpet
yang biasa dipakai tentara zaman dulu. Bila cuaca dingin, dua sisi bawahnya
dapat dikancingkan di dagu. Sementara di sisi belakang, yang bersentuhan
langsung dengan kuduk, menyembul dua ujung kawat halus sepanjang empat senti.
Kawat baja itu tersembunyi di dalam kain yang akan melingkari leher.
”Arena sirkus akan ramai pengunjung.
Topi itu memudahkan kami mencari kalian, begitu pertunjukan usai.”
”Bila tidak, kalian bisa hilang
dalam keramaian.”
Mereka bergegas menyarungkan topi di
kepala masing-masing, dan memasang kancing di bawah dagu. Ada yang berdetak di
kuduk, bunyinya seperti gembok yang terkunci, hingga leher mereka bagai
tercekik. Anak-anak yang telah masuk perangkap diminta turun. Mereka tidak
membantah lantaran tenggorokan yang tersekat, sementara topi tidak bisa dibuka
lagi. Dengan posisi menyilang dua lelaki itu menyentakkan kawat baja di kuduk
anak-anak itu. Seketika kepala mereka lepas dari badan. Nyaris tak ada pekikan.
Penyembelihan yang dingin. Lebih lekas dari menggorok leher sapi. Tiga topi
berisi kepala menggelinding di dalam mobil bak, segera diserahkan kepada
pimpinan proyek pembangunan Jembatan Sinamar.
***
Setelah meraih gelar insinyur dengan
predikat cum laude dari sebuah universitas ternama di Jawa, belasan
tahun lalu, Alimba memang belum pernah pulang. Namun, sosoknya seumpama
layang-layang yang sedang tegak-tinggi tali. Jauh, namun tampak dekat. Dekat,
tapi tampak jauh. Selalu ada yang berkabar bahwa di tanah Jawa, insinyur
Alimba, telah menjadi pemborong besar, utamanya dalam proyek pembangunan jembatan
layang. Kualitas konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan milik Alimba telah
teruji. Tiga dari lima tender proyek jembatan layang selalu dimenangkan PT
Sinamar Jaya Karya. Tak terbayangkan, Alimba bocah kerempeng dari Kampung
Subarang, terlahir dari keluarga susah, kini menjadi kontraktor dengan reputasi
tak tertandingi, bahkan konstruksi jembatan karya para insinyur tamatan luar
negeri tak sanggup mengimbangi karya-karyanya.
Kalaupun ada kelemahan Alimba, itu
hanya soal suara-suara gaib yang menyeruak dari setiap jembatan yang pernah
dibangunnya. Tepat di saat bertimbang-terimanya ashar dan magrib, akan
terdengar jerit dan rintih anak-anak yang seolah-olah sedang terjepit di dalam
jejaring beton bertulang. Siapa yang melintas pada waktu terlarang itu, bakal
celaka. Bila tidak tabrakan beruntun, setidaknya kendaraan terguling lantaran
kecepatan yang tak terkendali. Sejauh ini sudah tak terhitung jumlah korbannya.
”Pasti ada yang tidak beres! Mesti
diungkap. Bila kita tidak ingin terus kalah tender,” begitu sinisme seorang
pesaing Alimba.
”Bagaimana cara membuktikan
setan-setan jembatan itu?” tanya anak buahnya.
”Alimba terlalu kuat. Sekuat
konstruksi jembatan hasil karyanya.”
”Ah, apalah guna mutu, bila setiap
bulan selalu menagih darah?”
***
Bila di masa lalu, Subarang heboh
karena kehilangan tiga bocah laki-laki yang telah direlakan menjadi anak-anak
masa lalu, kini kampung itu kembali gempar setelah TV dan koran-koran
menayangkan kabar tentang seorang kontraktor proyek jembatan layang yang diduga
sebagai otak di balik penemuan potongan-potongan tubuh mayat yang belakangan
ini telah meresahkan. Dikabarkan, buronan bernama Alimba itu telah membenamkan
ratusan butir kepala anak-anak jalanan di dalam jejaring beton bertulang,
sebagai tumbal demi kekokohan konstruksi setiap jembatan yang dibangunnya.
Orang-orang suruhan Alimba berkhianat, dan menyebarkan jasad-jasad tanpa kepala
di setiap penjuru kota, hingga reputasi PT Sinamar Jaya Karya tak
terselamatkan.
Dari kejauhan, orang-orang Subarang
berdoa semoga Alimba, si pemenggal kepala, beroleh tempat bersembunyi yang
tidak bakal terlacak siapa pun. Betapapun sadisnya perbuatan Alimba, ia telah
menghidupi anak-anak muda yang dulu hanya pemadat jalan di Kampung Subarang,
kini menjadi orang-orang yang beruntung di perantauan. Alimba menampung dan
mempekerjakan mereka.
”Ini salah Tongkin,” umpat salah
seorang tetua Kampung Subarang.
”Tongkin sudah mati. Ia jangan
dibawa-bawa!”
”Bukankah Tongkin yang membeberkan
cerita tentang pemenggal kepala, dan Alimba mengambil pelajaran dari situ?”
Daruih, dukun muda pewaris kesaktian
Tongkin, menyanggah. Baginya, kabar yang telah menjadi aib Kampung Subarang
bukan salah Tongkin, bukan pula Alimba, tapi ulah salah seorang dari anak-anak
masa lalu, tumbal Jembatan Sinamar. Arwah yang pernah merasuki Alimba semasa
kanak-kanak tak sungguh-sungguh pergi, hingga kini bahkan masih bersarang di
tubuh insinyur hebat itu. Ia melunaskan dendam lewat tangan Alimba…
cahaya titis, 2010
*) Damhuri Muhammad , cerpenis, bermukim di Jakarta
Sumber :
http://cerpenasik.wordpress.com/2010/06/20/anak-anak-masa-lalu/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar